Showing posts with label amateur's opinion. Show all posts
Showing posts with label amateur's opinion. Show all posts

Sunday, December 4, 2011

Beckham, Before Sunrise, dan Dunia Pra-Internet

Apa hubungan David Beckham dengan film Before Sunrise? Keduanya sama-sama jaya pada akhir tahun 1990-an. Mengingatkan saya akan romantisme dunia yang belum begitu terintegrasi secara global seperti sekarang.

Jadi ceritanya begini, di film Before Sunrise, bertemulah dua anak manusia, Jesse dari Amerika dan Celine dari Prancis. Mereka bertemu di kereta, turun di Vienna, dan menghabiskan malam yang romantis di sana, salah satu kota tercantik di Eropa. Cinta pada pandangan pertama, ceritanya. Film ini isinya cuma ngeliatain mereka ngobrol sambil berjalan di jalanan Vienna. Kalau kalian suka film komedi romantis yang mana antiklimaksnya adalah adegan seseorang berlari-lari di airport mengejar pujaan hatinya, dan ternyata, surprise! si pujaan hati sudah turun pesawat duluan dan memilih tidak jadi berangkat demi cintanya, maka bukan film ini tempatnya. Kekuatan film ini adalah obrolan yang witty dan komentar-komentar cerdas tentang tempat-tempat indah di Vienna. Obrolan inilah yang bikin penonton terbuai mimpi akan bertemu cowok/cewek idaman yang kebetulan nyambung banget ngobrolnya padahal baru kenal!

Di bagian akhir ketika harus berpisah, mereka janjian untuk ketemu lagi beberapa bulan kemudian di Vienna. Tapi mereka memutuskan untuk tidak saling bertukar alamat dan nomor telepon, karena takut kontak jarak jauh tidak akan seindah malam mereka di Vienna dan akhirnya hanya menjadi kewajiban basa-basi dan pada akhirnya rusaklah kenangan malam indah itu.

Begitulah akhir film itu. Tapi si sutradara rupanya terlalu terpesona dengan film ini. Begitupun kedua aktor, sehingga mau saja membuat sekuelnya; Before Sunset. Tindakan yang dianggap bodoh karena sekuel hanya milik film-film box office, sedangkan yang kenal film Before Sunrise hanya segelintir orang (saya pun baru menonton keduanya di tahun 2006, sebelas tahun setelah film pertama, dan dua tahun setelah film sekuelnya). Di film kedua ini, ceritanya mereka ketemu lagi 9 tahun kemudian, di mana Jesse sudah menjadi penulis dan sedang menghadiri pembacaan bukunya di Paris. Ia bisa sampai di Paris karena selain buku itu cukup laris, isinya bercerita tentang “semalam yang indah di Vienna bersama seorang cewek Prancis.” Setelah acara, ia mengobrol dan berjalan lagi dengan Celine (adegan yang sama seperti film Before Sunrise, bedanya kali ini di Paris). Di situ terkuak cerita bahwa 9 tahun lalu, Celine batal ke Vienna karena neneknya meninggal di minggu yang sama mereka janjian, dan karena ia tidak bisa menghubungi Jesse, Jesse yang termangu sendirian di Vienna berusaha meyakinkan hatinya bahwa Celine pastilah punya alasan yang bagus untuk itu.

Kemudian muncullah pengakuan mengejutkan Jesse: “You want to know why I wrote that stupid book? So that you might come to a reading in Paris and I could walk up to you and ask, “Where the fuck were you? I’m serious. I think I wrote it, in a way, to try to find you.”

Alangkah romantisnya dunia sebelum ada ponsel dan internet. Berpisah dengan seseorang tanpa memberinya alamat dan nomor telepon, berarti sangat kecil kemungkinannya bertemu lagi. Untuk menemukannya, kita harus menulis buku tentang si orang bersangkutan, yang harus cukup terkenal sehingga si orang tersebut juga baca dan kalau ada acara pembacaan buku di kota orang tersebut, akan ada pengumumannya di media sehingga dia akan datang. Tindakan yang gak praktis di masa sekarang karena begitu jatuh cinta pada seseorang, kita akan segera mencari namanya di Google.

Ini cuma contoh di film tentu saja. Di dunia nyata, lebih parah lagi. Angkatan saya, yang lahir di awal tahun 80-an, mungkin adalah generasi terakhir yang merasakan dunia tanpa ponsel dan internet di masa remaja. Masa remaja yang baru-baru ini keingat lagi gara-gara kunjungan idola wanita dan penonton bola sejagat, David Beckham, ke Jakarta.

Alkisah, dahulu kala waktu saya masih SMA, saya punya dua sahabat dekat kat kat. Entah siapa yang memulai, tau-tau kami bertiga hobi banget nonton bola, sampai kami bertiga didaulat jadi hanya tiga anggota cewek di ekskul sepakbola. Kami gak main bola, tentu saja. Klubnya belum terlalu canggih untuk memfasilitasi sepakbola perempuan. Tapi kami bertanggung jawab di bagian administrasi; bikin jadwal pertandingan antar kelas, megang duit, dsb, yang mungkin juga tidak seberapa. Peduli amat, bagi kami itu sudah pengakuan bahwa kami adalah pencinta sepakbola sejati dan nonton bukan buat ngecengin pemain saja.

Tapi kalo dilihat idola masing-masing, emang kagak ada yang jelek sih. Hesty mengidolakan Beckham. Seantero sekolah juga tau. Rika ngefans sama Maldini (seleranya yang tua-tua gitu hahaha). Saya? Inzaghi. Gak terhitung kerasnya usaha saya menangkis berjuta ledekan tentang offside. Tapi itu pun juga gak kalah dengan hobi kami ngumpulin pernak-pernik sang idola, berikut tim kesayangan. Sebagian besar sih cuma poster, yang didapat dari tabloid atau majalah. Ini pun sudah ada spesialisasinya. Hesty selalu beli tabloid Bola. Saya beli majalah Liga Italia, kalo gak salah. Karena saya emang gak tertarik amat nonton liga-liga yang lain. Orang tua kami jelas sudah misuh-misuh, kenapa kamar anak gadisnya penuh dengan poster pemain bola.

Pada suatu hari, datanglah ulang tahun Rika. Hesty punya usul, ngadoin foto asli Maldini. Foto asli? Hihihih. Maklumlah cuuyy, dulu gambar-gambar idola kan cuma ada di poster dan majalah atau koran. Kalau seseorang punya foto asli idolanya, itu berarti dia udah pernah ketemu langsung, atau bapaknya orang kaya, bisa minta foto ke manajernya. Jadi gimana caranya ngedapetin foto Maldini? Hesty pernah baca di surat pembaca Bola, bagi penggemar yang minta foto asli pemain-pemain yang pernah dimuat di Bola, tinggal kirim surat ke redaksi dan bayar sejumlah uang yang gak seberapa, lalu mereka akan mengirim foto aslinya. Dan begitulah, Rika surprise bukan kepalang dan langsung ngasih unjuk foto itu ke semua orang di rumahnya. Hihihih lutunaaa :D

Waktu ulang tahun Hesty, saya dan Rika kehabisan ide kado dan memutuskan untuk balas jasa saja (dasar gak kreatip). Jadi kami putuskan untuk membeli salah satu foto Beckham ke Bola. Susahnya mengidolakan atlet, harus nyari foto ketika mereka lagi diam biar keliatan gantengnya. Dan pilihan kami jatuh pada Beckham yang lagi berlutut mau berdiri. Tapi kami lagi sial. Dalam foto asli Beckham yang ganteng itu ternyata dia enggak sendiri, ada sebagian badan pemain lain, yang berarti ketika dipajang di Bola, tu foto udah digunting duluan. Waduh. Kalo digunting, fotonya jadi lebih kecil dong. Maka terpaksalah kami serahkan foto itu ke Hesty sebagaimana adanya. Biar dia yang mutusin, fotonya mau digunting apa enggak.

Soal gunting-menggunting ini gak akan bermasalah di dunia digital dan internet. Ohya maap, di dunia digital itu namanya nge-crop. Tapi kalo dipikir-pikir, kalo dulu udah ada internet, nggak mungkin juga ngadoin foto asli idola. Kan bisa diunduh dan dicetak di mana-mana.

Maka ketika Beckham sampai di Jakarta, ia sudah terlalu tua untuk menarik pencinta sepakbola, termasuk (mantan) fans beratnya seperti Hesty yang sedang sibuk-sibuknya meniti karir menjadi dokter spesialis yang menjanjikan. Dia gak punya waktu lagi untuk menonton idolanya di GBK, bahkan udah gak semangat buat ngusahain datang.

Saya cukup miris juga. Mengingat sepak terjang kami dulu tanpa bantuan internet. Tapi toh kalo dipikir-pikir, saya pun belum tentu akan bela-belain nonton Inzaghi kalo dia ke sini. Semoga bukan karena internet, yang telah menghilangkan romantisme korespondensi dan komunikasi “berbatas ruang dan waktu.” Romantisnya hidup tanpa mengoleksi foto idola dan videonya ketika lagi beraksi. Romantisnya mencari seseorang yang sudah lama hilang kontak, walaupun ketemunya harus bertahun-tahun kemudian, tanpa bantuan jejaring sosial dan mesin pencari. 

Sunday, October 16, 2011

Saya bisa bahasa… I speak… Je parle…

“Le francais? C’est facile! C’est interessant!” adalah mantra yang ditanamkan salah seorang professeure pada awal kursus. Tapi memasuki bulan keempat kursus yang berjadwal enam jam per hari lima hari per minggu, mantra itu mulai melemah sihirnya.

Masalahnya, berbahasa asing bukan cuma soal mengganti kata-kata dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa lain. Belajar bahasa asing juga berarti mengubah proses pemikiran (thought process) yang mencakup pembiasaan, otomatisasi, dan pengetahuan tentang kultur kelompok penutur bahasa bersangkutan. Bahkan ada dugaan kalau bahasa dapat mempengaruhi pola dan proses pemikiran.

Photo0154Saya sendiri sudah lupa bagaimana tepatnya perbandingan proses pemikiran antara dua bahasa. Yang jelas, ketika mempelajari bahasa hingga tahap pendalaman, kita akan dituntut untuk berpikir seperti pola pikir bahasa tersebut, atau pola pikir yang digunakan oleh si penutur bahasa. Misalnya, sewaktu mendalami bahasa Inggris, saya dituntut untuk selalu berpikir linear dan mengikuti tata bahasa yang kaku, di mana sebuah kalimat harus jelas mempunyai subjek, predikat, dan objek. Juga diusahakan untuk menghindari kalimat pasif, kalau gak perlu-perlu amat. Hal ini berlawanan dengan bahasa Indonesia yang sama sekali gak linear, dan tidak bermasalah dengan kalimat pasif. Contoh, kalau ada kalimat bahasa Indonesia seperti ini:

Pemerintah menganjurkan bagi penduduk di pinggir sungai untuk hidup bersih.

