Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Sunday, November 20, 2011

Farewell

 

Alangkah anehnya pertemuan dan perpisahan. Daftar ini tadinya menurutku hanya berupa kumpulan huruf yang hampir sama dengan benda mati. Tidak ada yang kupedulikan selain mencari namaku di sana. Tapi datanglah pertemuan dengan beberapa pemilik nama itu, dan huruf-huruf itu tidak lagi berupa benda mati yang kosong makna. Nama-nama itu, ketika kubaca, kini membuncah menjadi bayangan beberapa sosok dan berjuta kenangan. Tapi hanya itu saja yang tersisa. Setelah meninggalkan jejak mereka dalam hidupku dan mengambil sekeping hatiku bersama mereka, kami berpisah jalan. Adakah kita akan berpapasan lagi kawan? Kalau jalan kita berpapasan nanti, baik-baiklah denganku ya. Aku takut nanti jadi sentimentil. Karena kita tau, semuanya tidak akan pernah sama lagi seperti waktu itu. Entah apa yang akan terjadi kalau kita dipertemukan kembali nanti. Akankah lebih indah atau datar-datar saja? Ah biarlah detik-detik spesial itu hanya untuk waktu itu saja. Dikenang sampai mati. Menjadi penguat ketika jalanku penuh lobang, menjadi pengingat bahwa kita pernah berjalan bersama dalam bahagia. Pengganjal sudut-sudut hati yang sebenarnya pun tidak minta diisi, tapi kadung terhuni oleh kalian. Maka ketika kalian pergi, jagalah sekeping hatiku yang kalian ambil itu, ya. Tuhan tidak cukup berbaik hati dengan mengirimkan kalian saja, tapi juga memilihkan supir taksi yang adem ayem waktu aku menangis sesenggukan di jok belakang dalam perjalanan ke bandara. Dan begitu pesawat kita menunggu untuk kembali ke masing-masing peraduan, aku gelagapan mengingat hidupku sebelum bertemu kalian. Hidup yang sudah kurencanakan akan kulakukan setelah enam bulan itu, yang dengan kagok kucoba sesuaikan diri lagi. Karena waktu bersama kalian, hidupku itu terasa begitu jauh dan asing. Bukan berarti surut hasrat untuk kembali pada hidupku, namun rasa dan asa yang telah mencicipi yang terbaik bersama kalian, ragu akan menemukan tandingannya.

Sunday, June 19, 2011

Les Premiers Verres

Video ini bikin saya pengen jadi penari, penyanyi, pemain trumpet, dan sutradara!

 

Akhirnya saya bikin blog baru. Khusus buat tulisan berbahasa Prancis. Gara-gara kursus Prancis lagi, saya jadi ngeh, betapa dulu buang-buang duit untuk les cukup lama, dan pada akhirnya tu bahasa ilang begitu saja. Saya ngeh waktu ngeliat temen-temen yang semangat sekali mempelajari bahasa baru walopun nggak mudah. Sedangkan saya bisa mencerna dengan gampang karena udah pernah belajar. Jadi, dulu itu les Prancis ngapain aja ha? Kursus dua taun, trus brenti gara-gara skripsi. Trus, dapet kerjaan pertama di media bahasa Inggris, intensif nulis Inggris tiap hari, jadi Prancisnya gak bersisa.

Sekarang, mumpung dilesin gratis, dengan jam hiper-intensif, untuk nantinya ikut ujian DELF, nggak boleh main-main dong. Saya bercita-cita Prancis saya tetap harus lancar, walopun udah kelar les dan dapet sertifikat DELF sekalipun. Walopun nanti ke Prancisnya cuma sebagai turis. Walopun udah pulang dari Prancis (deeuu gaya) trus kemungkinannya kecil buat ke sana lagi. Saya percaya bahasa apapun pasti berguna. Walopun kecil. Keciiiiiiiiiilllllll.

Masalahnya, curiga bahasa yang udah dikuasai jadi rusak. Seperti waktu saya di media Inggris itu. Makan Inggris tiap hari, jadi dadah deh Prancisnya. Nah, sekarang lagi makan Prancis tiap hari, kalo gak ngatur diet Inggris juga, bisa barabe nantinya. Well, sudah terbukti kok. Setelah sebulan les, saya ujian TOEFL, tanpa persiapan apa-apa. Hasilnya? Turun beberapa poin, setelah bertahun-tahun statis! Ah jangankan saya yang gak lagi nulis atau ngomong Inggris tiap hari. Senior-senior saya yang di media Inggris itu, kalo nulis dalam bahasa Indonesia, udah keinggris-inggrisan kali gayanya. Bahasa Indonesia, tapi nggak Melayu dan nggak Timur.

Untung ada teman saya si Miss Butterfly. Dia ujug-ujug minta diajarin bahasa Inggris. Tersanjung, senang, dan kuatir. Pengalaman saya ngajar Inggris cuma untuk mahasiswa di kelas Academic English. Untuk ngajar privat dengan orang seumuran saya, yang pastinya juga pernah belajar Inggris, jadi bingung mau mulai di mana. Dianya gak keberatan mulai dari awal lagi. Walopun dari awal, gak mungkin saya ngajarin dia seperti anak SD lagi; “anak-anak, I harus diikuti dengan am dan verb+ing yaaa!” Saya cuma ngingetin dia lagi, kapan make verb+ing, verb+ed, verb II, III, dll. Segala macam tenses itu lah. Walopun jadwal lesnya sering terhambat kesibukan masing-masing, dan walau saya pun gak tau mana yang present tense, future simple, dan past perfect, cuma tau penggunaannya aja, tapi seneng banget bisa ngebantu, dan nemuin cara buat mempertahankan Inggris saya. Saking senangnya, saya jadi suka ngasih peer dan menerornya dengan bilang “peer” di mana-mana; di sms, YM, dan jejaring sosial. Hihihih. Maapkeun gurumu ya nak.

Anyway, jadilah saya bikin blog itu. Karena tulisan yang diposting masih culun macam cerita liburan, bikin surat, dll, saya kasih judul Les Premiers Verres. Artinya gelas anggur pertama, maksudnya, masih pemanasan (maksa gak sih). Terinspirasi dari lagunya Beirut, Un Dernier Verre. Kenapa Beirut? Ini gara-gara guru saya kadang ngasih lagu buat ngebantu kita belajar. Jadi saya ikut-ikutan nyari lagu-lagu Prancis. Sampai nyasar ke Beirut. Seingat saya, mereka dari Kanada, karena beberapa lagunya pake judul bahasa Prancis. Seperti Arcade Fire yang memang dari Kanada, yang juga menjuduli beberapa lagunya dengan bahasa Prancis. Ternyata Beirut tuh band Amerika, yang kebetulan saja terinspirasi oleh musisi Prancis untuk album kedua mereka, The Flying Club Cup. Mereka memang banyak dipengaruhi musik-musik di luar Amerika, termasuk Balkan dan Meksiko.

Jadi, sekarang saya mentok di video di atas. Suka banget musiknya, suka banget klipnya, tapi nggak berani saya pajang di fesbuk karena sodara-sodara saya yang udah jadi “teman” bisa melotot ngeliat tarian-tariannya yang rada nyeleneh.

Ah siapa sih yang nyiptain tombol replay? Saya sampe gak bisa bikin peer gara-gara liatin ini terus.

Tuesday, March 29, 2011

A Piece of Me

A chat with an old friend reminds me of old days and the laughs. He really made my day!

He: ... yang aku inget dari kamu tauu ga
Me: apa?
He: pas makan pecel lele minta tambah nasi .. "mas nasinya tambah donk kan saya tidak minta setengah" HAHAHAA
He: :D
He: hadehhh
Me: hahaha
Me: loh abis sapa suruh si masnya sok tau
Me: mentang2 gw kecil kurus
Me: dikira gw makan porsi setengah
 

But seriously, that mas pecel lele near our old office gave him full-plate portion and me half-portion instead. Without even asking me. I was offended. Ain't stereotyping fun, eh?

Wednesday, January 5, 2011

After the big day

stock-photo-young-woman-sitting-on-year-old-law-books-covered-in-dust-wearing-judge-s-robe-and-black-895353 After years of expensive education
A car full of books and anticipation
I'm an expert on Shakespeare and that's a hell of a lot
But the world don't need scholars as much as I thought

 

 

That’s right. After two and a half years of (half-read) thick books and expensive education, and monthly airline tickets in the last one and half year for flying between work and school, all i get is three letters and a dot behind my name.

Not that i regret them, though. It makes me realize more that school is one of activities when process is more important than the result. Really, education process is extremely important than the result, even when you think you’re grown-up and “educated enough” or when you work for an insitution where titles matter most.

Well, especially when your defense exam is nothing like you expected. Mine’s neither easier nor harder. It’s just, well… unlike anything i expected. But it happens to anyone, i think. And i hate that i only feel half relieved. All this time the thesis had been my fight, and now the battlefield is empty. It’s been my excuse of not doing anything else (like getting married), but now i don’t know what to say when people say “what next?”

