Friday, January 23, 2009

Slumdog Millionaire

Saya curiga, ada hubungan antara geoekonomipolitik dengan penilaian seni.

Saya tidak tahu sejak kapan orang barat (Amerika khususnya) menganggap negara-negara Asia, yang pernah (dan masih) mereka sebut barbar itu, eksotik. Menurut pengetahuan saya yang terbatas ini, negara atau kawasan yang dibilang eksotik itu berubah sesuai "gaul" tidaknya negara tersebut di ekonomi politik internasional.

Seingat saya dulu pemilihan Miss Universe (kalau beauty pageant dianggap seni:p) didominasi oleh pemenang dari Amerika Latin (bukan karena negara-negara sono kuat secara ekonomi, tapi saya rasa cuma karena dekat dengan Amerika dan merupakan lahan bisnis Amerika sejak jaman kapan tau). Lalu tahun 2000something, tahu-tahu Miss China jadi runner-up Miss Universe, dan tahun 2007 Miss Japan jadi Miss Universe. Gadis oriental pertama yang jadi Miss Universe. Walaupun Cina dan Jepang sudah lama dianggap saingan oleh Amerika, tapi toh kemajuan Cina di awal abad ini membawa dunia pada tingkat ketercengangan yang baru akan si tirai bambu. Apa gara-gara itu peringkat Mis China dan Miss Japan jadi maju begitu? Call me cynic, tapi kuat kecurigaan saya bahwa terpilihnya Artika Sari Devi tahun 2005 dalam 15 besar, yang sebelumnya gak pernah dicapai Indonesia, erat kaitannya dengan tsunami tahun 2004 yang "mengharumkan" nama Indonesia itu.

Enough with beauty pageant. Mari kita menuju seni yang sebenarnya. Sutradara Inggris terkenal Danny Boyle membuat film tentang orang miskin di India yang tiba-tiba memenangkan kuis Who Wants to be a Millionaire, Slumdog Millionaire. Tokohnya, lingkungannya, semuanya India. Kalau Anda belum tau, Slumdog Millionaire masuk nominasi Oscar sebagai Best Picture dan telah memenangkan Golden Globe dalam kategori yang sama.

Tentu saja, cerita berkisar tentang kehidupan yang tidak biasa di negara maju; anak yatim piatu miskin, pengemis terorganisasi, dan tidak lepas dari daerah kumuh India yang mulai tergusur gedung-gedung tinggi akibat pertumbuhan ekonomi. Yap, dari segi pertumbuhan ekonomi, India memang sedang memesona. Tidak tanggung-tanggung, India merupakan arriviste terbesar setelah Cina. Calon saingan nomor 2 Amerika.

Selain nominasi film terbaik dan sutradara terbaik, soundtrack Slumdog Millionaire (dengan musik dan bahasa India) masuk nominasi Best Song dan Best Score. Kalau saya ingat, lagu-lagu itu terdengar sama seperti lagu-lagu India lainnya, dan kalau boleh memilih saya akan memenangkan saingan lagu-lagu itu yaitu Down to Earth-nya Peter Gabriel dari film Wall-E (memang satu-satunya musik klasik yang saya bisa tahan ya soundtrack film kartun. beethoven? aduh, not in the near future deh). Album OST - Wall-E cukup lama nongkrong di MP3 player saya.

Bagaimanapun, saya tidak hendak memprotes nominasi ataupun kemenangan Slumdog Millionaire di Oscar atau Golden Globe. Nonton film ini benar-benar tidak rugi. Film ini seperti menceritakan kemiskinan dengan humor sinis. Pun, soundtrack Slumdog yang terdengar eksotik di telinga barat itu diciptakan oleh musisi yang sudah mendapat pengakuan di India; A.R Rahman.

Derita rakyat bawah yang digambarkan di film ini tidak asing di Jakarta, tapi mungkin baru bagi kawan di belahan utara sana, yang mulai membuka mata pada calon saingannya. Dan walaupun adegan dan skenario film sudah terlihat kebarat-baratan, sutradara tidak menghilangkan karakteristik film India sepenuhnya. Adegan seperti bintang pria berlari-lari dengan kancing kemeja terbuka dalam slow motion dan tarian dua sejoli dengan puluhan penari di latarnya diiringi lagu India gak hilang kok, cuma digeser ke adegan penutup. Pertanda si sutradara Inggris tidak mau menghilangkan pengaruh seni lokal. So, welcome to the great power club, India!