Maka biasanya Englishnya diterjemahin begini:

The government encourages the riverside residents to adopt healthy habits.

Strukturnya sama, ada subjek predikat objek. Tapi bahasa Inggris nggak berlu kata bagi, karena objek yang dituju pastilah yang setelah kata kerja encourage. Dalam bahasa Indonesia pun, kalimat itu akan baik-baik saja tanpa bagi, tapi toh kebanyakan orang tetap memakai bagi. Tanya kenapa???

Saya ganti hidup bersih dengan adopt healthy habits karena dalam bahasa Indonesia, hidup bersih yang bisa bermakna luas itu cukup jelas jika berkaitan dengan konteks, bahwa masyarakat pinggir sungai gak biasa hidup bersih, maka dianjurkanlah hidup bersih; sedangkan bahasa Inggris seringkali perlu kata kerja yang lebih spesifik seperti adopt untuk menjelaskan bahwa tradisi hidup bersih yang tadinya tidak ada itu harus segera dimulai (adopt).

Photo0157Maapkeun kesotoyan saya :D Tapi saya punya alasan untuk mengulas begini. Terbukti dari seringnya digunakan kata kerja berbeda untuk ungkapan yang sama. Misalnya seperti judul di atas. Saya bisa bahasa Indonesia. Tapi I speak English atau Je parle francaise. Kenapa bukan Saya berbicara bahasa Indonesia atau I can speak English atau Je peux parler francais? Karena dengan menggunakan bisa untuk bahasa Indonesia sudah pasti maksudnya bisa berbicara. Karena dengan menggunakan speak dan parler ya berarti udah can speak dan peux parler dong. Jadi siapa yang bego yaa.

Jadi jangan heran kalo dalam belajar bahasa selalu dituntut untuk berpikir dalam bahasa tersebut, bukan berpikir dalam bahasa Indonesia lalu menerjemahkan kata per kata. Cara ini bakal bermanfaat buat mengatasi masalah-masalah yang paling nyebelin, paling menantang, dan paling aneh dari belajar bahasa semacam ini:

  • Kata-kata yang gak ada padanannya. Contohnya; memang. Apa coba bahasa Inggrisnya memang? Yang bisa dilakukan cuma menekankan ayunan pada verbanya. He iiisss intelligent. She iiisss smart. Bahasa Inggris yang kaku dan linear itu bisa hidup tanpa memang. Sebaliknya, bahasa Indonesia gak punya kata-kata spesifik seperti commute dan procrastinate. Tampaknya bahasa Indonesia kaya dengan kata-kata penghubung dan kata sambung seperti memang, tapi belum mempunyai kata kerja yang cukup detail, sehingga harus menjelaskan dalam beberapa kata untuk mengartikan commute: perjalanan panjang yang biasa ditempuh dari rumah ke tempat kerja; dan procrastinate: kebiasaan menunda pekerjaan hingga kepepet deadline.
  • Ngomong-ngomong soal kata yang detail, hal inilah yang bikin belajar bahasa asing itu susah. Banyak vocabulary baru, yang sebenarnya dalam bahasa ibu artinya sama aja. Misalnya gini, dalam bahasa Indonesia, khianat itu rata-rata berfungsi buat berbagai bentuk pengkhianatan. Pengkhianat cinta, pengkhianat kelompok, pengkhianat negara, dll. Dalam bahasa Inggris, ada yang namanya infidel, traitor, betrayal, treason, bahkan mutiny (yang lebih tepat berarti pembelot, tapi toh tetap pengkhianat). Tapi bahasa Inggris pun hanya punya satu kata untuk berbagai kata bahasa Indonesia. Contohnya take, yang bisa berarti membawa, menjinjing, memakai, mengambil, menyiapkan. Atau hold; memegang, memeluk, menahan, mengadakan, dll. Sama seperti kata faire (do) dan prendre (take) dalam bahasa Perancis. Nah, bagi pebahasa Indonesia, selamat deh, harus bisa memilah, kapan mau mengambil, mempunyai, dan melakukan; mengambil mandi (take a bath), mengambil sarapan (prendre le petit dejeuner), mempunyai makan siang (have lunch), atau melakukan belanja (faire du shopping).
  • Konsep dan struktur baru. Contoh paling jelas; tenses. Mau di masa lalu kek, atau di masa depan, buat apa verbanya berubah-ubah gitu? Jelas-jelas ngerepotin. Dalam bahasa Perancis, konsep baru buat saya adalah pronominal. Jadi, untuk kata kerja yang dilakukan pada diri sendiri, ditambah se di depan verbanya. Semacam self-… dalam bahasa Inggris. Se coucher (tidur), se doucher (mandi shower), s’assoir (duduk), dan se promener (jalan-jalan). Maigad. Ya iyalah, semua orang juga tau kalo kegiatan-kegiatan itu dilakuin sendiri; mandi sendiri, tidur sendiri, mendudukkan diri sendiri, dan menjalan-jalankan badan sendiri. Kalo ngelakuin ke objek lain, tinggal tambah objeknya bukan, seperti ngajak anjing jalan-jalan: promener le chien. Gitu aja repot.

    Ada juga konsep dalam bahasa Prancis yang gak ada di bahasa Indonesia maupun Inggris yaitu manquer. Tau kan, pasti sering denger tu me manque, yang artinya saya kangen kamu atau I miss you. Bahasa Inggris dan Indonesia mempunyai tatanan yang sama dalam konsep ini; subjeknya “saya” atau “I”, kata kerja “kangen” atau “miss”, dan objek penderita “kamu” atau “you”. Tapi Prancis sama sekali lain; subjeknya “tu” atau “kamu”, dan objeknya “me” atau “saya”. Trus bagaimana mungkin artinya adalah “saya kangen kamu”, padahal di kalimat ini kamu adalah subjek dan saya adalah objek penderita?

    Salahkan kata kerja manquer. Secara harafiah, arti manquer di sini adalah “membuat kehilangan”. Jadi dalam kalimat tu me manque, arti harafiahnya adalah kamu membuatku kehilangan. Alias saya kangen kamu.

Juga dianjurkan untuk mendalami arti kata secara konseptual, bukan hanya menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa lain. Masalahnya ada beberapa kata yang mempunyai beberapa arti, seperti tahu (know, tofu), crane (bangau, derek). Setelah ngeliat kamus Indonesia-Inggris untuk ngeliat bahasa Inggrisnya tahu, ada baiknya ngecek kamus Inggris-Indonesia untuk mastiin mau pake tahu yang mana; know atau tofu. Kalo enggak, bisa fatal. Maksud hati mau bilang semua anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan gratis, tapi malah jadi all children have the heels for free education =[

Friday, April 22, 2011

My English literature (il)literacy

I grow up with English children’s literature. I can say I’m quite conversant in talking about Enid Blyton’s adventures and boarding school lives. I even read Agatha Christie’s detective novels in my teen age, while other kids read Japanese comics which started to be popular here in the early 1990s. If you’re a Blytoner like me, you probably read other English books too, including the colorful Roald Dahl, the touchy The Railway Children by E. Nesbitt and the humorous Jennings series by Anthony Buckeridge. Other European writers also wrote some page-turners such as Edith Unnerstad and Cornelia Funke.

Japanese comics aren’t bad anyway. Aside from the mellow “Serial Cantik”, those comics tell stories in communities with specialized fields of interest; soccer, judo, acting, basketball, detective, karate, etc, showing the importance of excelling, fighting through the obstacles, and not being afraid to face a pro, when you are newbies. I also read comics, although it doesn’t affect me as much as English’ adventure does. So different they are, the adventurous crime-buster English children educated in boarding schools versus the ambitious Japanese kids with their labour of love.

So here I am, lost in the world which worships specialized skills and encourages people to love their specialized job and get married to their specialized career, because all I dream of is having adventures during vacation in some exotic places to fight criminals. Not that I don’t have a specialized interest, it’s just always changing.

Excuse the curcol. My point is; this literature background is responsible for my first impression of the most famous English book of all time J.K. Rowling’s Harry Potter as an Enid Blyton’s adventure-and-boarding-school inspired novels.

How couldn’t I?

When I was in elementary school, I couldn’t rid myself of Enid Blyton’s books, which my older sister and brothers used to read. So I’m just continuing the tradition. I spent hours in the countryside during school holidays with the Famous Five, living in caves and strolling along secret passageways with the Adventure kids, examining the village people when the Find-Outers investigate a mystery. But I also enjoy living in boarding school with Darrel and Felicity in Malory Towers, as well as Pat and Isabel in St. Clare.

Most Blyton’s are stories about children in unordinary situation solving crimes without the help of adults. The Famous Five and the Adventure kids are ordinary English kids who hate their boarding schools, which makes them, brothers and sisters, separated. Therefore, they really enjoy their holiday time every year to meet each other again, moaning on how boring school is, contrary to holidays where they can go to some remote beautiful places for camping or homestay. The Adventure kids even go abroad often and go on a cruise ship once, dropping by exotic regions along the way. During those vacations, they’ll find themselves in some unusual circumstances and found the nest of a bunch of criminals. Incidentally. They call those experiences of incidentally finding themselves in such situations and solving crimes “adventures”.

The Find-Outers also hate school, but mostly they stay in their small home village during holidays, where they enjoy interesting activities and, of course, finding mysteries to solve. But this doesn’t mean that the Find-Outers adventures are boring. Unlike The Famous Five and The Adventures who do not intentionally look for “adventures”, the Find-Outers declare themselves kid detectives who look for “mysteries”—their word for “adventures”—to solve. Their stories are funnier than the serious Famous Five and Adventures, thanks to ludicrous Mr. Goon, the village police officer who is not smart enough to beat Fatty, the FO’s leader, whose definition of mockery is using sophisticated disguise to tease and defeat Mr. Goon on the race of solving mysteries.

Blyton’s boarding school series is like the opposite. The common English boarding schools seem boring in the beginning, but lately the children realize that they enjoy their lives there. They have to face problems of growing-up; friendship, rivalries, honesty, bad attitudes, and anger, and take lessons from it. Unlike the kids in the adventure books who enjoy their holidays, these boarding school students can’t wait to go back to their beloved school to find those non-academic lessons between them. Their adventure is the one during school, within the dorms.