At least i’m still twenty-something like in the song. Late twenty something. Don’t mean to be ungrateful, but don’t you wish sometimes that time stand still? That youth will stay? So i’ll take formal education again and again and swallow all the uselessness. Also i’ll travel the world where the real education is, in best health.

Come to think of it, i actually haven’t got the title yet. I should finish the revision first.

*curhat gak jelas. cuma mau pamer sudah lulus hehehe

Wednesday, June 2, 2010

Event Empat Tahunan Itu

television-0808-lg-70431065 Akhirnya Juni datang juga. Bukan sembarang Juni. Ini Juni 2010, kawan. Setidaknya dalam perencanaan bulan ini, saya tidak hanya mikirin kerjaan, tapi juga hiburan. Hiburan di TV. Senangnya.

Biasa saja ya? Masalahnya, saya bukan penonton TV akut. Mungkin benar kata dosen saya yang ahli media itu, kalau pemirsa atau audience, maksudnya, pengonsumsi semua media, terbagi karena kultur media yang berbeda-beda. Pembagian ini bisa dilihat dari kelompok umur, misalnya. Umur 15-40 cenderung aktif di internet, sedangkan umur 40 ke atas lebih suka nonton TV dan agak gaptek di dunia maya. Ah saya lupa pembagian lainnya. Bahkan budaya pemirsa di tiap negara juga beda. Dosen-dosen dan teman-teman yang pernah ke Amerika sering cerita betapa menarik pengaruh televisi pada pemirsa di sana. Mungkin sebagian besar isinya tidak beda dengan TV kita; opera sabun, berita, gosip. Tapi yang menarik adalah talk show, yang hanya baru-baru ini menjamur di TV Indonesia, serta standing comedy.

Anyway, makanya salah seorang teman saya yang pernah lama di Amerika agak kaget waktu melihat saya berpikir cukup lama waktu ditanya “berapa jam sehari elo nonton TV?”. Dan saya menjawab; “mungkin lebih tepat kalo pertanyaannya berapa jam seminggu.” Pada akhirnya saya pun kebingungan menjawab pertanyaan berapa jam seminggu itu. Tepatnya, waktu ditanya itu saya sudah lupa kapan terakhir kali nonton TV :D

Belakangan saya sudah agak insaf. Hanya membaca berita dan melihat foto-foto di internet (bagi saya, video streaming masih barang mewah karena kecepatan internet saya hanya di level mediocre) tidak cukup. Saya butuh gambar bergerak dan suara dari TV. Tapi menonton TV pun biasanya tidak bisa lebih dari 5 menit. Duduk manis dan memegang remote malah membuat saya bingung.

Acara yang bisa bikin saya betah di depan TV selama lebih dari 5 menit cuma pertandingan olah raga. Dan itupun nggak semua. Saya sudah berhenti nonton Serie A dan Premiere League entah sejak kapan, karena malas begadang. Saya juga gak nonton F1 yang ada tiap minggu. Not my kind of game lah. Mungkin kalo saya berlangganan ESPN atau saluran olahraga semacamnya, saya pun memilih-milih tontonan; tenis dan badminton (kalau ada).

Makanya Juni tahun ini jadi istimewa. Juga mengingatkan saya pada cerita empat tahun lalu. Waktu itu saya sudah bekerja beberapa bulan sebagai wartawan di sebuah koran terkemuka. Pekerjaan pertama saya. Gaji lebih dari cukup, sehingga bisa ngekos dekat kantor dengan fasilitas lumayan; 3,5 X 3, kamar mandi sendiri dan ber-AC. Tapi gak ada ruang ngumpulnya, apalagi TV. Tipe kosan individualis di daerah perkantoran Jakarta. Semua orang punya TV masing-masing.

Ceritanya, saya ngekos dari awal tahun 2006. Sampai pertengahan tahun, saya bisa hidup tanpa TV. Tapi akhirnya saya beli TV. Apalagi kalau bukan gara-gara Event Empat Tahunan Itu. Mau nonton di mana? Kagak mungkin numpang. Saya ragu teman-teman kos saya ada yang suka nonton Piala Dunia. Maka saya memutuskan untuk beli TV.

Hebatnya, ada salah satu perusahaan elektronik yang menjual TV khusus untuk menghadapi Piala Dunia. Saya tidak ingat iklannya menyebutkan secara eksplisit segmen itu. Tapi bisa ketahuan dari cara displaynya; di TV itu sedang diputar pertandingan sepakbola klub Eropa, yang tidak lazim disiarkan siang-siang begitu. Ketika saya tanya itu pertandingan apa, si penjaga toko bilang kalo itu pertandingan rekaman. Yak, si TV khusus Piala Dunia ini punya pemutar DVD dan perekam VCRnya. Built in, bukan device terpisah. Dan ada tulisan di bawahnya; “Dengan pemutar DVD dan VCR. Merekam program kesayangan yang tidak sempat Anda tonton.” Perekam VCR itu terbukti sungguh berjasa, ketika saya ketiduran dan melewatkan salah satu pertandingan semifinal. Untung perekamnya sudah diatur.

Peluncuran produk ini saya rasa sungguh berani. Kebanyakan rumah tangga sudah punya TV. Gak ada yang beli TV gara-gara Piala Dunia seperti saya. Ini terbukti dari pengalaman teman sekantor saya. Dia disuruh nyari berita tentang pengaruh Piala Dunia pada tingkat penjualan TV. Saya langsung cerita tentang TV Piala Dunia saya, dan menyanggupi untuk menjadi narasumber, kalau-kalau dia membutuhkan kutipan dari sisi orang yang beli TV untuk Piala Dunia. Ternyata beritanya gak jadi. Gak ada data peningkatan penjualan TV menjelang Piala Dunia. Gak ada yang beli TV hanya untuk Piala Dunia. Atau mungkin sangat jarang orang yang bisa hidup tanpa TV…

Entah kenapa, pengalaman ini jadi kebanggaan buat saya. Mungkin karena bangga bisa hidup sekian lama tanpa TV. Atau karena saya satu-satunya orang yang beli TV untuk Piala Dunia. Atau karena TV itu barang elektronik pertama yang saya beli dengan hasil keringat sendiri. Atau karena pemutar DVD dan perekam VCRnya. Sepertinya tidak banyak yang make VCR hari gini. Dan setiap orang yang melihat TV saya itu, akan saya ceritain kisahnya.

Sayang, sekarang TV itu sudah lama digudangkan. Saya tidak ngekos lagi. Dan walaupun kakak saya sempat menggunakannya (berhubung gak saya pakai), TV itu akhirnya digantikan dengan yang lebih mahal; TV flat dan pemutar DVD canggih, lengkap dengan tape deck, colokan USB dan speaker bersuara indah. Kasihan TV saya. Habis manis sepah dibuang :( Maafkan diriku, TV. Salahkan acara TV yang kebanyakan gak guna itu.

Ah. Excuse my sentimentality. Harusnya posting ini tentang Event Empat Tahunan Itu. Selamat datang, Piala Dunia!

Sunday, November 8, 2009

To Leave or Not To Leave: Planning while Asking Life's Greatest Question

As a modern woman who grows up in a family of thick Islamic tradition, the science-vs-religion debate always dominates when I try to find answers for life’s greatest questions.

Some of the questions are best left unanswered, though. Life. Death. Coincidence. Soulmate. Aliens.

Not so when it relates to anything that needs immediate action. Before putting something into action, we make plans, considerations, and choices. Choices. That’s my life’s greatest question. I used to think only because I’m cautious that I keep asking. I make choices difficultly. But as time flies, I get used to it and learn to take any risk from any choice I made. Still I keep asking, is life choice or are we led to choose certain options?

If you don’t believe in God, you’ll vote life-is-choice. As a Moslem, I believe that as humans, our destiny has been written. That includes birth, blessing, death, and soulmate.

But it doesn’t mean that life-is-choice answer is only for atheist and agnostic. Even Moslems are told to pursue their dreams, work hard, make plans, and prepare alternative choices. We don’t know how far He interferes. Did He make a certain scenario to unite you and your soulmate? Or He'll just let you struggle to find the one He already choose for you?

Soulmate is not my greatest concern, though. What else can be more intriguing than death? As a twenty-something who just began to enjoy life, I begin to think about death more. Not to mention since the recent earthquake that struck my city last September. Yes, that out-of-date news. We Padang dwellers might have forgot how it feels and continue our lives. But since the geologists believe that last 7.9 SR quake is not “it” - the long predicted massive earthquake followed by tsunami to happen here - we are forced to keep preparing and making evacuation plan. Planning, although we believe when death comes, then death it is.

It appears to us that implementation of the plan is not easy. When the September quake hit, most people ran to higher ground out of fear of tsunami. But some stays. Some who are brave enough and say “God will save us, but if He decides this is our end, then this is it, we cannot run away”.

I believe that we cannot escape death. But what about the plan? The plan made possible by science, which we, human, discover to make life easier? Surely we cannot predict exactly when and where the quake will hit. Fine. But the data of past quakes concludes that it’s time for the earth to "wake up". So, shouldn't we, organization men, prepare, plan, and react in case of danger? And what about the fear itself? The adrenaline rush? Isn’t it created for being an alarm? So we can react in any way that can avoid ourselves from harm?

