Lampu Merah...

Posted by alwaysalia | Labels: | Posted On Saturday, November 15, 2008 at 4:14 PM


You Know You've Been in Indonesia Too Long if... ...
When crossing a busy street you believe that a limp wrist motion with your right arm creates a force field that repels oncoming traffic ...

Begitulah cara orang Indonesia menyeberang jalan. Ungkapan di atas menunjukkan keheranan orang asing melihat cara kita. Tinggal mengangkat tangan, mobil-mobil yang lewat langsung setop. Di jalan yang macet, sepi, jalan besar, kecil, jalan protokoler, jalan desa, jalan kota, lampu lagi merah, lampu lagi hijau, lampu lagi kuning, lampu mati, daaaan segala macam jalan. Lambaian tangan adalah jurus sakti untuk menghentikan mobil yang lewat.

Jadi ketika diberi traffic light untuk penyeberang jalan yang dipencet sendiri tombolnya itu, jangan harap semua penyeberang jalan memencet tombol. Jurus tangan sakti lebih ampuh, man! Wong bisa menghentikan mobil kok.

Di dekat kantor saya, agak ke sana dikit (tepatnya di depan Wisma Kodel di Kuningan), ada zebra cross dengan traffic light ini. Memang khusus untuk penyeberang jalan, bukan perempatan. Saya tidak tahu kenapa ada traffic light itu, padahal di sepanjang jalan Kuningan penyeberang jalan harus lewat jembatan. Mungkin karena di seberangnya ada gedung sepenting Imperium?

Anyway, dulunya saya bersikap pragmatis dalam hal pencet-memencet tombol ini. Pencet tombol jugaa, tapi kalau mobil yang lewat sedikit dan lampu belum merah, saya nyeberang juga. Atau kalau ada serombongan orang menyeberang padahal lampu masih hijau, saya juga ikut-ikutan. Saya menganggap diri sendiri sebagai penyeberang jalan yang ahli; tahu kapan harus nekat menyeberang dan kapan harus mengalah.

Untung ada yang mengingatkan. Bukan soal waktu menyeberang yang tepat atau tidak, tapi soal hak. Waktu lampu masih hijau, itu hak pengendara mobil untuk jalan terus tanpa diganggu gugat. Coz walaupun tidak kentara, pengendara mobil harus mengurangi kecepatan atau mengerem kalo ada penyeberang, tergantung jarak atau kecepatan si mobil. Baru kalo lampu udah merah, orang berhak menyeberang jalan. Gimana mau jadi bangsa yang disiplin, kalo rambu lalu lintas aja gak ada guna di Indonesia.

Jadilah saya mengurangi sikap sok-ahli-nyeberang-jalan itu. Walaupun kadang tergoda melihat jalan lagi sepi atau ada serombongan orang menyeberang ketika lampu masih hijau. Saya bahkan punya pembenaran “kasihan pengendara mobil, tertahan gara-gara rombongan-bukan-pemencet-tombol waktu lampu hijau, dan harus berhenti juga untuk rombongan-pemencet-tombol seperti saya waktu lampu merah.” Tapi akhirnya setelah beberapa hari, saya bisa juga keukeuh untuk tetap menunggu lampu merah. Apapun yang terjadi! Menerapkan disiplin ternyata sesingkat itu.

Tapi sejauh ini saya masih minoritas. Kalau ketemu orang yang mencet tombol dan nunggu lampu merah, saya langsung takjub dan menyimpulkan sembarangan; ini orang pasti highly educated, sering bawa mobil, dan pernah tinggal di luar negeri (hahaha, teman saya pasti bilang ada nada narsis di sini). Rata-rata orang gak mencet tombol tapi langsung mengamat-amati lalu lintas, mencari celah buat menyeberang.

Pengendara mobil gak kalah parah. Kadang ada yang tetep jalan walaupun lampu lagi merah. Saya bahkan pernah diteriakin pengendara motor gara-gara hampir menabrak saya, dia ngotot mau lewat padahal lampu lagi merah. Apa karena waktu itu cuma saya yang menyeberang jalan atau jalan itu emang milik nenek moyangnya, saya tidak tahu. Tapi saya yakin itu akibat tak langsung dari ketidakdisiplinan penyeberang jalan juga; si lampu-pencet jadi tiada guna.

Ada juga yang sudah mencet tombol tapi langsung menyeberang waktu jalanan lagi sepi atau ada rombongan penyeberang padahal masih hijau. Yaah kayak saya dulu. Waktu saya cerita ke teman-teman kantor, langsung jadi bahan olok-olokan. Teman saya bilang, kalo memang terjadi apa-apa sama pemencet tombol yang tidak menunggu lampu merah itu, bisa jadi begini:

Polisi : “Ini siapa yang salah ini? Kok jadi begini?”
Penyeberang: “Lha, dia yang salah kok, Pak. Saya kan sudah mencet tombol.”
Pengendara : !@#$%^&*

Comments:

There are 8 comments for Lampu Merah...