So, for me, Harry Potter is the reincarnation of Enid Blyton’s adventures and boarding schools combined. Harry’s stories are crime-busting adventures in boarding school, within the walls of classes, halls, corridors, dorms, of the huge castle Hogwarts filled with secret passageways and tricks. The adventures also happen at home during holidays. The only difference with Blyton’s is the addition of magic and fantasy.*

This doesn’t mean that I fail to see the other side of Harry Potter’s charm; the real-school-like fantasy, including classes; the boring history of magic, the elitist Rune class, taken only by brilliant students like Hermione, and the important main courses like Charm and Defense of The Dark Arts. It is the main ingredient that attracts the readers much. Not to mention the details that match the real world intricacies; power politics (the power-thirst Ministry of Magic versus the evil Death Eaters versus the marginalized truth-fighters Order of Phoenix), social classes (the Malfoy versus the Weasley), and racism (the murders of half-blood and muggles, as well as the torture of house-elves).

No wonder the legal accusations on plagiarism faced by Rowling are mostly about her magical creatures and fantasy world, details of which are believed to be invented by many writers before her.

No one consider the peculiar adventures experienced by Harry, Ron, and Hermione, which normally don’t happen to most kids (remember the scene where McGonagall asking them “Why is it, that whenever anything happens, it's always you three?” and Ron answered “Believe me, Professor. I've been asking myself that same question for the past six years”) might be inspired from the unintentional solving crime adventure happening to the Famous Five and the Adventure kids.

Rowling doesn’t mention Blyton as her inspiration either. She mentions mostly English fantasy writers such as J.R.R. Tolkien and C.S. Lewis. Those fantasy books, which I call the other side of English literature, are the ones I rarely read. I don’t even read the famous Alice in Wonderland. The only book I have read among Rowling’s inspiration list is Roald Dahl’s Matilda. It seems that I’m not literate enough in English literacy. But tell me, Blytoners, do you remember The Famous Five when you read Harry Potter?

*As a matter of fact, Blyton also writes fantasy books. which unfortunately I never read. But she doesn’t blend them with crime-busting stories.

Monday, February 14, 2011

Pemikiran Acak (a.k.a. Random Thoughts)

Gawat juga patah hati. Saya yang biasanya introvert, jadi curhat di blog. Produktif pula. Statistik lalu lintas blog juga jadi naik. Hm.. apa itu berarti, saya curhat menye-menye aja terus, biar blog saya rame dikunjungi? Hehehe, I don’t think so. Kata seorang temen, ini memang waktunya untuk ngelakuin hal-hal yang beda dan aneh. Toh saya punya alasan untuk itu. Dia bilang, justru kalo lagi dalam keadaan normal, kelakuan saya bakal tampak aneh. Bener juga sih. Dan suatu hari nanti saya bakal kembali nulis dengan gaya dingin dan sok intelek tanpa bawa-bawa perasaan, dan mungkin blog ini bakal sepi lagi.

Jadi hari ini, saya mau break sebentar dari bahasan percintaan dan perasaan. Break? Eh, moga-moga sih seterusnya. Ah itu urusan nanti. Yang jelas sekarang saya mau balik lagi ke kebiasaan unik (atau buruk) saya ketika lagi kebanyakan ide, komentar, dan pemikiran yang masing-masing gak bisa digabung tapi gak kuat juga untuk saya tulis secara mendalam satu per satu. Mungkin karena kurang bahan, kurang ahli, dan kurang usaha buat mendalami. Sekedar komentar amatir yang disalurkan karena ini dunia blog dan social networking; everyone can be critics.

Okeh, pemikiran acak pertama; ketika semua orang tiba-tiba mendewakan timnas Indonesia di akhir tahun lalu, saya tiba-tiba sadar, fans terbaik timnas adalah… Ari Sihasale! Ia membuat film optimis super idealis dan futuris tentang sepakbola Indonesia ketika jarang sekali penggemar bola melirik timnas (termasuk saya:p). Dan jujur saja, saya rasa Ale bukan sutradara yang baik. Saya gak pernah nonton filmnya yang lain, tapi Garuda Di Dadaku, walaupun cukup menyentuh, bikin saya mengeluh; bisa gak sih, film Indonesia menghindari klimaks berupa seseorang sekarat di rumah sakit? Dan kalau diliat-liat, jalan ceritanya klise juga. Tapi bagaimanapun, Ale sudah mendapat hadiah paling pantas untuk seorang fans terbaik timnas: lagu Garuda Di Dadaku jadi lagu kebangsaan fans setiap kali timnas tampil maupun jadi background berita timnas di TV. Emang sih itu lagunya Netral. Tapi filmnya lah yang bikin lagu itu terkenal. Melihat carut-marut PSSI saat ini, memang rasanya mustahil sebuah film akan mengubah sesuatu. Tapi setidaknya beberapa orang udah terbuka pikirannya untuk menanam bibit bagi masa depan.

Lanjut; kekecewaan saya sama Andrea Hirata. Idealis yang tergoyahkan selera pasar. Kalau kamu ngikutin semua novelnya, pasti ngerti yang saya maksud adalah novel Maryamah Karpov. Terbit setelah film Laskar Pelangi menarik banyak penonton, novel ini malah jadi sambungan Laskar Pelangi, bukannya menceritakan tentang perempuan luar biasa seperti yang dijanjikan di sinopsis tetraloginya. Lalu terbit novel dwilogi Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas. Lebih aneh lagi. Padang Bulan adalah sambungan Maryamah Karpov, sendangkan Cinta dalam Gelas adalah kisah yang seharusnya jadi isi Maryamah Karpov. Dan saya gak ngerti kenapa dwilogi ini harus dijadikan satu buku. Mungkin maksudnya memang menonjolkan gaya Andrea yang acak itu, tidak pernah urut, terduga, ataupun terorganisir. Selalu berupa potongan-potongan mozaik yang pada akhirnya membentuk suatu gambar. Tapi saya tetap merasa Andrea terlalu pasrah terhadap ambisi komersil penerbit.

Pemikiran terakhir dan paling panjang; saya sedang mempertanyakan kembali kecintaan saya sama tennis. Gara-gara tahun ini saya sengaja melewatkan Australian Open yang selalu saya tunggu-tunggu, bahkan gak baca berita tentang itu, tentang Novak Djokovic ngalahin Andy Murray di final. Nah loh. Pencinta tennis yang cuma menyimak Australian Open dan gak tertarik sama duel unggulan no 3 dan 5 di final?

Yeah, saya curiga, saya bukan pencinta tennis, tapi pencinta Roger Federer. Bukan karena dia ganteng (emang ganteng gitu?), tapi karena dia bisa jadi adalah petennis terbaik sepanjang masa. Kalau kamu pencinta olah raga, pasti ngerti, ada beberapa pemain yang begitu hebat dan berkarakternya, hingga menonton mereka main aja udah jadi hiburan tersendiri. Ah, mungkin lebih tepat seni. Itu sebabnya, para sponsor mulai dari Gillette sampai Rolex mau bayar gila-gilaan supaya si bintang mau jadi model bahkan icon mereka, dan membuat si bintang bersedia memakai dagangan mereka ke mana-mana. Atau kenapa Nike sampai kecele bikin iklan Piala Dunia yang menonjolkan skill individualis Drogba, Rooney, dan Ronaldo yang berkecimpung dalam olah raga yang jelas-jelas sosialis.

Anyway, balik lagi ke masalah saya, dugaan sebagai pencinta Roger Federer beralasan karena saya cuma nonton Australian Open yang merupakan turnamen kekuasaan Fed selama bertahun-tahun. Fed emang pemain hebat. Kehebatan… well, mungkin lebih tepat seni bernama Roger Federer, tergambar dengan baik dalam artikelnya Roger Cohen dari New York Times. Intinya, Cohen menunjukkan keheranan yang berbau frustasi, bahwa hidup sesempurna Fed gak mungkin ada. Coba lihat kalimatnya Cohen: “During the final, I couldn’t help focusing on three things. The first was the button on Federer’s Nike shirt. Through more than four hours of punishing tennis, sun-baked by British standards, it remained buttoned up. I mean, come on!… The second was the absence from Federer’s face of even a bead of sweat as droplets poured from Roddick’s forehead and slid from the underside of his endlessly adjusted cap... The third was the fact that Federer wore a belt — a belt — in his stylish shorts, as if he was ambling through a Calvin Klein ad rather than serving 50 nonchalant aces and putting on a record-breaking athletic display. Nada frustasinya Cohen selalu bikin saya ketawa, karena begitu jugalah frustasi yang muncul seiring dengan kekaguman para fans, termasuk saya, ketika melihat Fed.

Toh ternyata, Fed punya frustasinya sendiri, dalam sosok bernama Rafael Nadal. Federer petenis terbaik sepanjang masa? Iya, kalau rekor 14 kali kalah dan 8 kali menang melawan Rafa gak pernah ada. Rafa tidak punya gelar sebanyak Fed. Tapi mengingat ia lima tahun lebih muda, dan perlahan mengejar semua rekor Fed, serta menjadi satu-satunya pemain yang bisa mengungguli Fed dalam sejarah duel mereka, maka pantaslah Rafa jadi ancaman. Rival, tepatnya. Dan memang, Fed yang biasanya cool menghadapi petenis lain, tampak keteteran melawan Rafa. Pendeknya, rivalitas inipun jadi yang terbaik sepanjang masa! Bahkan ada entri khususnya di wikipedia.

Jadi, saya harus mengakui, kalau saya cuma penggemar Federer, atau Nadal, atau rivalitas mereka. Dan saya nggak sendiri. Duel mereka di final Wimbledon 2008 sampai meningkatkan rating televisi di US dan Eropa. Tapi penyelenggara hajatan dan dunia tennis pada umumnya harus waspada. Mengelu-elukan rivalitas mereka bisa bikin pembahasan tennis jadi sempit. Gimana kalau banyak yang seperti saya, begitu mendengar final bakal dihuni Murray dan Djokovic, jadi males nonton. Akhirnya saya nyari berita pemenang Australian Open cuma dari websitenya, karena males baca berita panjang-panjang di NY Times. Website yang di headernya cuma ada gambar Fed dan Rafa, sama Serena Williams. Ckckck

Wednesday, January 19, 2011

Gadis Periang dan Lelaki Pendiam

Saya selalu merasa, hidup ini gak adil buat orang-orang pendiam dan pemalu seperti saya. Bagi orang seperti ini, agak sulit untuk langsung merasa enjoy dengan orang baru. Kalau kenalan, hanya orang-orang tertentulah yang bisa langsung akrab sama orang-orang pendiam ini; a) orang yang emang gampang akrab dengan siapa saja, dengan kata lain, si orang gampang-akrablah yang mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana; b) orang yang gak gampang-akrab juga, tapi punya beberapa kesamaan sehingga ada topik yang bisa mengikat mereka dalam pembicaraan yang asik. Sudah jelas kan, kenapa orang yang pendiam lebih sering tampak menyendiri daripada ngumpul-ngumpul. Tapi bukan berarti orang pendiam tidak punya banyak teman. Bisa saja orang pendiam butuh lebih banyak waktu dari orang periang untuk merubah acquaintance menjadi teman. Tapi saya rasa memang lebih banyak orang periang yang punya banyak teman daripada orang pendiam.