I thought I had a brilliant answer for that. That we had to react to danger not to avoid death, but to prepare ourselves in case we are alive. Let’s say, to keep us from losing a leg, an arm, or sight in case He hadn’t plan to take our lives yet. But again, isn’t handicap or injury part of destiny? A choice He made for us?

Anyway, running away to higher ground during big quake is not the only plan Padang people have. Now the quake had left the ruin on our land, but we have to move on. We clean the pieces, rebuild the remnant, repair the damage, and of course, make better plans. One of the big plans is to relocate the city's most populous coastal area to higher ground.

Here comes the problem; whether the coastal dwellers are willing to move higher ground. The science-vs-religion debate is just one factor that makes moving the city’s most populous coastal area to higher ground difficult. Some of my Jakartan friends who grow up in Padang, including those whose houses are within 1 kilometer off the coast, say it’s not easy to persuade their parents to move far away from the coast. The reason is clear; they are sure they'll be save if God wish it.

Other factors are money and comfort, especially for the middle-aged group. Most are settled like my parents. Buying a new house or a piece of land is not something "normal" settled people think of, save for investment, maybe. But moving on is like starting all over again, just as the young or the newlyweds buy a new house using their savings or by installment, not by selling an old house to buy a new one. In this relocation case, the settled people can’t hope much in selling their coastal home because of the falling prices due to the tsunami prediction.

If the administration takes risk in relocating the city, it will take years and a bunch of money. They will have to relocate and rebuild government offices and markets. They might have to consider supporting financially the dwellers who are willing to move higher ground but have little money.

The hesitant dwellers may have other reasons we don’t know, though. But while we keep asking whether we make the right choice, we have to keep moving. Even if relocation will not save people's lives, if thousands of us are gonna die in a tsunami, it will help avoiding another financial disaster like now. At least we do something for the next generation. It’s still better than doing nothing. Keep making plan and implement it, and let Him do the rest.

Thursday, May 7, 2009

Karaoke Time and Getting Old

What's so special about karaokeing? To sing a song? Definitely. To ease stress? Might be.Socialization? Yeah it works. So karaoke is best for every one who likes to sing, needs entertainment, and looks for some fun.

I'd be in the socialization category. I go karaoke to enjoy my time with friends whom I consider close enough to let them hear my "beautiful" voice and tease me after that.

And of course, since it's a socialization process, I prefer every one else singing along with me through the song. And I will also sing with anyone holding the microphone when I happen to know the song. The more people sing the song, the more credits I give to the song in terms of "socializing tracks". Anyone who sings a less known song is expected to skip to the next song soon because no one enjoy listening to an unfamiliar song sang not by the original singer.

So for me, karaokeing would be the moment I switch my taste to mainstream music (this is music snob speaking). No Interpol, no Bruce Springsteen (he's not famous in Indonesia), no Jens Lekman, no Wilco, even no Beatles, because none of the people I went karaoke with ever sing Beatles. The only acceptable songs are popular dangdut (I mean like Bang Toyyib or SMS or Jablai, which every one knows), boybands, and some decent pop like Jason Mraz or James Morrison.

That's what I thought. But when I went karaoke about two weeks ago, I realize that not all my theories are true. Yes I had to switch to mainstream (I just found out the newest American Idol is David Cook; the last American Idol I saw was won by Jordin Sparks, and I just realized how beautiful Rihanna is, although I never like her hairstyle), and surely anyone who sings a "snobby" song is forced to change it soon after the second refrain. What amazed me is the songs I considered mainstream apparently are not mainstream at all; most my karaoke mates sang less boyband, dangdut, and James Morrison. The most songs sang are Rihanna's, of which I know is Umbrella only.

I think I'm getting old. No, maybe that's because I went karaoke with friends who are younger than me. Well only one and three years younger. But I don't know most songs they sang; the ones by David Cook, Rihanna, Bow Wow (no longer "Lil", where have I been?). No, it's not me getting old. I'm just getting more snob and watch (M)TV less. What happen to me and MTV? I used to watch it after school and enjoy every program. I knew every new song. Well, maybe I am getting old, as old people like my parents, my older sister and brothers no longer keep up with new artists, albums, and genres. They stick to the music from their era. However, I don't. I also listen to music from decades ago because there are loads of great music back then.

Anyway

Some people don't think snobbism during karaoke a big issue, particularly the ones in the different cateogry. Two of my classmates, both are older than me, said that they hate people singing along with them during karaokeing. "It's my song," one of them told me. "The song is my choice and I don't want other people sing it too." I think these two fall into the karaoke maniacs category. My suspicion was confirmed when one of them told me that he has karaoke at home and his mom stay up until midnight just for karaokeing. Ok, it's in the family.

Or are they just some geezers like me?

I don't mind getting old. And I realize I'm the only one responsible for myself becoming a music snob. All I need to do is changing my karaoke-for-socialization theory. Or should I consider shifting to karaoke maniacs category? I'm a snob, why should I compromise with others' taste? The answer, as usual, is to be pragmatic; depends on the situation, right? :)

Wednesday, April 15, 2009

Dunia Tanpa Kabel

Pernah membayangkan? Gak perlu lagi ngatur posisi komputer, televisi, radio, kulkas, dsb agar cukup jaraknya ke stop kontak. Gak perlu bawa-bawa charger (ponsel, laptop, kamera, PDA) kalau mau traveling. Gak perlu perlu kuatir kalo kabel-kabel itu suatu hari bakal rusak dan harus beli baru lagi.

Mungkin gak si? Saya sih gak tau tentang teknologi, apalagi jaman sekolah nilai fisika saya di bawah rata-rata. Tapi melihat perkembangan teknologi sekarang, apa sih yang gak bisa. Lagian, anggap aja ini request pelanggan untuk produsen peralatan listrik dan gadget.

Situasi saat ini; kabel tampak bertumpuk di sekitar colokan listrik. Kalau gak rajin dibersihkan, kabel-kabel ini jadi tempat ngumpulnya debu. Emang sih, di kantor (dan katanya di rumah-rumah di negara maju dan yang desainnya rapih... well, gak tau ya, saya gak pernah tinggal di luar negeri atau di rumah yang didisain arsitek), kabel listrik disembunyikan di lantai atau dinding. Tapi kalo kabelnya sudah fixed, jadi gak bisa menata ulang ruangan dengan gampang, yang cukup sering saya lakukan.

Jadi bagusnya, antara tv dan colokan gak perlu ada kabel bukan :)

Lain lagi charger. Sekarang kalau mau traveling, charger-charger kunyuk itu tidak kalah penting dari celana dalam dan sikat gigi. Saya bahkan punya tas khusus buat para charger, berhubung harus bawa charger laptop yang cukup besar (ok there's this small thing called netbooks now, but what's the size of the charger? same as ever!).

Kalau travelingnya cuma sehari dua sih gak masalah (itupun kalo gadget-nya lagi full-bat dan pemakaian normal), kalau lebih? Ada gak sih, hape atau charger yang gak butuh kabel atau listrik? Jadi tinggal dijemur (seperti baterai?) atau ditiup-tiup seperti balon. Atau dikasih makan? Err..whatever >=[

Soal kabel rusak. Foto di samping adalah earphone ke-6 yang saya pakai sejak punya MP3 player tahun 2006. Dan yang ini juga rusak! !@#$%^ Dua kabel kecil itu harusnya menempel pada dua bulatan kecil di lempeng penutup itu (excuse my not-so-technical language). Tadinya yang copot cuma satu kabel, tapi dalam usaha saya masangin kembali si kabel yang copot ke tempatnya, kabel satunya juga copot! Jadi gak napsu lagi ngebenerin.

Akhirnya saya meng-google wireless earphone. Hasilnya, sejauh ini baru sennheiser yang memproduksi wireless earphone, dengan harga...ehm...hampir 6 juta (second!). Ada sih, wireless earphone yang lebih murah, buatan Cina, yang pake teknologi bluetooth atau infra red, tapi curiga kualitasnya kurang, coz teknologi yang dua ini kan buat transfer data, bukan musik.

Lagipula, kok agak susah ya nyari wireless earphone yang gak membuat saya kayak makhluk luar angkasa :(

Ada saran?

Wednesday, April 1, 2009

Guilty Pleasure

(in front of PC suddenly think) need some snack...but don't want biscuit...don't want sweet things...

well i can eat later...

(stand-up, walk to the cupboard) ow! indomie!...

(stop short) oh cmon...it's unhealthy...

(back to the computer) i don't have to snack anyway...

(stand-up walk to the cupboard again) when was the last time i eat indomie? years ago, i think...

(take the indomie and suddenly remember) well, it was last week..but hey! they said one indomie in three days is tolerable...

(boil water) still it can kill you...

(put the noodles into the boil) it's even too small a portion for you...