Emang gak adil buat ngebanding-bandingin sifat orang. Tapi kenapa saya bilang dunia gak adil buat orang pendiam, karena stereotip masyarakat yang datang dari produk budaya memang lebih mengunggulkan orang periang (deuh, bahasanya). Si periang akan lebih digampangkan segala macam urusannya; di sekolah baru, di kantor lurah ngurusin KTP, di lingkungan kerja, menggalang massa buat demo atau nyalonin diri jadi caleg, apalagi deketin calon mertua. Sedangkan si pendiam dengan sabar menunggu KTP yang molor beberapa hari, puas jadi tim sukses kampanye dan orang di belakang panggung, serta rajin bawa-bawain kue buat calon mertua biar disangka perhatian. Dan ini termanifestasi dalam produk budaya yang saya bilang tadi, tokoh-tokoh utama di film atau novel yang paling asik adalah si periang. Dan lebih parah lagi, tokoh perempuan periang lebih mendominasi daripada tokoh pendiam. Tokoh utama perempuan, kalo gak sanguinis ya phlegmatis. Tokoh utama laki-laki, mau pendiam dan cool ataupun periang sama asiknya. Penonton yang menggemari Ariel Peterpan dan Indra Bekti mungkin sama banyaknya.

Biasanya perempuan periang akan dipasangkan dengan lelaki pendiam. Coba aja liat komik-komik jepang dan filmnya, juga film korea dan taiwan. Saya lupa judulnya, dulu ada komik jepang yang tokohnya pasangan dengan nama hampir mirip, tapi dengan sifat sama sekali beda. Yang cowok cool dan pendiam, tapi digemari cewek-cewek, sedangkan si cewek periang dan ceroboh serta gak menarik, tapi mereka bisa jadian dan semua orang jadi heran. Atau liat aja Meteor Garden deh. Tomingse (sorry for the spell) emang gak pendiam, tapi dia jutek abis, dan cewek periang seperti Sancai dan Yesha lah yang bisa menaklukkannya. Novel perahu kertasnya Dee yang baru saya baca, juga dengan tokoh utama gadis periang, dengan cowok yang, yah, gak pendiam sih, tapi cool dan dewasa. Cewek pendiam biasanya jadi sahabat, atau pemain figuran yang ngeliatin dari jauh aja.

Saya pikir, tadinya ini cuma stereotip khusus film-film jepang, korea, dan taiwan yang baru digandrungi dekade terakhir ini. Tapi ternyata ada juga nenek moyangnya, sepert Breakfast at Tiffany’s. Siapa sih yang gak jatuh cinta sama tokoh Holly-nya Audrey Hepburn, periang, ceroboh, sensitif, dan suka ngobrol. Kehidupan Holly yang asal itu diselamatkan oleh Paul, atau yang ia panggil Fred, yang berpikiran tenang dan dewasa. Dan di tengah sekian banyak perbedaan itu, mereka malah jadi saling melengkapi. Dan penonton jadi terbuai oleh kisah cinta penuh warna ini.

Mungkin ada penjelasan psikologis untuk hal ini. Orang yang periang lebih gampang untuk dipahami, dan lebih gampang pula bagi penonton untuk emotionally attached dengan mereka. Sedangkan film yang dipenuhi adegan orang pendiam yang galau dan tidak bisa mengekspresikan perasaannya, akan sukar dirasa oleh penonton.

Saya yakin, banyak yang protes atas pandangan subjektif ini. Setiap orang tidak bisa dibandingkan, dan saya percaya bahwa suatu karakter adalah dua sisi mata uang, ada keuntungan dan kerugian; misalnya orang perfeksionis cenderung menghasilkan karya yang tanpa cacat, tapi ia bisa butuh waktu lama buat menyelesaikannya, atau sering bete sendiri kalau gak puas sama kerjaannya. Mungkin penjelasan yang tepat buat subjektivitas saya adalah fenomena rumput tetangga yang lebih hijau. Kisah tentang orang yang sangat berbeda dari saya, yang tidak akan pernah jadi diri saya, tampak lebih mendominasi. Sedangkan tokoh gadis pendiam dalam film sering terlewat dari pengamatan saya. Tapi seingat saya, tokoh gadis pendiam biasanya jatuh cinta sama bad boy, yang selalu akan menyakitinya. Contohnya film Public Enemy, tentang gadis lugu dan lelaki urakan yang ngerampok bank. Yah, cerita tentang pasangan orang pendiam tentunya gak asik. Kecuali kalau scriptwriter-nya pinter meramu dialog witty di antara mereka.

Sunday, September 5, 2010

“T” sampingan*

Awalnya karena sedang diliputi mood anti-sosial, saya menutup wall facebook saya untuk umum. Tapi ternyata yang saya lakukan itu bisa jadi eksperimen yang akan mematahkan teori infotainment-esque facebook-nya M, teman saya yang juga blogger/calon akademisi (ciyeeh, M… :p)

Baiklah, silakan menikmati eksperimen ngaco saya.

Latar belakang:

birthday-monkey Hingga hari ulang tahun saya, wall tetap saya tutup. Padahal info tanggal ultah tidak saya sembunyikan. Berarti akan ada orang yang mampir ke profil saya untuk menulis selamat di wall, tapi tidak bisa melakukannya karena wallnya saya tutup.

Saya pikir, dengan wall ditutup, teman-teman facebook akan mengurungkan niatnya untuk ngasi selamat. Saya setuju dengan teorinya M, bahwa seseorang nulis sesuatu di wall orang lain cuma karena pengen dilihat sebagai orang yang perhatian. Kalau niat ngucapin, mereka bakal meng-sms atau nelpon. Lagipula saya sibuk. Saya tidak punya waktu untuk membalas semua ucapan selamat itu satu-satu (iya benar, kalau tidak mau dikasih selamat, harusnya disembunyikan aja info ultahnya. Ternyata saya masih narsis untuk urusan ulang tahun). Saya juga sering malas nulis selamat ultah di wall teman belakangan ini, kecuali teman yang benar-benar dekat atau yang akan benar-benar senang menerima ucapan dari saya (ucapan dari orang-orang dalam lingkaran terdekat lebih berarti bukan? tapi ada juga teman dekat yang tidak suka dikasi selamat ultah). Jadi, saya pikir nggak ada orang yang mau ngucapin ke saya sebagai balasannya.

Hasilnya, tidak seperti dugaan saya, teman-teman menemukan berbagai cara untuk memberi selamat selain di wall. Dan akhirnya saya memasang status tentang ulang tahun, untuk memberi mereka kesempatan ngucapin selamat dengan mengkomen status tsb. Ohya, fitur komen untuk status dan foto masih saya buka. Karena saya suka dikomenin dan suka mengkomen status dan foto orang. Bisa jadi tempat diskusi menarik soalnya.

Metode: kuantitatif (maka jelas ngaco, saya nggak pernah pake kuantitatif soalnya)

Variabel independen: wall, info tanggal ultah

Variabel dependen: ucapan selamat ultah

Tindakan: menutup wall, meng-ekspos tanggal ultah

Lingkungan/situasi: status dan foto saya bisa dikomen. Saya kadang-kadang mengkomen status/foto teman, frekuensinya kira-kira… hm, saya gak bisa bilang dengan pasti. Sangat tergantung pada status teman yang menarik dibahas atau ada foto baru yang lucu atau lagi ada rencana kumpul-kumpul. Setiap orang juga bisa mengirimi saya message. Ohya, saya punya 600-an teman, dan seperti facebook semua orang, terdiri dari lapisan-lapisan sahabat, teman dekat, teman tidak dekat, kenalan, sedikit teman blogger yang saya tidak pernah ketemu—itupun masih temannya teman, dan sedikit sanak famili.

Hipotesis: dengan tanggal ultah diekspos dan wall ditutup, maka jarang yang akan ngucapin met ultah karena orang-orang cuma mau ngucapin di wall biar ketahuan kalo mereka perhatian.

Ohya, ada tindakan tidak terduga, bisa disebut gangguan atau apa ya… yaitu saya akhirnya memasang status ultah yang bisa dikomen kira-kira jam 12.30 siang, yang tentunya jadi tempat curahan ucapan selamat. Wallnya tetap saya tutup.

Hasil:

Ucapan selamat yang saya terima ada di mana-mana:

19 di inbox, 1 di antaranya dikirim jauh setelah status jam 12.30, dan 2 diulang lagi dengan mengkomen status 12.30

1 lewat komen di status fesbuk saya terakhir (sebelum saya jadi anti-sosial, yaitu setelah final world cup, bulan juli, ckckck…), dan diulang di komen status 12.30

4 lewat twitter, 2 di antaranya diulang di komen status 12.30 (saya bukan pemakai twitter berat. cuma ada 16 teman di facebook yang saya follow dan mem-follow saya di twitter)

1 men-tag saya di status facebook-nya, ditambah 2 orang mutual friend yang “nebeng” komen di statusnya itu untuk nyelametin saya

3 lewat komen di status/foto yang pernah saya komenin

dan akhirnya, 26 komen di status 12.30 (ini termasuk ucapan yang diulang)

Jadi, kesimpulannya, hipotesis saya salah, karena ada 19 orang yang bela-belain ngucapin selamat di inbox yang tersembunyi dari publik itu. Jumlah yang nggak jauh beda dengan yang di komen yang terekspos ke publik.

Kelemahan:

  1. Teori infotainment-esque facebook merujuk pada ucapan belasungkawa atas musibah bencana alam di wall. M memberikan penjelasan yang masuk akal mengapa ucapan seperti itu tidak pantas dan doesn’t work di wall facebook: karena sifatnya lebih urgent, dan orang yang kena bencana belum tentu segera mengakses facebook. Sedangkan ucapan selamat ultah (dan selamat-selamat yang lain) sudah menjadi lumrah untuk ditulis di wall saja. Banyak orang yang menulis ucapan selamat di wall and they really mean it.
  2. Pilihan untuk menulis ucapan selamat di manapun selain wall; comment, inbox, status, bisa saja karena alasan lain. Misalnya, sebagai orang yang pengen tampil beda, saya tidak mau berada di kolom yang sama dengan orang lain yang mengkomen status untuk mengucapkan selamat. Atau saya enggan mengirim message karena merasa inbox terlalu private dan penting untuk ucapan selamat ulang tahun saja.
  3. Teman-teman yang mengulang ucapannya di komen status 12.30 (setelah ucapan di inbox, twitter, komen foto dll) lebih fokus pada mengomentari status saya daripada sekedar mengucapkan selamat. Saya tulis pendapat saya tentang being 28, dan pendapat inilah yang dikomentari teman-teman saya itu. Jadi, bukan berarti mereka mengulang ucapannya karena mau show off.
  4. Saya rasa tingkat kedekatan juga ngaruh. Saya pernah membatalkan ucapan selamat ultah karena si teman itu menutup wall-nya, tapi lebih karena dia bukan teman dekat (baru ketemu 3-5 kali, dan sepertinya tidak akan ketemu lagi), dan saya segan menginvasi inbox-nya cuma untuk ucapan selamat ultah. Lagian, teman-teman saya yang ngucapin di tempat yang lebih terekspos publik justru yang biasanya jarang aktif di facebook, dan sebaliknya sebagian yang di inbox justru biasanya ekstrovert.

Jadi pada akhirnya, itu cuma statistik. Saya tetep senang dengan semua ucapan itu. Lain kali, saya janji akan lebih rajin ngasi selamat. Bukan karena terpaksa atau mau pamer atau bales budi, tapi karena buat sebagian orang ucapan ulang tahun memang penting. Dan lain kali kalau gak mau nerima ucapan selamat, harusnya info ultah disembunyiin aja (yeah everyone knows that but me)..

*andai tesis saya segampang dan sesingkat ini

Tuesday, July 6, 2010

World Cup’s Random Thoughts

being an occasional blogger, not a sport writer, writing random thoughts is all i can. so here it is

  • what is fairness? it’s surely something no man-made rules can accomplish. a referee may give penalty kick to a player whose surefire goal was stolen by an opponent’s handball. he also punishes the offender with the red card he deserves. but alas, the victim fails to make the goal, the ball hits the bar and lost is his team. what is wrong here? the victim is awarded his right. the criminal is given his sentence. but they never have the goal back. just as punishing a murderer won’t get the victim back to life. we think that fair is having the loved one back. having the near up-time goal back and make the team win. but that’s not happening. it’s not what we think of fairness. so what is fair anyway?
  • life is about creating innovation and solving problems. even when we find a way to solve a problem, new ones will occur. we don’t have to go to the post office to send mails now, but we have to remember passwords for four different email and networking accounts. so i think FIFA don’t have to worry about inserting goal line technology or assigning more referees in the field. new problems will come. that’s what life is about. it’s never perfect. but they can’t even decide whether to adopt only goal line technology and offside replayer. at least soccer still has dozens other problems - the fouls and dives - to make it stay as the most corrupt and “humane” sport.
  • and, regarding the above thoughts, who says our lives are better than the prehistoric age? all those inventions create new problems. all those tools are shifting us away from the original purpose of our works. entering university means looking for grades and titles instead of learning. being an advocate means having great skill of arranging words to make the jury favor the client, regardless of searching for truth. being an academician means looking for projects instead of lecturing. and so on…
  • what is the difference between weakness and strength? nothing. it depends on how you see it. weakness is strength, strength is weakness. like the kungfu fighter use any weapon aimed against him to fight back. do you get it? no? i didn’t at first. me, the product of ignorant teen age, understand only lately the yin-yang philosophy. the revelation came to me when i watched kungfu panda. no one imagine the big fat panda will be able to kungfu because he is unable to move fast. he can’t even see his own toes. but with a little touch by master shifu, he can be the dragon warrior, with special strength; the fat become his shield when falling from extreme height or bouncing down the stairs. now i can see it in soccer too. history proves that a great star can be a team’s weakness; a brilliant player is usually guarded by two to three opponent players, hence his immobility. you can see ronaldo, rooney, and messi in this world cup. among previous unlucky stars are ronaldo in 1998 final and zidane in 2006 final. of course, this carnival of one-star-three-guards can be the advantage to the star team; monopolizing the opponent’s focus so other players will be free.

Thursday, December 10, 2009

2009 news fatigue

2009 news fatigue:
  • Tumenggung terrorist raid
  • rigged election
  • ganyang Malaysia!
  • natural disasters
  • cicak vs buaya
  • century scandal
  • golkar convention
  • 2012 ban
  • paranoid politics
  • OMNI International suing Prita
  • ... (please add your own fatiguing news)
the list above implies my renunciation of not only the media, but also the news maker. I keep asking whether there is anything good in this country when I watch TV, and in the end, it leads me to fatigue.

please, please, come hurry the World Cup! I really miss the days when I can sit in front of TV for more than 10 minutes!

Monday, October 12, 2009

Economist's Digital Return Print



Clearly the Economist is confident that online readers or non-subscribers like me will subscribe to the print edition once they implement their newest policy. They think their articles are so outstanding that readers cannot live without reading it. They believe readers won't find such great articles in other print media's free online subscription such as Newsweek and The New York Times.

They are right. It's unfortunate for readers that the media have different style of writing and biased. We, readers, choose media that conform our values, beliefs, and tastes. The media is political. Thus we have preferences. We even subscribe to several media to keep our perspectives balanced. Now we do our own "cover both sides" because the media no longer did.

Anyway, let's see if the Economist will survive with such policy. I'd be glad if they can, but still grumbling when I read that publisher's email.


Wednesday, July 1, 2009

Blog Kelindas Facebook?

Teman saya si Gentole mengeluh; "Fesbuk itu nge-distract. Temen-temen blogger gw jadi jarang posting."

Maksudnya dia ya nyindir saya juga. Dan saya juga tiba-tiba nyadar, blog ini semakin sepi. Sama seperti Gentole, blognya juga semakin sepi (dengan level berbeda tentunya, dia sih dari 100 komen per hari jadi 20 per hari, dasar orang terkenal hehehe piss Gen). Tapi apa benar gara-gara fesbuk? Blognya dia, misalnya, baru saja pindah ke segmen yang lebih serius, yang mungkin mengagetkan pembacanya. Sedangkan saya, mungkin karena tulisan yang jelek dan semangat posting sebatas hangat-hangat tahi ayam; maksudnya, frekuensi tidak jelas dan jarang pula.

Tapi memang teman-teman blogger saya juga pada menghilang. One by one. Mungkin benar kata Gentole; "di fesbuk, status aja dikomen...", dan teman saya yang lain, Yosie, juga bilang; "posting kok di blog, di notes dong, biar seru". Himawan sempat berinovasi dengan mempublikasikan blognya di fesbuk, dan mengeset notesnya untuk selalu mem-publish posting baru di blog. Tapi beberapa hari yang lalu saya lihat statusnya di fesbuk tentang niat istirahat ngeblog. Mungkin karena kesibukan atau apa, cuma Tuhan dan dia yang tahu. Seperti saya, dia juga bukan heavy fesbuker, jadi saya gak percaya dia beralih ke fesbuk. Tapi kok pengumumannya di fesbuk, bukan di blog? Ada lagi si Mona. Kadang posting di blog. Kadang di notes. Saya nggak tahu sampai sekarang kategorinya apa; what makes a post deserve to be in notes or blog. Mungkin Mona mau tampil seimbang dan gak pilih kasih hehehe

Gara-gara celetukan Gentole itu, saya jadi nyadar, ternyata di situ toh sisi "kapitalis"-nya fesbuk. Baru-baru ini saya baca kalau fesbuk, twitter, dan sejenisnya, adalah salah satu bentuk sosialisme dan komunisme baru. Semua orang ngelakuin hal-hal komunal; ngebentuk kaukus di fesbuk, ngumpulin massa di twitter, protes lewat fesbuk, sampai nyatuin informasi dengan wiki. Bentuk sosialisme baru ini bukan hanya karena fesbuk dan twitter, tapi karena internet, produk si kapitalisme sendiri. Fesbuk udah sukses membantu menggalang dukungan pembebasan Ibu Prita. Tapi, di sisi kapitalisnya, fesbuk seperti supermarket serba ada yang mematikan usaha warung-warung sekitar. Chat, foto, share status, notes, kaukus, fan page, dll, yang tadinya disediakan oleh masing-masing "warung" website berbeda, sekarang ada di fesbuk.

Jadi bagaimana website-website itu mau survive? Dari warung-warung yang saya lihat, belum ada yang bisa survive kalau ada supermarket atau mart di sekitarnya. Biasanya pada ganti ke bisnis lain; laundry atau tempat makan. Di sini analogi warung gak bisa dipakai lagi buat blog, jadi saya juga gak tau solusinya. Cuma saya masih kepikiran, jangan-jangan perubahan yang dibawa internet bukan menuju kultur "we are all writers" seperti prediksinya Milan Kundera, yang dijadiin header blognya Gentole, tapi justru ke tradisi "we are all status updaters, or tweeters"?


Saturday, June 6, 2009

Why Indie

Some friends asked me what indie music is. Maybe because I mentioned it once when I found out that they listen to Glenn Fredly and Bryan Mcknight. A friend confused of what “indie” is; it’s not a genre, it’s just a kind of paradigm, when the musicians choose not to sell their creation to major label with their huge capital, but prefer instead a less-known record company with less money and whatever modest promotion it does to introduce the album to public. So he can’t distinguish the sound of indie from mainstream music. The other friend thought that indie music means a band that plays indigestible songs with their leather jacket and untidy hair. *sigh

Anyway, it occurred to me that I don’t even know what “indie” exactly means as well. Why do I listen to indie music? To be different? To be cool?

But I can recall why I listen to indie in the first place; because I’m not satisfied with mainstream music from major labels. Not because I’m such an idealist that I refuse to contribute to more profit for those corporations. I like mainstream too. Only most of the music stay for a short time in my head. I used to listen to radio and MTV much that I know all the newest songs. But that new songs, particularly hits, will be played over and over again, not only in the media, but also at malls and restaurants and cafes. Even if they’re not, I will play them again and again and again. And I’ll get bored on day three.

The problem is, not all majors are boring and not all indies are long-lasting. I’ll try to explain with the best logic I can. Major labels look for profits. Profits are greater when sales are higher and tours are bigger. Therefore, the music is designed to meet the taste of greater number of people. It doesn’t mean that most people have cheesier taste (if there is ever cheesy and sophisticated taste category in music). But greater number of people means wider range of different tastes; from simple three-tone-two-refrain song to a complicated synthesized orchestra. So majors need to reach the wider range possible; the best choice is the average, the median; who will favor not too simple yet not too complicated music. Is that correct?