(stir the seasoning into the noodles) you can have other foods, you know...

it's not even expensive or exclusive...(take a bite) O MY GOD!...(there should be happy smiley here, damn blogspot)




Thursday, March 5, 2009

Random Thoughts

which is what bloggers post when we are too lazy to write...

i'm not lazy, though, i just have too many things in mind, which are not important enough and can not be blended to one long enough post.*
  1. i like this year's february. not the days or the activities or the events. it just looks good in calender. 28 days which started on sunday. a perfect 4 X 7 rectangle of dates. and if you forget to switch your monthly calendar to march, no rush. you can use ur february page as 1 - 28 march.
  2. movies are dangerous... they reflect inconsistency of your anti-capitalism spirit while you know any hollywood movies to be released. movie is a tool of smart diplomacy. it helps spreading values, which the viewers realize only after they accept it.
  3. smokers should stop defending themselves by arguing that cigarette factory supports the economy by providing large number of employment. i always do that too when i eat indomie noodles. i know it is unhealthy, but i support the country's economy and pay the labors indirectly, right? so what are you smokers saying? you're increasing the rate of employment? or you want to plant cancer in your body? well, you can do it by eating indomie, which, unlike smoking, spurs no protest from others around you.
  4. one of my lecturers said padang people are capitalists. they leave their hometown looking for money for themselves and never come back to help developing the region. is that correct? well, in my case, it's correct.
  5. bahasa indonesia is not friendly-used for abbreviation because it uses prefixes for most word building, ie: pe-, ke-, me, and di- for verb and noun, while english mostly uses suffixes to create verb and noun. so, KPK might stand for komisi pemberantasan korupsi, kelompok pemutus kredit, or komisi pembahas kostum (koruptor hehehe). anyway, what is PKK stand for? pendidikan keterampilan dan kerajinan? or pendidikan dan keterampilan kerja?
  6. transportation, like the internet, is a two-sided coin. it's amazing how it helps mankind but also changes people. nice people curse when they drive, as well as honest people disobey traffic light. and if you're afraid of flying, you can be a faaaaar quieter person on a plane (or more talkative instead, according to that sophie kinsella's book).
  7. i can't believe i ever write this kind of post. it's so uncreative...
*lagipula sejak kapan posting blog harus penting dan panjang.

Sunday, February 22, 2009

The New Blog Title

it started with the internet. i subscribe to this 3.5G internet service from a GSM provider, which, just like any other providers, is soooooo slow, because so many users share the bandwidth. the only way to surf the web fastest is to do it from midnight to morning, right before people come to the office. i used to think i'd unsubscribe and use the same service from other providers, but i heard the users complained the same thing. so, i choose to surf early in the morning, right after subuh prayer. just look at the bright side, i pray on time now. besides that, it is said that the mind is clearer in early morning. i believe that. so please, early morning, flood me with ideas!

Saturday, November 15, 2008

Lampu Merah...


You Know You've Been in Indonesia Too Long if... ...
When crossing a busy street you believe that a limp wrist motion with your right arm creates a force field that repels oncoming traffic ...

Begitulah cara orang Indonesia menyeberang jalan. Ungkapan di atas menunjukkan keheranan orang asing melihat cara kita. Tinggal mengangkat tangan, mobil-mobil yang lewat langsung setop. Di jalan yang macet, sepi, jalan besar, kecil, jalan protokoler, jalan desa, jalan kota, lampu lagi merah, lampu lagi hijau, lampu lagi kuning, lampu mati, daaaan segala macam jalan. Lambaian tangan adalah jurus sakti untuk menghentikan mobil yang lewat.

Jadi ketika diberi traffic light untuk penyeberang jalan yang dipencet sendiri tombolnya itu, jangan harap semua penyeberang jalan memencet tombol. Jurus tangan sakti lebih ampuh, man! Wong bisa menghentikan mobil kok.

Di dekat kantor saya, agak ke sana dikit (tepatnya di depan Wisma Kodel di Kuningan), ada zebra cross dengan traffic light ini. Memang khusus untuk penyeberang jalan, bukan perempatan. Saya tidak tahu kenapa ada traffic light itu, padahal di sepanjang jalan Kuningan penyeberang jalan harus lewat jembatan. Mungkin karena di seberangnya ada gedung sepenting Imperium?

Anyway, dulunya saya bersikap pragmatis dalam hal pencet-memencet tombol ini. Pencet tombol jugaa, tapi kalau mobil yang lewat sedikit dan lampu belum merah, saya nyeberang juga. Atau kalau ada serombongan orang menyeberang padahal lampu masih hijau, saya juga ikut-ikutan. Saya menganggap diri sendiri sebagai penyeberang jalan yang ahli; tahu kapan harus nekat menyeberang dan kapan harus mengalah.

Untung ada yang mengingatkan. Bukan soal waktu menyeberang yang tepat atau tidak, tapi soal hak. Waktu lampu masih hijau, itu hak pengendara mobil untuk jalan terus tanpa diganggu gugat. Coz walaupun tidak kentara, pengendara mobil harus mengurangi kecepatan atau mengerem kalo ada penyeberang, tergantung jarak atau kecepatan si mobil. Baru kalo lampu udah merah, orang berhak menyeberang jalan. Gimana mau jadi bangsa yang disiplin, kalo rambu lalu lintas aja gak ada guna di Indonesia.

Jadilah saya mengurangi sikap sok-ahli-nyeberang-jalan itu. Walaupun kadang tergoda melihat jalan lagi sepi atau ada serombongan orang menyeberang ketika lampu masih hijau. Saya bahkan punya pembenaran “kasihan pengendara mobil, tertahan gara-gara rombongan-bukan-pemencet-tombol waktu lampu hijau, dan harus berhenti juga untuk rombongan-pemencet-tombol seperti saya waktu lampu merah.” Tapi akhirnya setelah beberapa hari, saya bisa juga keukeuh untuk tetap menunggu lampu merah. Apapun yang terjadi! Menerapkan disiplin ternyata sesingkat itu.

Tapi sejauh ini saya masih minoritas. Kalau ketemu orang yang mencet tombol dan nunggu lampu merah, saya langsung takjub dan menyimpulkan sembarangan; ini orang pasti highly educated, sering bawa mobil, dan pernah tinggal di luar negeri (hahaha, teman saya pasti bilang ada nada narsis di sini). Rata-rata orang gak mencet tombol tapi langsung mengamat-amati lalu lintas, mencari celah buat menyeberang.

Pengendara mobil gak kalah parah. Kadang ada yang tetep jalan walaupun lampu lagi merah. Saya bahkan pernah diteriakin pengendara motor gara-gara hampir menabrak saya, dia ngotot mau lewat padahal lampu lagi merah. Apa karena waktu itu cuma saya yang menyeberang jalan atau jalan itu emang milik nenek moyangnya, saya tidak tahu. Tapi saya yakin itu akibat tak langsung dari ketidakdisiplinan penyeberang jalan juga; si lampu-pencet jadi tiada guna.

Ada juga yang sudah mencet tombol tapi langsung menyeberang waktu jalanan lagi sepi atau ada rombongan penyeberang padahal masih hijau. Yaah kayak saya dulu. Waktu saya cerita ke teman-teman kantor, langsung jadi bahan olok-olokan. Teman saya bilang, kalo memang terjadi apa-apa sama pemencet tombol yang tidak menunggu lampu merah itu, bisa jadi begini:

Polisi : “Ini siapa yang salah ini? Kok jadi begini?”
Penyeberang: “Lha, dia yang salah kok, Pak. Saya kan sudah mencet tombol.”
Pengendara : !@#$%^&*

Sunday, September 14, 2008

Hidup Baru

Sebulan belakangan ini saya mengalami banyak perubahan. Tidak seberapa sih, tapi untuk saya yang hidupnya gitu-gitu aja, perubahan belakangan ini cukuplah untuk disebut memulai hidup baru. Awalnya saya kuatir, dengan tiga perubahan sekaligus, akan ada trial dengan lebih banyak error untuk menyesuaikan diri. Berapa lama, ya, saya harus beradaptasi sampai hidup saya seimbang lagi alias error-nya sudah diminimalisir?

Ternyata tidak begitu lama. Dari tiga perubahan yang direncanakan, hanya dua yang kejadian. Jangan tanya. Itu sudah di luar kuasa saya. Tapi dua perubahan itu, ternyata sungguh menyenangkan! Bahkan rasanya hidup saya mencapai titik stabil yang baru. Aktif. Tepat waktu. Efisien. Rajin. Bermakna. Sadis pokoknya! (Sebagai seorang pesimis dan sinis sih saya mendengar suara-suara seperti “kalau tidak ada cobaan baru berarti Anda berada di jalan yang salah” atau “kebanyakan orang yang merasa sedang dalam keadaan terbaiknya justru dilihat orang lain tidak begitu dan sebaliknya” tapi berhubung saya sedang stabil dan bersemangat, lain kali sajalah membahas pikiran-pikiran negatif ini. Kalau sudah kesandung tantangan hehehe).

Langsung saja, dua perubahan itu adalah kuliah lagi dan ngekos lagi. Biasa aja, ya? Ya nggak, lah. Bagi saya yang sudah tiga tahun tidak mengecap bangku pendidikan dan dua tahun tidak hidup sendiri, ini sungguh menyenangkan. Pagi kerja, sore kuliah, dan berhubung ini bulan Ramadhan, puasa jadi tidak terasa karena kuliah saya selesai pas waktu berbuka. Lalu pulang ke kosan. Kamar sendiri. Tidak ada orang sembarangan keluar masuk kamar saya. Terserah saya mau buang waktu main game atau tidur. Dan berhubung saya sedang rajin, kegiatan di kamar ya baca bahan kuliah atau kerja. Cieeee. Sadis kan? :p

Sayangnya, kestabilan hidup ini tidak termasuk rajin posting di blog. Makanya sekarang berdatangan sindiran-sindiran dari pembaca blog saya (jadi ingat kalimat dalam tanda kutip kedua dalam tanda kurung di atas). Haduuh maap. Ini memang keterbatasan waktu semata. Dengan perubahan hidup saya yang begini, harusnya banyak cerita.

Saking banyaknya, saya akan cerita soal transportasi saja. Walaupun saya kenal daerah tempat tinggal baru ini, yaitu Salemba, saya kan tidak tahu transportasi apa yang paling cepat mengantarkan saya ke kantor saya di Kuningan. Setelah ditanya, ada beberapa opsi, yang lebih murah, lebih cepat, lebih sedikit jalan kaki, lebih sedikit ganti angkot, dll. Hari pertama berangkat ke kantor dari kosan, saya coba yang paling murah, yaitu sekali naik kopaja. Tetapi saya harus jalan kaki hampir 15 menit lamanya untuk mencapai kopaja. Nooo problem. Saya pejalan kaki yang tangguh. Jadi sebelum berangkat saya sudah siapkan mental supaya tidak mengeluh di jalan. Sempat bertanya arah pada penduduk, tapi memang tidak susah, “tinggal lurus, Mbak”, kata ibu itu. Oke. Tiba-tiba saya sampai di pasar tradisional. Tidak apa. Saya sudah lama tidak ke pasar tradisional. Dan saya pikir tidak ada salahnya toh melihat-lihat masyarakat bawah sekali-sekali. Jangan ke atas mulu, dong. Saya perhatikan pasar itu dengan seksama seolah-olah ingin merekam dan menulisnya dalam novel. Dasar sok wartawan hehehe.

Tapi apa daya, saya sampai di halte yang salah. Saya sampai di Cikini dan berjalan ke kiri. Padahal kopajanya ada di jarak beberapa ratus meter di sebelah kanan saya waktu itu untuk kemudian langsung belok. Jadi saya tidak menemukan kopaja itu. Saya akhirnya harus naik kopaja dua kali. Ke Manggarai dulu lalu disambung ke Kuningan. Pulangnya cukup gampang. Saya ke Manggarai lagi. Saya tanya ibu-ibu apakah ada angkot yang langsung ke Salemba. Ada bemo yang ke RSCM. Tapi ternyata sampai lampu merah malah belok kanan, padahal saya harus ke kiri dan masih cukup jauh. Berhubung saya bawa barang banyak, malas jalan kaki dan akhirnya saya naik angkot lagi. Fyuh…

Hari kedua, saya mencoba lewat jalan itu lagi. Kali ini pasar tradisional itu tidak begitu menarik. Apalagi waktu saya harus menunduk menghindari barang pikulan seorang kuli. Bukan karena muka saya kena barangnya. Tapi gara-gara waktu menunduk itu wajah saya persis di atas kue pancung yang baru matang. Aromanya langsung ke lubang hidung. Saya tidak tahu ini membatalkan puasa atau malah menambah pahala karena aroma kue pancung itu adalah godaan... 

Akhirnya saya belok kiri sebelum sampai di ujung jalan yang yaitu yang tembus ke Cikini. Perkiraan saya, jalan ke kiri ini akan menuju ke jalan yang sejajar dengan RSCM. Mungkin saya bisa naik bemo itu lagi ke arah sebaliknya. Dan benar, saya akhirnya sampai di jalan itu. Tapi saya lupa kalau itu jalan searah! Duh geblek! Jadi saya jalan lagi beberapa meter untuk naik kopaja yang ke Manggarai seperti kemarin.

Beberapa hari berikutnya, saya berangkat ke arah berlawanan, yaitu keluar ke jalan Salemba, lalu menyusurinya ke persimpangan dengan Raden Saleh. Saya tahu harus naik kopaja dua kali. Tidak masalah, sih. Masih termasuk murah untuk saya. Tapi kok saya tidak rela, ya, jalan kakinya mungkin 2/3 jarak kalau ke Cikini, tapi harus ganti kopaja. Kalau di Cikini kan sekali saja.

Jadi esoknya saya coba lagi jalan ke arah Cikini, dengan asumsi bahwa di tengah jalan saya harus berbelok ke kanan dengan harapan keluar pas di halte yang saya tuju. Di tengah pasar tradisional itu saya belok kanan, tapi ternyata tidak terlalu kanan. Karena malah sampai di tempat pencucian umum penduduk sana, jadi saya harus masuk pasar tradisional lagi. !@#$%^

Di hari berikutnya barulah trial dan error ini berakhir! Saya menemukan belokan ke kanan yang benar. Saya sampai di jalan yang cukup besar untuk dilewati mobil. Kawasan perumahan menengah. Senang rasanya melihat masih ada perumahan di Jakarta yang berhalaman luas, walaupun harga tanah di sini pasti mahal. Dan akhirnya jalan ini berujung persis di halte yang saya tuju! Jadilah jalan itu yang selalu saya tempuh tiap berangkat kerja. Tidak untuk pulang karena saya harus ke kampus dan kuliah. Ah senangnya!

image from http://flickr.com/photos/94416001@N00/12091420/

Sunday, July 27, 2008

Padang vs Jawa

Ini adalah koleksi quote yg saya ingat dari percakapan2 ttg orang padang dan jawa. kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan (quote2nya maksud saya, bukan fakta dari quote2 itu) yaitu dari memori saya, walaupun orang2 yg melontarkannya mungkin sudah lupa. Mungkin kata demi kata yg saya tulis tidak begitu tepat, tapi kurang lebih begitulah yg saya ingat, dan benar2 saya usahakan untuk tidak bias (ohya, perkenalkan saya orang padang). Lucu aja, soalnya beberapa dari komentar2 itu bisa bertentangan, tapi di sisi lain memperlihatkan dua sudut pandang yg berbeda. udah ah, simak aja…

Feudalism

Anggota keluarga: “orang jawa kan feodal” (mengomentari suatu acara akad nikah beradat jawa timur di mana pengantin perempuan mengelap kaki pengantin pria)


Anggota keluarga: “cowok jawa tuh gak mandiri, semua urusan rumah tangga diserahin ke istri, bahkan kebanyakan orang jawa nggak ngebolehin istrinya kerja”

Tapi…

Teman: “kata nyokap gw cowok padang itu lebih senang dilayani; makan diambilin, baju dicuciin, rumah dibersihin, dan gak mau ngebantu istri”

???

Speak-up-ability
Teman: “orang jawa kan penuh basa-basi, kalo marah tetep aja senyum dan bilang “gak apa-apa”, padahal dalam hati udah ngomel2”

Teman: suamiku kalo marah memang begitu, diem2 aja, sementara aku kalo marah ya langsung ngomong blak2an aja” (komentar seorang teman orang padang yg bersuamikan pria jawa)

Ternyata…

Anggota keluarga: “itu kan ciri khas ego laki2 minang, kalo marah dieeeem aja” (komentar buat curhatku ttg mantan pacar yg gak komunikatif)

Nah loh…

Ambition
Anggota keluarga: “cowok jawa itu manja, karena biasanya orang tuanya gak ngebolehin anaknya jauh2 atau merantau

Teman: “ortu gw bilang orang jawa itu romantis, mau diajak susah, tapi jadi lelet”

Teman: “orang padang matre, kata nyokap temen gw yg orang padang, kalo cari calo suami ya yg sudah punya rumah, punya mobil, biar gak susah”

Kesimpulan: yg satu sudut pandang dari utara, yg satu dari selatan

Fidelity
Anggota keluarga: “tapi kebanyakan orang jawa itu gak setia”

Teman: “kalo mau nikah jangan cari cowok padang, karena biasanya mereka bukan orang baik2”

Ck…ck…ck… sama orang Somalia aja apa?

Teman: “kata mamah memang banyak perkawinan padang jawa yg akhirnya cerai”

Hm…bisa jadi sih, sayang gak ada angka statistiknya. Tapi kalo memang ada angkanya, saya yakin itu pasti ada pengaruh keluarga yg masing2 berkomentar “orang jawa sih, jadinya begitu” atau “orang padang sih, jadinya begini” yg meracuni pikiran pasangan padang – jawa yg malang itu (hihih cynical mode on)

Miscellaneous
Teman: “temen gw ya, punya temen sekosan orang padang, trus suka ngasi kerjaan banyak gitu ke pembantu kosan, kalo nyuci baju super banyak, apalagi waktu nyokapnya dateng, suka nyuruh2” (mungkin gak bermaksud bilang orang padang seperti itu, tapi ya… knp harus mention “orang padang”?)