I know I’m not capable enough to lecture about music. Excuse my shallow interpretation, for both mainstream and indie have various genres for everyone's taste. But that’s what mainstream music is for me. Easy to like but easy to forget. So when I listen to not-so-familiar rhyme or style of music, I try to be patient enough to wait to like it. Once I like it, it would stay longer in my head; a month if I’m lucky, but a week is already a record.

Maybe it’s sad that once again arts is valued based on numbers - the length of time it stays in my top list; just as income and property used as a variable to count happiness in capitalist America, which we always criticize in class. Indie and major, they’re no different in my case; both are valued by numbers.

I look for an excuse and stop at the most comforting one, the one from a friend who asked what indie is; listen to music that sounds good to you, brings the most enjoyable arts to you. I can’t make them believe that indie music is better. But indie music teach me one thing; there are loads of good music out there, they are not delivered to your living room through TV commercial, to your bedroom through the radio programme. They’re out there waiting to be discovered; from a friend, an acquaintance’s gig, an opening band in a big concert. Just as you can’t wait passively for the best things to happen to your life. You go for it, not wait for it.


Wednesday, April 8, 2009

Prisoners' Dilemma of Pemilu

Hint: si itu adalah orang yang gw gak pengen dia terpilih



Note:
  1. Hint bisa disesuaikan dengan tujuan Anda ikut pemilu. Anda memilih agar seseorang bisa terpilih atau agar seseorang tidak terpilih? (jadi makna pemilu sebenarnya apa sih???)
  2. Setelah mengetahui tujuan Anda ikut pemilu, Anda tinggal mengganti si itu: orang yang Anda ingin ia terpilih atau tidak terpilih?
  3. Tentukan pilihan Anda sesuai tujuan. Lalu Anda dapat menyesuaikan isi tabel di atas.
  4. Kesimpulannya: ikut pemilu gak nih?? Gak usah pusing mikirin hasil. Hasilnya ya ditanggung sendirilah. Jangan percaya sama teori saya. Wong saya udah lama gak belajar matematika…eh ini rumus matematika atau teori politik atau psikologi sih???


Saturday, March 28, 2009

Kuota 30% Perempuan di Legislatif: Curhat Post-Feminist

Apa sih yang diinginkan feminis?

Jawaban paling umum: perempuan harus memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam bidang politik, sosial, seksual, intelektual, dan ekonomi. (wiki input:p)

Mari membahas lebih spesifik. Gerakan feminis tidak selalu sama di setiap zaman dan tempat. Bahkan sampai saat ini kaum feminis masih terpecah soal apa itu "kesetaraan gender".

Menurut kronologis, ada first wafe, second wave, dan third wave feminism. First wave dimulai pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, yang memperjuangkan hak-hak kepemilikan (ekonomi) dan hak suara (politik) bagi wanita. Second wave dimulai pada tahun 1960-an hingga 1980, merupakan perjuangan untuk menghapus diskriminasi dan mengusung kesetaraan. Third wave pada tahun 1990-an, berusaha untuk menutupi kekurangan gerakan second wave yang kurang memahami variasi masalah gender pada setiap ras dan negara.

Ada lagi post-feminism. Kelompok ini percaya bahwa second-wave feminist sudah mencapai apa yang diinginkannya, yaitu kesetaraan kesempatan dan menghapuskan diskriminasi.

Itu sebabnya, beberapa teman laki-laki saya menganggap bahwa "feminism is so old-school".

Bukannya mereka anti-feminis, mereka bahkan sangat liberal dan punya istri wanita karir. Saya yakin, seperti post-feminist, mereka beranggapan bahwa perempuan sudah diperlakukan cukup layak dalam berbagai kesempatan saat ini, sehingga perjuangan anti-diskriminasi sudah tidak relevan lagi.*

Tidak semua berpikir begitu, ternyata. Salah satu gerakan berbau feminis dan anti-diskriminasi menjelang pemilu yaitu tuntutan pada parpol untuk memenuhi kuota 30% calon dan anggota legislatif perempuan. Ada lagi protes terhadap keputusan MK tentang kemenangan caleg berdasarkan suara terbanyak. Hal ini tentu menghambat terlaksananya affirmative action macam kuota 30% ini.

Masalah kesetaraan gender dan diskriminasi ini membuat saya selalu berada di grey area. Pasalnya, kenapa pula laki-laki dan perempuan harus dibedakan? Sama-sama bisa makan, tidur, bernapas, mikir, belajar, beradaptasi, dan bisa jadi politisi. Tapi pada kasus tertentu memang perlu perlakuan beda, seperti pada foto di atas, feel-nya akan beda kalau modelnya adalah cowok. Maka muncullah pendapat bahwa laki-laki dan perempuan punya pembagian tugas yang berbeda (bukan kodrat loh, tapi pembagian tugas), agar bisa saling melengkapi. Bahasan menarik tentang pembagian tugas laki-laki dan perempuan ini saya baca di blog teman. Laki-laki menyetir, perempuan menavigasi. Loh, kan sekarang ada GPS? Seseorang bisa menyetir dan navigasi sekaligus. Waduh, diskusi pembagian tugas ini gak akan kelar sampai akhir jaman. Lain kali akan saya bahas.

Mari kita runut lagi. Kuota 30% perempuan di legislatif sebagai bentuk affirmative action, dengan tujuan menyeimbangkan jumlah perempuan di parlemen, untuk mengakomodasi kepentingan perempuan, agar distribusi kesejahteraan akan lebih adil untuk perempuan, yang jumlahnya mencapai 68% dalam kategori miskin.

Kuota 30% yang belum terpenuhi dinilai karena parpol (dan pemilih) masih diskriminatif dan pengaruh budaya patriarki. Saya jadi penasaran, apakah dulu universitas juga mematok kuota sekian persen untuk menyeimbangkan jumlah perempuan dan laki-laki? Toh sekarang jumlah mahasiswi bisa lebih banyak daripada mahasiswa, bahkan hingga jenjang S3. Terbukti diskriminasi tidak laku. "Tapi itu kan baru universitas, bukan parlemen?" Well, kita tidak tahu apa yang akan dikerjakan mahasiswi-mahasiswi ini nanti; dosen, wartawan, pengacara, aktivis, manajer, banker, presiden direktur, gubernur, atau menteri? Never underestimate what a university can do to people.

Lagipula, saya agak merasa terhina bahwa undang-undang sampai perlu membuat kuota untuk keterwakilan perempuan. Kesannya perempuan adalah "makhluk khusus yang tidak bisa menolong diri sendiri". Banyak yang percaya bahwa perempuan sama mampunya dengan laki-laki untuk jadi politikus. Masalahnya adalah, ketika ada dua calon, laki-laki dan perempuan, yang sama kualitasnya, apakah gender berpengaruh terhadap pilihan masyarakat? Di sinilah diskriminasi harus dilawan, bukan asal mencalonkan atau memasukkan perempuan ke dalam parlemen.

Apabila perempuan tidak banyak atau tidak mau menjadi caleg, apakah itu berarti ada budaya diskriminasi atau pengaruh budaya patriarki? Saya sih menyarankan cari jawaban lain saja. Misalnya, cek kembali apakah legislatif itu pekerjaan yang menarik atau tidak. Bukankah lebih seru jadi presiden direktur perusahaan kosmetik raksasa atau pekerja NGO yang keliling dunia ketimbang jadi anggota di lembaga berkredibilitas terburuk di negara ini?

Lagian, kenapa bukan para aktivis yang demo itu saja mendaftar jadi caleg. Niscaya kuota 30% akan terpenuhi. Daripada demo dan membuat macet cet.

Lalu soal mengakomodasi kepentingan perempuan. Let's see, Condolizza Rice itu kebijakannya sangat maskulin, mendukung invasi Amerika ke Irak, tanpa peduli berapa wanita yang akan mati nantinya. Dan (tadinya) Hillary Clinton adalah salah satu pendukung kebijakan ini. Tapi coba lihat ke Bangladesh, Prof. Muhammad Yunus memberikan kredit mikro yang lebih ditargetkan pada kaum perempuan. Jadi, mari pertanyakan kembali apakah perempuan akan selalu properempuan atau laki-laki akan selalu mendiskriminasi perempuan.

Makanya, dari awal saya sudah malas kalau anggota parlemen atau penduduk miskin dihitung dari jumlah laki-laki vs perempuan. Saya yakin proporsi fifty-fifty akan segera terpenuhi apabila perempuan mulai menyadari kalau menjadi wakil rakyat itu penting, sama seperti pendidikan dan masuk universitas. Tapi sebelumnya, taraf hidup akan seimbang kalau setiap perempuan berjuang untuk diri masing-masing dan orang sekitarnya.

Pada dasarnya, saya bersyukur tidak hidup di zaman dulu di mana perempuan tidak punya hak pilih dan kepemilikan. Thanks to (early) feminists. But we don't need this quota. Women and men may be different, but not so in capability and opportunity, I believe. Perlakuan berbeda harusnya diberlakukan terhadap individu, bukan antara laki-laki dan perempuan.

*Harus diakui, perjuangan akan nasib perempuan seperti melawan KDRT masih perlu, walaupun, lagi-lagi, KDRT pun terjadi pada laki-laki, walaupun jumlahnya kecil.

Monday, March 16, 2009

Soal Duit Talangan Itu...

Gak tahan saya gak posting. Tadinya saya pikir berita ini cuma menarik buat saya karena saya belajar tentang Amerika. Tapi gara-gara Gentole yang ngepost ini di blognya, saya jadi nyadar kalo masalahnya bukan tentang rakyat Amerika, tapi lebih ke soal proletar vs borjuis.

Okeh, mari lihat beritanya dari The New York Times:


Benar-benar paragraf pembuka yang "catchy". Lihat deh jumlah komennya, itu dicapai cuma dalam jangka beberapa jam berita ini diturunkan. Dan sekarang udah ditutup. Di Washington Post sendiri, yang pertama kali mengeluarkan berita ini (dengan paragraf pembuka yang gak seheboh ini) udah ada 1200-an komen saya lihat tadi pagi. Parahnya lagi, komen-komennya gak ada yang manis. Semua mengutuk AIG.

Sebelum lanjut, coba lihat dulu alasan AIG bagi-bagi bonus begitu:


Tambah lagi:


Jadi intinya begini (bagi yang malas baca): pemerintah menalangi AIG yang rugi miliaran dolar itu supaya tidak bangkrut, karena kalo bangkrut akan memperparah krisis. Dana talangan itu jumlahnya $170 miliar, dari mana? Tentu saja duit pajak rakyat. Nah, kemaren AIG bagi-bagi bonus sejumlah $165 miliar untuk petinggi-petinggi dan staf di bagian produk finansial, yang merupakan salah satu sumber krisis ekonomi di AS. AIG bersikeras bahwa bonus itu harus dibagi karena sudah tertera dalam kontrak yang dibuat tahun lalu sebelum krisis, dan tidak bisa diganggu gugat. It's legal.

Yah, saya ini ngerti apa tentang ekonomi. Lagipula bukan orang Amrik. Tapi saya setuju dengan mereka, kalo tindakan AIG tuh gak ada logikanya, jadi bikin geregetan. Inti komen-komen tersebut kira2 gini (ditambah dalam kurung komentar saya:p):
  • !@#$%^&*! (ya jelas sih)
  • Ada beberapa pengertian bonus. Kalau dalam konteks karyawan dan perusahaan, bukankah bonus itu artinya uang yang diberikan di luar gaji, terutama kalau perusahaan untung, sebagai reward untuk performa karyawan yang bagus? (Ternyata di AIG, bonus ditentukan sebelum ada hasil. Ck...ck...ck)
  • Ni orang-orang dipecat ajah karena performanya buruk (yaah bayar pesangon juga doong).
  • Atau AIG dibiarin bangkrut sajah, ekonomi bakal baik-baik aja kok (pasti yang ngomong bukan pelanggan AIG)
  • Pengertian "best and brightest talent" juga perlu dipertanyakan kaya'nya. Maksudnya menjerumuskan dunia ke dalam krisis dan tetep dapet bonus untuk itu? (Waduh, kalah deh DPR kita yang bisanya cuma naikin gaji sendiri dan beli jaguar).
  • Bukannya dana talangan itu harusnya lebih diutamakan untuk pemulihan ekonomi; dengan menjaga uang rakyat (pembeli polis), dan menstabilkan kondisi finansial secara umum? (Apa pemerintah AS gak ngobrol dulu sebelum ngasi duit, gimana dana itu akan dihabiskan? Mmh...apa negara kita emang lebih pintar mengatasi krisis daripada AS?)
Makanya, jadi CEO perusahaan sekaliber AIG aja. Keuntungannya, kalo perusahaan bangkrut, semua orang, termasuk pemerintah, kalang kabut nalangin. Trus bisa merayu perusahaan buat bikin kontrak untuk kepastian bonus tahun berikutnya (atau tu bonus segitu gedenya sampe gak ketutup ama profit satu tahun aja? duh, masih bengong dengan kontrak bonus itu).

Untungnya gak semua komentar mengutuk doang, ada juga yang memberi saran, misalnya (kalo ada hati nurani) bonusnya disumbangin aja, atau para eksekutif bisa menolak bonus. Tapi yang menurut saya paling keren dan ampuh (sayangnya gak bisa diterapkan untuk DPR kita karena mereka pembuat undang-undang):



hihihih...



Saturday, December 27, 2008

When Will You Visit, Mr President?

This article just struck me, as I had grown to realization (or cynicism) that Obama's childhood memory in Jakarta would do nothing to his foreign policy:


Read article

Of course! It's a brilliant touch of diplomacy! He could gain much from Indonesia's sentimentality of the country's mention in the world (if you don't believe in our easy euphoria on Indonesia's mention overseas, go watch any international badminton match; the audiences blast and rumble, showing much respect to the few athletes who could bring Indonesia internationally). Then who else would get much praise from the country for making it famous not as a source of terrorists and natural disasters, but as a nice friendly country for living? A President of the United States will do.

It's true that Obama's years in Jakarta would contribute nothing to his foreign policy. Had not Indonesia the largest Muslim population in the world, it would remain less important to the US. I was so cynic about Obama's policy toward Indonesia that I forgot our country now plays a more critical role in the Islamic world than the Middle East, thanks to the bombings and fundamentalist movements in our country.

However, if the visit comes true, cynicism remains. What would a POTUS do to overcome extremism here? Obama may be a charismatic leader and great orator, but some groups are less sentimental than others.

Sunday, December 14, 2008

Bisnis Angkot di Padang

beberapa waktu lalu, ibu saya membahas seorang sepupu saya yang jadi sopir angkot.

"kasihan tuh uda xxx, angkotnya sudah jelek, gak ada penumpang yang mau naik, apalagi anak sekolah."

ingatan saya kembali ke masa lalu waktu masih sekolah di Padang. di kalangan anak sekolah, naik angkot jelek dan tidak dihias bisa kena sanksi sosial alias dicap tidak gaul. tidak dihias? yup. angkot-angkot di Padang merupakan seni. seni dekorasi dan seni marketing.

pertama, seni dekorasi. berdasarkan ingatan dan penglihatan saya saja, angkot yang pertama dihias hanya ditempel stiker superbesar di kaca belakangnya atau ditambah bumper di depannya yang dicat warna seronok. setelah itu merambah deh stiker-stiker itu ke kaca depan, kaca samping, bodi samping mobil, bahkan pelek. kalaupun tidak dipenuhi stiker, kacanya pun yang berwarna gelap, sehingga tampak lebih “mahal”. kadang gambar-gambar atau tulisan dekorasi itu bukan hanya stiker yang ditempel, tapi juga dicat!

angkot macam ini tidak lengkap tanpa sound system yg canggih. lagu-lagu di angkot hampir selalu bisa terdengar ke luar. bahkan dari jarak 50 meter. lagunya beragam dari dangdut, dangdut disko, lagu minang, minang disko, pop, rok, disko, alternatif, barat dan indonesia. anak sekolah umumnya cuma mau naik angkot dengan musik keren (maksudnya selain dangdut dan lagu minang). saya ingat seorang sopir angkot mengganti lagu minang yang sedang diputarnya agar anak sekolah mau naik. memang kalau ketahuan naik angkot yang lagi pasang lagu dangdut atau minang, rasanya malu. pernah juga seorang teman sok-sok berjoget mengikuti lagu dangdut di depan sebuah angkot yang ngetem. ternyata ia sedang meledek temannya yang ada dalam angkot itu. saya sendiri, terutama paling sebal kalau terjebak masuk angkot yang sedang memutar lagu Kutang Barendo. kayak gak ada lagu lain aja.

kedua, seni marketing. entah sadar atau tidak, sopir-sopir angkot ini telah mengamalkan integrated marketing system yang mungkin tidak pernah dipelajarinya di bangku kuliah (bukannya meremehkan, tapi kalau mereka punya ilmu manajemen pemasaran, gak bakal jadi sopir angkot). karena penasaran, saya bertanya pada teman yang bapaknya pernah punya armada 12 biskota dan bis antar kota (fyi, yang dihias bukan hanya angkot minivan, tapi biskota juga). katanya memang sopir-sopir itu berinisiatif menghias bis mereka, karena didorong persaingan. menyetir bis dengan hiasan keren, ternyata merupakan prestise bagi sopir-sopir itu. lagipula, hiasan di bis toh berhubungan dengan jumlah penumpang. kalau ada dua bis ngetem; yang satu dihias dan yang satu tidak, maka penumpang akan memilih yang dihias. maka tersingkirlah orang-orang seperti uda saya itu yang masih berpikir kalau menghias angkot cuma added-value. menghias angkot adalah investasi. titik.

oh, ya, soal dekorasi, jangan bayangkan stiker-stiker yang memenuhi badan mobil itu adalah tulisan-tulisan seperti “susah senang berdua” atau “kutunggu jandamu”. beuhhh…! stiker superbesar atau hasil cat yang dipasang di kaca depan atau belakang angkot adalah bentuk logo produk-produk tertentu, walaupun banyak juga yang memasang nama anak. makanya, angkot-angkot itu jadi punya nama. dulu sobat saya si Rika itu punya angkot favorit tiap kali ke rumah saya (jaman dulu memang angkot yang keren cuma yang jurusan rumah saya), namanya OP (dari logo merek baju Ocean Pacific), dan kami pernah menunggu 2 jam untuk angkotnya itu, hanya untuk menemukan bahwa si sopir OP sedang memutar lagu dangdut :D akhirnya Rika memilih menunggu angkot yang lain yang lebih “keren” lagunya. saya juga ingat ada angkot yang memasang logo sendal jepit OGAN di kaca depannya. sudah kayak mobil F1, penuh logo-logo sponsor di badannya. anyway, sopir OP itu tahu tidak ya, kalau  brand-nya sudah nancep di kepala si Rika. sama seperti penggemar kopi yang hanya mau beli Starbucks.

dan seperti Starbucks yang diikuti oleh kafe-kafe semacamnya (itu tuh, kafe tempat ngopi atau ngedonat atau ngesandwich yang lebih menjual suasana; enak untuk dijadikan tempat ketemuan dan kongkow2), angkot keren yang dulunya cuma ada di jurusan rumah saya, sekarang sudah menular ke beberapa trayek lain. saudara sepupu yang saya sebut-sebut tadi, trayeknya jauh dari rumah saya, yang dulunya angkotnya memang standar seperti di Jakarta.

dari segi dekorasinya juga udah berkembang. dulu cuma stiker-stiker dan cat serta musik. angkot sekarang sudah ada tivi, video klip, dan tema seperti di foto. apalagi biskota. dulu jaman saya sekolah, biskota memang sudah dihias juga, dengan musik superberisik. terakhir waktu saya ke kampus UNAND (kira2 tahun 2004), biskotanya sudah pakai tivi dan lampu bulat warna warni seperti di klub. untung penumpangnya tidak sampai dugem hehehe...

saya hanya pernah melihat angkot macam ini di cilegon. di tivi juga saya pernah lihat, tapi itu di suatu kota di Sulawesi, saya lupa tepatnya. waktu saya cerita itu di rumah, kakak saya langsung nyeletuk, itu sopirnya pasti orang padang.” :p well well well, apa itu namanya? ekspansi? penciptaan trend? apa culture naik-angkot-harus-yang-keren sudah menular ke kota lain? sama seperti culture koran Kompas. tahu kan koran Kompas? teman saya yang pernah training di sebuah stasiun televisi cerita, waktu semua peserta training disuruh membawa koran, 2/3nya membawa Kompas. ck ck ck...

sayangnya belum ada penjelasan ilmiah mengenai angkot ini. siapa yang memulai? apa memang ada niat menciptakan trend? apa sopir dan saudagar angkot di padang sebegitu makmurnya (wong di jakarta aja sopir angkot masih fokus pada usaha mendapatkan ongkos yang “benar” dari penumpang)? gimana bisa di kota Padang yang orang-orangnya gak konsumtif itu sopir angkotnya mempertahankan "nilai lebih" yang sebenarnya gak perlu2 amat? setidaknya penjelasan ilmiah (sudut pandang bisnis kek, ekonomi kek, atau sosial budaya) akan lebih baik daripada coret-coretan saya yang tidak pernah belajar ekonomi dan marketing ini.