Anggota keluarga: “kalo lebaran musti sungkem dong? repot amat?” (mengomentari potensi saya bermertuakan orang jawa)

To orang jawa: salahin Suharto aja ya, abis tiap lebaran pasti acara sungkeman keluarga cendana itu disiarin di tipi

Kira2 begitulah… bagaimana dengan Anda? Pernah nemuin quote semacam ini? ohya, quote-nya pasti lebih banyak lagi kalo gak dibatasin ttg orang padang atau jawa aja. bisa orang batak, sunda, bali, makasar, ambon, papua, yg gak kalah gak akuratnya. ya sudahlah, ambil saja hikmahnya. hidup Bhinneka Tunggal Ika!... Ups, ini kan bahasa jawa lama, pake Unity in Diversity aja kali ya, biar netral heheheh…

Ps: quotenya jgn diambil hati, mending dipake buat ngetawain diri sendiri aja :)

Tuesday, July 22, 2008

Hobby vs Rules

Last weekend I went to Aksara bookstore to buy Sore’s latest album, Ports of Lima, which I didn’t purchase when it was released months ago, hoping that someone I know already owned it and let me copy it (maap, masih mental bajakan:p). I didn’t try hard enough to find it, and I finally decided to buy the album, which, compared to other commercial releases, is not expensive at all. 

It was a spur of the moment thing; I always have list of things-to-buy each month, and this month’s list seems to exceed my financial ability that I have to postpone the whole plan and end up searching for an affordable consolation price (aneh gak sih). Choice went to Ports of Lima. Moreover, me and my boyfriend didn’t have plan for the weekend. Plaza Indonesia would be nice.

But I should have learnt from past experience (why don’t we all?), that I can’t go to a bookstore without adding several books on my have-to-read/buy list. So, what supposed to be a pleasant stroll in an expensive mall in Jakarta – where I can buy nothing but books – and bringing home only an indie album was not really successful. Blame a book by Chuck Klosterman, which I haven’t seen in Aksara before, with price lower than I have paid when I bought another of his books. 

Chuck Klosterman is a pop culture critic. He has written for Spin, The New York Times Magazine, The Washington Post, The Believer, and ESPN. I bought one of his books, Killing Yourself to Live, for a friend last year. I read the book too and I decided to read his writings again. I bought it for Rp189,000 in Kinokuniya. Aksara prices Rp154,000 for Killing Yourself to Live and the other book.

So I bought this other book.

Which puts me into another problem; how and when I’ll read it (I didn’t consider the little financial chaos the book had cost is a problem; I’m not even sorry), which, instead of Sore or Chuck Klosterman, is the main point of this writing. With a title Sex, Drugs, and Cocoa Puffs, I will have to give long explanation to my older sister when she sees me reading it. I would not bother with the matter had not a college of mine given me an unapproving look when she saw me reading KYL with reference “Author of Sex, Drugs, and Cocoa Puffs” on the cover.

Book lovers always deal with a problem; we keep buying books when we haven’t even finished reading the ones at home. I haven’t finished Chuck Klosterman IV: A Decade of Curious People and Dangerous Ideas, which is quite expensive for me but I bought it because I was so curious to read Chuck’s other books and CK IV was the only one –besides KYL – I found in Jakarta at that time. It was the collection of Chuck’s articles, most of which are interviews with rock stars, with notes and updates for each. Meanwhile, S,D,&CP gives us his sight of popular culture in America, mostly about insignificant things. He laughs at people only to joke about himself. 

I finish almost every book I read before moving on to another. Sometimes I read two books at the same time, though not simultaneously (actually I’m also reading Malcolm Gladwell’s Blink now). I stick to this rule. So in this matter I have to finish CK IV before reading S,D,&CP. But chronology is also important. If I haven’t read both, I would read S,D,&CP, published in 2003, prior to CK IV, 2006. 

So, will I read S,D,&CP first? Yes. Chronology is more important to me. But it’s not as easy as I think. I pick a random page of S,D,&CP, and found a story about Billy Joel. I was engaged by the lines about Billy and his wife, whom he wrote the song I Love You Just the Way You Are for, divorced several years after it won the Grammy for Song of the Year. 

Coincidently I found an article also about Billy Joel in the next chapter I am currently reading in the CK IV. The words of the paragraph about the divorce are quite much the same. The article was published in 2002. Now what? Chronology is no longer significant here. CK IV is published in 2006 but some articles are not even newer than S,D,&CP. Then I read the note for the Billy Joel article in CK IV (finally the notes are of any use, well I don’t mind the notes anyway). It explains that Chuck wrote S,D&CP in 2002, forwarded the rough essays to his editor at the New York Times Magazines for some opinion. The editor was surprised to know that he likes Billy Joel. He asked if he wanted to write about Billy Joel for Times, and he said yes. So that is the answer. He wrote about Billy Joel for S,D&CP first. But the article appears first. Since I found the paragraph with 95 percent words are the same, I think it’s no big deal which one to read first. I think I’m just making things complicated. I planned to read CK IV Billy Joel article before S,D&CP, but it is more likely that I will read S,D&CP tomorrow morning during my commute to office. S,D&CP is thinner and lighter, thus easier to carry, than CK IV. It’s already late now; I have no time to read CK IV’s Billy Joel article.

Message from the article: don’t waste your time with rules for a hobby

Tuesday, April 1, 2008

the real narcissism story :)


i remember reading this once:

the alchemist knew the legend of Narcissus, a youth who knelt daily beside a lake to contemplate his own beauty. he was so fascinated by himself that, one morning, he fell into the lake and drowned. at the spot where he fell, a flower was born, which was called the narcissus.

but this was not how the author of the book ended the story.

he said that when Narcissus died, the goddesses of the forest appeared and found the lake, which had been fresh water, transformed into a lake of salty tears.

"why do you weep?" the goddesses asked.

"i weep for Narcissus," the lake replied.

"ah, it is no surprise that you weep for Narcissus," they said, "for though we always pursued him in the forest, you alone could contemplate his beauty close at hand."

"but...was Narcissus beautiful?" the lake asked.

"who better than you to know that?" the goddesses said in wonder. "after all, it was by your banks that he knelt each day to contemplate himself!"

the lake was silent for some time. finally, it said:

"i weep for Narcissus, but i never noticed that Narcissus was beautiful. i weep because, each time he knelt beside my banks, i could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected."

(excerpted from Paulo Coelho's The Alchemist)

Monday, December 24, 2007

Colors of me

Man: Gold and black. I picture you as gold and black
Woman: Gold and black? Seems like widi’s cellphone

Man: Hm… you have more gold than black

Woman: But I thought I'm rather white…or…well…white

Man: No, its gold and black

Woman: But that’s dark. Gold and black, seems dark

Man: Maybe…

Woman: But I want to be rainbow

Man: I still see you as gold and black

Woman: If I have to describe you in colors, I think you’d be something dark, so I want to color you. I wish I could be rainbow for you

Man: Hardheaded

Woman: …

Man: Tough…that’s why gold and black

Woman: Tough? That’s what gold and black represent?

Man: Yes

Woman: But I don’t think I am tough enough. I’m still working on it

Man: Yes you are. You are tough and dominating

Woman: That’s funny. I never seen people as colors. I used to see days as colors, mostly during high school. Monday is blue, Tuesday is yellow, it depends on my class schedule every year. But most my Wednesdays are grey. I used to have terrible classes on Wednesday. The teacher was strict, while the subject was boring, and so on. But Saturday is colorful. I like Saturday

Man: Because you can go out and date someone?

Woman: Of course not. Its weekend, as everyone else knows. People like Saturday

Man: Synesthesia

Woman: What?

Man: Synesthesia

Woman: Oh… that neural abnormality you told me

Man: Heeh

Woman: But I don’t see days as colors. I associate days with colors

Man: Yeah I know of course (chuckle)

Woman: And I've never been seen as colors before

Man:…

Woman: White. I like white. It might be severe, but if you see it differently, white light is the combination of all colors

Man: Yup

-------

Man: Bye hun

Woman: Bye

Man: Think about a garden

Woman: Okay

Man: With a fountain in it

Woman: A fountain

Man: Wait for me there

Woman: Okay

Man: I will come to you. I’ll bring you flowers

Woman: Bring me the white ones

Man: Daisies? Daisies are white. They're wonderful

Woman: White daisies then

Man: Okay. Bye hun

Woman: Bye hun


December 23, 2007
, pass midnight

Friday, October 12, 2007

1 Syawal (or 30 Ramadhan?) 1428

pagi ini waktu keluar rumah dengan ibu, ayah dan kakak iparku, kami tampak seperti alien di antara beberapa tetangga yang kebetulan berada di luar rumah. bapak-bapak itu berbaju santai; celana pendek dan kaos, tampak berkeringat seperti habis membersihkan rumah, sementara kami memakai baju bepergian, lebih tepatnya, ayah dan kakak iparku memakai baju koko, aku dan ibu memakai baju muslimah yang tertutup, membawa sajadah, koran bekas dan mukena dan berjalan ke arah lapangan di depan balai warga.