Thursday, December 4, 2008

Obama's Campaign Realization?

The New York Times, December 1, 2008

President-elect Barack Obama put the rancor and even some of the rhetoric of the presidential campaign behind him on Monday as he welcomed his chief Democratic adversary into his cabinet and signaled flexibility in his plans to withdraw troops from Iraq.
..

Does this mean that no politician can be trusted?

Tuesday, December 2, 2008

(supposed to be) 10 songs i listen to during commuting

Kira-kira beberapa bulan yang lalu saya kena tagged oleh teman saya Ika. Tau kan, tagged? Itu tuh, posting 10 hal tentang si pemilik blog, lalu dia akan men-tag 10 teman blogger-nya untuk memposting 10 hal juga di blog masing-masing. Waktu baca posting Ika itu, saya tersanjung tapi bingung. Malas bikinnya euy. Gak kebayang orang se-introvert saya bikin posting kayak gitu. It won’t kill me, I know, tapi kan mallyyuu…:p


Akhirnya saya dapat ide setelah baca blog musik sontoloyo (yap, that’s how the owner define the blog) punya teman saya (actually, itu punya senior saya waktu kuliah, tapi kita tidak saling kenal, nah ada teman saya yang jadi guest blogger tetap di situ, makanya saya baca terus). Blog itu tentang album dari piringan hitam mereka koleksi. Tapi belakangan pemilik blog dan blogger-tamunya yang lagi kuliah master dan Phd di Amerika itu pada sibuk-sibuknya, jadilah mereka posting standar “10-piringan-hitam-yang-sering-saya-putar-saat-ini”.


Tapi saya bukannya mau posting tentang 10 album yang sering saya putar saat ini. Ini lebih spesifik, lagu-lagu yang saya dengar waktu commuting saat ini. Commuting saya sih biasa-biasa aja, jarak relatif dekat, gak makan waktu amat, dan gak lewat 3 propinsi seperti pekerja middle class Jakarta pada umumnya. Lagipula, lagunya tidak sampai 10. mungkin lain kali saya akan menemukan lagu lain yang enak juga didengar di jalan.


Karena waktu commuting saya terbagi sepertiganya jalan kaki dan sisanya dalam angkutan umum, lagu-lagu commuting ini saya bagi menurut jalan kaki atau dalam angkutan. Ohya, berhubung saya pendengar musik yang kurang ngeh sama lirik, penyusunan lagu berikut cuma berdasarkan tempo, mood, irama, dan lain-lain. Jadi bukan lagu-lagu tentang commuting atau travelling lho.


ANGKUTAN


Lagu apapun yang lagi saya sukai saat ini

Untuk pagi-pagi, saya suka memutar apa saja, tergantung lagu apa yang lagi saya suka. Rock, pop, classic, alternatif, punk, dll. Apalagi kalau harus berdiri dalam angkutan yang penuh sesak, mana sempat meraba-raba kantong buat ganti lagu. Let it flow aja lah.


Vrijeman – Sore

Setelah cari-cari info di internet, katanya Vrijeman bahasa Belandanya free man. Dan mungkin diterjemahkan jadi preman? Entahlah. Untuk mengerti lirik lagu ini memang perlu sedikit mikir. Yang jelas, lagu ini enak didengar pagi waktu berangkat kantor atau sore-sore pulang kantor.


La Mème Histoire – Feist

Lagu ini soundtrack-nya Paris Je T’Aime, kumpulan film pendek yang isinya tentang cinta. Cocok banget kalau lagi hujan, trus ngeliat keluar jendela, ngeliat pantulan cahaya di genangan air, atau ngeliat tetesan hujan yang kena sinar lampu kota. Kalau kamu lagi kencan sama pasangan atau gebetan dan terjebak hujan, dengerin lagu ini deh. Dijamin… hm… dijamin apa ya hehehe…


JALAN KAKI


Marquee Moon - Television

Tidak banyak yang kenal band ini, yang jelas band ini salah satu inspirasi The Strokes. Saya pun tidak akan tau kalau tidak diperkenalkan oleh teman saya penulis blog musik tadi. Dia juga yang menyarankan lagu ini didengar sambil jalan kaki. “The rhythm suits your steps,” katanya. Memang benar, saya rasa temponya pas sekali dengan kecepatan langkah saya. Apa temponya sesuai juga dengan kecepatan langkah orang lain? Wah, kurang tahu. Yang jelas, lagu ini saya dengar tidak hanya waktu jalan kaki ke kantor, tapi jalan kaki ke manapun. So, if you ask how fast do I walk, I will say; “I walk as fast as Marquee Moon!”


Neighborhood – Vonda Shepard

dan lagu slow lain dari soundtrack Ally Macbeal. Penonton Ally Macbeal pasti tahu, hampir setiap akhir seri, Ally terlihat berjalan pulang dari kantor ke apartemennya, di jalan yang cuma dilewati satu dua orang, dan selalu diiringi lagu, mostly lagu slow, lalu muncul credit title. Kadang diliatin juga teman-teman Ally yang lain, tapi biasanya mereka jalan sendiri-sendiri, setelah seharian bekerja dan ketemu banyak orang. Adegan ini menurut saya dalem banget. Apalagi kalau scene-nya pas salju mulai turun. Makanya, lagu ini saya sarankan didengerin waktu berjalan di tengah hujan. Serasa kaya adegan di Ally Macbeal, hehehe


Live at Hollywood Bowl – Morrissey

Di konser ini Morrissey nyanyiin beberapa lagu, tapi yang saya punya 1 track untuk semua lagu di konser. Jadi durationnya cukup lama, yang anehnya hampir pas dengan waktu saya commuting. Anyway, saya rasa 2 lagu pertama yaitu The Last of the International Playboy dan satu lagu lagi saya lupa, sangat cocok untuk pagi hari karena iramanya yang cepat dan suara Bang Morri yang masih powerful itu benar-benar memberi semangat. Walaupun gara-gara Marquee Moon saya tidak pernah menemukan lagu lain yang seirama dengan langkah saya, yang penting saya tetap semangat jalan kaki mendengar lagu ini.


Baba O’ Riley – The WHO

Lagu ini merupakan lagu rock yang revolusioner pada jamannya, karena ditambah bunyi-bunyian dari instrumen selain tiga instrumen dalam musik rock yaitu drum, bas, dan gitar. Di Baba O’ Riley ada suara keyboard, biola, dan harmonika. Bunyi-bunyi ini terutama ada di intro dan ending, dengan tempo yang makin lama makin cepat. Benar-benar membuat saya pengen jingkrak-jingkrak. Again, temponya terlalu cepat untuk langkah kaki saya, coz kalo maksa nyamain, saya pasti harus berlari. Yang jelas, jangan dengerin waktu lagi duduk diam. Gak seru…


So, what about you? Siapapun yang baca ini, silakan men-tag diri sendiri...:)

Sunday, November 9, 2008

Laskar Pelangi: the (yet) Unsuccessful Mission of Andrea Hirata

Warning: don’t read this if you haven’t read and don’t want to know the ending of Laskar Pelangi.

Have you read the facts about Laskar Pelangi?

It became a turning point in my mind that made me stop believing that Andrea wrote LP just for fun and maybe a little hope of teasing the government about the bad education system. He did create it in a mission to criticize the government, to fight for a better education system through novel.

Although the LP facts may come from unreliable sources, it stops a debate between me and my boyfriend (and maybe all LP readers after watching Kick Andy); whether Lintang is real or not.* He concludes that because he was annoyed by the fact that Lintang is suddenly marginalized for the sake of Ikal’s existence. He thinks someone as smart as Lintang isn’t likely to end up being a mere truck driver. With that brain, he could find the way to go to school or study anywhere besides being a breadwinner for the family, or he would be able to establish his own business as he grows up, or he could be at least a supervisor at PN. Timah. Aren’t Bill Gates and Steve Jobs dropouts too?

At first I disagree with the idea. Bill Gates and Steve Jobs are college dropouts. Thus, they already got secondary education to survive in the society. I mean, will a junior high school dropout such as Lintang be able to make or read a company’s financial report? Does someone who doesn’t go to high school know basic statistics or math? Again, with that brain, he can learn that fast if given appropriate books. But this post is not created to argue about LP’s illogical issues or Lintang’s real existence, because the LP facts may be unreliable, it’s about the aforementioned Andrea’s mission behind the Lintang irony.

I believe one reason for Andrea didn’t make Lintang a successful and wealthy person in the end – the same reason if he really created Lintang – is to show how bad our education system is. If he had made Lintang successful, or he hadn’t created Lintang, readers would conclude that it is okay for children who came from poor family to study at improper school or even quit it, because if they had brain and will, they would become successful or go to Sorbonne anyway. I believe that is not what Andrea wants to say (supported by facts no 2 about May 2nd, but again, if it’s true :p). He wants to say that something is really wrong with our education system, that someone had to be at least a high school graduate to survive in the society (wajib belajar 9 tahun, bo! negara-negara lain wajib belajar sampe SMU, tapi di Indonesia wajib belajar sampai SMP aja belum tercapai)

That’s why Riri Riza and Mira Lesmana put Chapter 31 Articles (1) of UUD 1945 at the end of the movie; “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” When I saw the chapter, I thought someone at least got the point. But still, Riri Riza and Mira Lesmana are so far the only people who help continuing Andrea’s mission to criticize the government. I’m sure a lot of people who watch the movie understands the purpose of putting the chapter, but no journalists, for instance, asked the president, who also watch the movie, whether he was tersindir or not and what he would do to provide better education for LP-like children, nor there was demonstration rally to demand better education system. It seems that Indonesians are immune to issues of improper school buildings and the lack of teachers.

Another criticism in LP is poverty and social security. It’s true that those children don’t get proper education. But the story about Lintang, the smartest of all, who has to quit school while he doesn’t even have to pay for it, shows that education system is not the only problem. The social service is to be blame; letting kids, such as Lintang, having to work to support the family. Children should not be the breadwinner because they need time to go to school. That’s why I think Riri Riza and Mira Lesmana are missing one chapter of UUD 45 in the movie. They should have put Chapter 34 Articles (1) also; “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.

Still I think it’s no use. One magnificent novel and movie have not open the government’s (and maybe our) eyes. I think criticizing the government thru art is not a choice in this country.

* It is a common believe that Laskar Pelangi is Andrea Hirata’s real life story, which he admitted in Kick Andy. But no one knows how many fictitious things are added.

Sunday, August 17, 2008

Teringat Thomas dan Uber... - Updated

Yaah...kalah...:(

Ah, the beauty (or pain?) of sports. You can use mathematical logic for past matches, but when the umpire blows the whistle to start a game, do expect the unexpected.