setelah berjalan satu blok dari rumah, kami belum melihat orang lain yang berbusana sama dengan kami,
bahkan tidak melihat orang yang keluar rumah. baru setelah kira-kira 300 meter dari rumah, aku melihat seorang cowok dengan baju koko, sarung dan kopiah sedang menutup pintu pagar rumahnya. namun selain itu, kami belum mendengar suara takbir yang biasanya mewarnai perjalanan kami di tahun-tahun sebelumnya. semakin dekat ke lapangan, barulah terlihat orang lain yang berpakaian muslim menuju arah yang sama dengan kami, sementara gema nyanyian Allahuakbar Allahuakbar...semakin terdengar.

dulu, sebelum tahun berapa tepatnya, aku lupa, tidak ada perasaan seperti alien ini di hari yang disebut (dan disepakati bersama oleh segenap pemerintah dan masyarakat tanpa banyak cingcong) Hari Kemenangan ini. kalau kami sekeluarga pergi shalat id, di perjalanan kami akan bertemu orang2 lain yang sedang menuju mesjid atau lapangan juga. tidak ada yang bercelana pendek atau sedang membersihkan rumah, misalnya, sebab tentu saja orang2 selalu bersih2 sebelum hari lebaran yang, sekali lagi, disepakati bersama pada hari yang sama tanpa banyak cingcong.

sekarang, setelah semua penduduk indonesia rajin menyebut-nyebut reformasi, dan negara lain memandang positif perkembangan demokrasi negeri ini, apapun bisa berbeda, termasuk cara menentukan bulan baru, yaitu rukyat dan hilal, dan berdasarkan itu pula orang-orang merayakan lebaran pada hari yang berbeda.


ayahku, yang cukup aktif di organisasi muslim terbesar kedua di negeri ini, dengan senang hati mengikuti keputusan pimpinannya yang menentukan Idul Fitri sehari sebelum tanggal merah di kalender. dan semua anak2nya tentu saja ikut beliau. aku selalu senang berlebaran lebih awal. lebaran is always fun and waited for. lagipula, walaupun aku tidak aktif di organisasi itu seperti ayah, aku lebih setuju dengan cara menghitung hisab ini, dan dengan sedikit ngeles: toh di Mekkah shalat id hari ini kok hehehe…


senang...sampai pagi ini, ketika melihat betapa sedikitnya warga yang shalat hari ini, walaupun dua mesjid di RW ini sudah memutuskan lebaran duluan. apalagi waktu ibu berbisik padaku tentang kakak iparku yang terus-terusan berbicara tentang perhitungan hisab; ijma’ sudah bisa dilihat jam 12 siang kemaren…(yah aku lupa kalimatnya tepatnya, soalnya tidak begitu ngerti hitung2an ini). menurut ibu, kakak iparku tampak ragu lebaran hari ini atau tidak. dari kemaren dibahas terus, mungkin kakakmu itu ragu.


jadinya selama shalat dan mendengar bacaan imam yg merdu, kepalaku masih diisi dengan persoalan perbedaan ini, mulai dari pertimbangan aku belum bisa bilang selamat lebaran buat my honey sampai berita di islam online tentang hari lebaran yang juga berbeda antara negara2 timur tengah.


baru setelah pulang shalat ied dan kakak iparku memperlihatkan kalender siklus bulan yang didapatnya dari situs NASA, aku lega, ternyata dia tidak “terpaksa” lebaran hari ini seperti yang dikuatirkan ibu. dan setelah makan, ngobrol dan bermaaf2an, semua prasangka buruk itu hilang dari kepalaku. prasangka seperti
apa organisasi ayahku dan pemerintah sama2 terlalu angkuh untuk menyesuaikan keyakinan mereka buat kebersamaan sekali saja?, (so that i can celebrate lebaran at the same day with my honey), apa mesir, aljazair dan arab saudi juga terlalu angkuh untuk berlebaran di hari yang sama? well, pada akhirnya, setelah makan 3 porsi lontong dalam 4 jam, melihat ponakanku yg baru lahir 2 bulan yang lalu setelah ditunggu-tunggu kehadirannya selama 10 tahun, dan setelah tertawa mendengar cerita ayah tentang seorang kiyai dan politikus di negeri ini yang pernah ngomong sinis tentang lebaran yang berbeda; orang lain sudah pergi ke bulan, sementara kita masih ribut soal bagaimana cara melihat bulan, aku memutuskan tidak ada yang tidak aku syukuri hari ini. kata-kata ibu pagi inilah yang paling make sense; serahkan semua pada yang di atas, biar Dia yang menilai puasa dan shalat kita diterima apa tidak.

anyway, selamat lebaran semua. kalau ada yang tidak berkenan, tolong maafkan saya...:)

Thursday, April 5, 2007

namaku dan pariwisata Yordania

memang susah punya nama dari bahasa Arab. kalo ketemu sama orang yang ngerti bahasa Arab, bahkan si bule Arab sendiri, mereka bakal sukarela bahkan tanpa diminta menerjemahkan namaku, menuliskannya dengan huruf Arab, bahkan bertanya, kenapa bokap nyokap ngasih nama itu?

well, kata bokap, alia itu artinya…hm, arti yang terlalu bagus sebenarnya, sampai- sampai aku gak pede kalo harus menjawab pertanyaan orang-orang yang gak ngerti bahasa Arab “namamu artinya apa?” karena aku gak sehebat itu…artinya…mulia. tuh kan gak sehebat aku, orang-orang biasanya gak berani komentar setelah tau artinya, mungkin mereka gak bakat bohong tingkat tinggi dan bilang “wah, kamu memang seperti namamu” atau gak berani terlalu jujur karena gak tega hehehe…lagian, sapa suruh nanya artinya…

kemudian, aku ketemu orang-orang yang ngerti bahasa Arab dan orang Arab asli. waktu itu aku mahasiswa yang diperbantukan jadi liaison officer untuk sebuah konferensi internasional di Bandung. kebetulan aku jadi LO untuk delegasi dari sebuah negara di timur tengah. waktu berkenalan dan tukeran nomer hape, si Arab, yang awal-awalnya bikin aku kagum karena bahasa inggrisnya yang bagus (ya iyalah diplomat gitu loh) eh, malah nyatet namaku dengan huruf Arab. sebel aja abis kita kan ngomong pake bahasa internasional bahasa inggris, tapi kok bisa-bisanya ada huruf Arab di antara kita hehehe (komplen yang gak penting gitu loh). dan sebenarnya sih aku terpana ngeliat namaku ditulisin pake huruf Arab yang belum pernah dilakukan orang untukku bahkan oleh bokap, si pemberi nama (belum pernah? kaciaaannn deh lu, padahal itu kan cuma ngegabungin huruf ain, lam dan ya)

yah intinya aku seneng juga. sementara anggota delegasi satunya tampak senang mendengar namaku. kebetulan yang jadi LO untuk delegasi negara itu ada dua orang, yang satunya lagi dari Deplu, yang mana si mas ini namanya lebih Arab lagi (dan aku yakin, kalo dia bukan pejabat deplu, pasti kedubes Uncle Sam bakal mempersulit pemberian visa untuknya gara-gara namanya itu hehehe). kembali ke yang tadi, His Excellency yang satunya, waktu mendengar nama kami, langsung bilang “that’s nice, you both have Arab names” entah karena dia bangga kalo dua makhluk dari negeri yang jauh ini punya sesuatu yang berhubungan dengan Arab, atau mungkin karena dia, yang denger-denger waktu itu baru tujuh bulan dinas di Indonesia, pernah nemuin nama orang Indonesia seperti sumitro hadikusumo yang tentu susah diingat orang Arab hehehe

anyway, aku dengan bodohnya cerita-cerita ke teman-teman LO yang lain kalo namaku ditulisin pake bahasa Arab (tuh kan gak penting memangnya itu sesuatu yang bisa dibanggakan?) dan akhirnya temen-temen pada nanya, namaku artinya apa. dan aku gak bisa nutup-nutupin coz di antara LO-LO ada yang bisa bahasa Arab dan dia bilang alia itu artinya…
well, jawaban yang dia kasih sama ama jawaban beberapa orang yang nerjemahin namaku setelah itu. dan rata-rata orang-orang sekitar bahkan si penerjemah jagoan bahasa Arab pada ketawa dengerinnya: alia itu artinya…tinggi…
langsung deh keluar suara cekikikan diiringi komentar “ha? kok orangnya pendek? huehehehe”…please, guys, maksudnya bukan tinggi badan kaleee…
dan baru-baru ini aku kenal seseorang yang ngerti Arab juga - seperti pendahulunya yang dengan sukarela dan gak nyadar kalo aku gak minta - menerjemahkan: namamu artinya… gadis-yang-turun-dari-langit…huwaahhhh…terkaget-kaget dan tersipu-sipu (walaupun secara sinis aku juga mikir ni orang gombal banget sih) kok bisa ya namaku artinya keren begitu hehehehe

hal berikutnya yang namaku bikin aku terkaget-kaget datang dari seorang bule Arab lagi. waktu itu aku harus mewawancarainya soal seberapa jauh kepedulian orang-orang timur tengah terhadap ketidakadilan yang dialami TKI yang bekerja di sana. dan lagi-lagi waktu perkenalan, namaku dibahas, tapi kali ini agak beda. ngeliat kartu namaku, dia bilang “there are two meanings of “alia” in Arab, so which one is yours?” dan aku heran untuk fakta yang baru kudengar ini, “what are they?” balasku. si Arab ngomong lagi, “it means…(well I didn’t catch what he said, I put blame on his accent :p), but most commonly it means ‘high’…” katanya sambil mengangkat tangannya melewati atas bahunya. dan segera aku jawab “that’s it, my name means high”. kemudian dia bilang sesuatu yang – tanpa dia sadar – mungkin akan menambah jumlah turis potensial negaranya, Yordania:

“that’s great! do u know, it’s also the name of our airport in Amman, which is named after a Jordanian queen, Alia. you should come to our country, come to Amman, you should see the airport with your name in it, Queen Alia International Airport.” katanya dengan menggerakkan kedua tangan seolah-olah menggambar kotak panjang di udara
hahahaha jadi ngebayangin aku pergi jauh2 ke amman cuma untuk berfoto di depan tulisan Queen Alia International Airport. dan tanpa sadar itu sudah masuk daftar cita2ku, someday, I’ll go to Amman, although merely to take picture of me with the signboard of “Queen Alia International Airport” in the background…

cita-cita yang sangat gak penting kan? memangnya apa manfaatnya ngambil foto itu? yah setidaknya jadi pendorong aku buat sukses nanti. sementara si orang Jordan, lihat apa yang dia lakukan. dia baru saja mempromosikan pariwisata negaranya dengan memanfaatkan namaku!! dan pasti bukan aku saja orang Indonesia yang punya nama dari bahasa Arab dan jadi nama airport. kenapa sih pemerintah Indonesia gak ngasih nama-nama airport yang lebih mendunia? coba, mana ada warga negara asing yang bernama Ngurah Rai atau Sam Ratulangi, misalnya? (yah bukan salah pemerintah juga sih kalo nama-nama pahlawan kita kebanyakan sangat mengIndonesia) bagusnya sih bandara dengan nama Arab diperbanyak seperti Husein Sastranegara (sastranegara nya sih nggak). nah, salah seorang juniorku yang sama-sama jadi LO di konferensi internasional di Bandung itu pernah melakukan hal yang sama terhadap delegasinya yang dari timur tengah juga. delegasi itu namanya Husein, dan juniorku ini, waktu menjemput si delegasi di bandara di Bandung itu, langsung berbasa basi persis seperti yang dilakukan si Jordan padaku, ‘tau tidak, nama Anda sama dengan nama bandara ini’ (dalam bahasa Arab). yaaah tapi kan si Husein itu udah ada di bandara dengan namanya, apakah dia bakal balik ke bandung lagi karenanya? apakah juniorku ini baru aja mempromosiin pariwisata negeri kita? gak tau yaa…(ahh logika macam apa pula ini, memangnya semua orang kayak aku, bercita-cita untuk berfoto di bandara dengan namanya?)

abis itu aku ngecek, ternyata tempat wisata di Yordania gak jelek-jelek amat, ada yang namanya Petra, kota tua dengan gunung-gunung batu yang beberapa diantaranya diukir membentuk bangunan-bangunan, Laut Mati, yang tingginya kadar garam menyebabkan manusia terapung di sana, dan Wadi Rum, padang pasir yang penuh dengan gunung dan bukit dan banyak dipakai untuk rock-climbing. kayaknya kalo cuma ke airport doang rugi juga tuh hehehe… lagian kalo mau foto di tempat yang ada namaku, di Jakarta juga ada hotel alia kali, juga ada majalah muslimah alia. huh…memang susah punya nama pasaran…

baiklah, kembali ke masalah namaku. harus diakui, belakangan ini namaku banyak dipake rumah-rumah produksi untuk tokoh-tokoh dalam sinetron mereka. aku gak ingat judulnya apa aja, soalnya beberapa di antaranya udah gak tayang lagi. baru-baru ini malah ada di film layer lebar. yang jelas, biasanya sih tokoh bernama alia tuh tokoh utama dan baik-baik hehehe
dan akhirnya, walaupun aku sebel sama sinetron-sinetron yang memakai namaku tapi aku harus ngaku kalau namaku memang udah pasaran dengan sendirinya – bukan cuma di Indonesia aja tapi juga di timur tengah, walaupun aku pernah mengkhayal punya nama seperti yang aku temuin di buku-buku seperti; Pilar Estravados (nama penjahat berdarah Spanyol di sebuah bukunya Agatha Christie, tadinya kupikir ini eksotik), Annika (nama yang diprediksi akan banyak dipake pada tahun 2015 menurut buku Freakonomics), dan bahkan nama entah siapa yang gw denger di radio waktu diskusi nama-nama unik, Narabel (seperti nama asing bukan, padahal dia dinamain seperti itu gara-gara lahir di hari lebaran, jadi tinggal dibalik: lebaran-narabel, lucu kan?), dan walaupun Shakespeare ngeluarin kata-kata yang sudah mengklise ini: “what is in a name?”, aku harus ngaku, kalo…
aku suka namaku…dan senang kalo orang bilang…
namamu bagus…
hehehe…

(gw narsis banget siiihhh hehehe…)

catatan: Alia Baha ed Din Toukan adalah istri ketiga dari Raja Husein – yang tidak pernah mempunyai lebih dari satu istri pada saat yang sama – dari Yordania. lahir di Kairo pada tahun 1948, menikah dengan Raja Husein pada umur 24 tahun dan meninggal pada usia sangat muda, 29 tahun (1977) dalam kecelakaan helikopter di Amman, Yordania. setelah itulah airport di Amman dinamai Queen Alia International Airport.
pariwisata menyumbangkan lebih dari US$ 800 juta pada ekonomi Yordania dan terhitung 10% dari GDP negara itu.

Monday, March 26, 2007

start

akhinya, bikin blog juga
setelah banyak pertimbangan, lihat blog orang sana sini, yg garing, eye-catching, inspiring, fun-reading, atau kontroversial (nah loh kata terakhir ini rimanya gak cocok), akhirnya gw putuskan buat mulai bikin blog, habis banyak yg ngajak...hehehe gak kok yg ngajak cuma dua orang. habis, terlalu banyak alasan yg ngalangin gw untuk bikin blog. yah selain gw orangnya memang terlalu banyak pertimbangan, bikin blog aja mikir2 dulu. alasannya karena udah terlalu banyak baca blog dan sangat enjoy bikin komen hehehe bukankah di jaman demokratis gini lebih gampang ngritik atau menilai, daripada bertindak? huehehe budaya negatif ini harus dihilangkan dong, maka gw pikir gw harus nulis, biar tahan sama kritik...(ayo al, jangan manja). alasan lain, kebanyakan baca blog orang, terutama orang yg udah biasa nulis, bisa bikin gak pede. gw kenal orang yg tulisannya sangat oke dan dia sudah bikin blog dari jaman dulu waktu tidak semua orang tau blog itu apa, dan sampai sekarang pun kalo baca tulisannya gw selalu mikir, "sialan, gw gak bakal bisa nulis sekeren dan sekritis itu" dan kadang gw putuskan gak usah baca blognya saja. i was so stupid, right? toh tiap orang saling membaca blog and they move on, gak peduli dibandingin sama orang lain
anyway, salah satu alasan lain gw gak mau bikin blog adalah takut terjebak sama tipe blog curhat atau diary, coz i'm too introvert for that. walopun gw gak suka jadi orang introvert, lama2 terbiasa juga dan jadi gak pengen orang lain tau apa yg gw pikirin (hey, what am i saying? gw nulis panjang lebar begini kan curhat..) bukannya gw gak suka blog curhat, kalo baca curhat orang lain sih asik2 aja, malah blog2 orang gw baca banyak cerita sehari2nya, asal jgn terlalu privacy lah, dan asal nulisnya jg bagus jadi bacanya betah gitu...
nah, berhubung gw gak mau curhat, jadi mau nulis ttg apa dong? sosial? ekonomi? halah...nulis politik yg bidang gw pun belum tentu mau:p coz gw gak pernah bisa ahli dalam satu bidang. selalu tanggung. i'm always a quick learner, in the beginning, after that, however, is a declining curve. apa karena gw gampang bosan, atau karena gw gak "melompat ke kurva kedua" seperti yg dibilang rhenald kasali? jadi salah siapa? salah rhenald kan, napa gak nerbitin buku "change" dari dulu-dulu...:p
anyway, who cares. akhirnya gw mau ngeblog. ntar gw akan nulis apa aja: makanan, musik, angkutan umum, piala dunia, bahkan politik. gak boleh takut salah, kalo fakta gak akurat, ntar paling juga ada yg benerin. dan kalo pun ketahuan gw orangnya aneh, peduli amat, siapa sih yg gak punya sifat aneh?