Teman saya si Gentole mengeluh; "Fesbuk itu nge-distract. Temen-temen blogger gw jadi jarang posting."Maksudnya dia ya nyindir saya juga. Dan saya juga tiba-tiba nyadar, blog ini semakin sepi. Sama seperti Gentole, blognya juga semakin sepi (dengan level berbeda tentunya, dia sih dari 100 komen per hari jadi 20 per hari, dasar orang terkenal hehehe piss Gen). Tapi apa benar gara-gara fesbuk? Blognya dia, misalnya, baru saja pindah ke segmen yang lebih serius, yang mungkin mengagetkan pembacanya. Sedangkan saya, mungkin karena tulisan yang jelek dan semangat posting sebatas hangat-hangat tahi ayam; maksudnya, frekuensi tidak jelas dan jarang pula.
Tapi memang teman-teman blogger saya juga pada menghilang. One by one. Mungkin benar kata Gentole; "di fesbuk, status aja dikomen...", dan teman saya yang lain, Yosie, juga bilang; "posting kok di blog, di notes dong, biar seru". Himawan sempat berinovasi dengan mempublikasikan blognya di fesbuk, dan mengeset notesnya untuk selalu mem-publish posting baru di blog. Tapi beberapa hari yang lalu saya lihat statusnya di fesbuk tentang niat istirahat ngeblog. Mungkin karena kesibukan atau apa, cuma Tuhan dan dia yang tahu. Seperti saya, dia juga bukan heavy fesbuker, jadi saya gak percaya dia beralih ke fesbuk. Tapi kok pengumumannya di fesbuk, bukan di blog? Ada lagi si Mona. Kadang posting di blog. Kadang di notes. Saya nggak tahu sampai sekarang kategorinya apa; what makes a post deserve to be in notes or blog. Mungkin Mona mau tampil seimbang dan gak pilih kasih hehehe
Gara-gara celetukan Gentole itu, saya jadi nyadar, ternyata di situ toh sisi "kapitalis"-nya fesbuk. Baru-baru ini saya baca kalau fesbuk, twitter, dan sejenisnya, adalah salah satu bentuk sosialisme dan komunisme baru. Semua orang ngelakuin hal-hal komunal; ngebentuk kaukus di fesbuk, ngumpulin massa di twitter, protes lewat fesbuk, sampai nyatuin informasi dengan wiki. Bentuk sosialisme baru ini bukan hanya karena fesbuk dan twitter, tapi karena internet, produk si kapitalisme sendiri. Fesbuk udah sukses membantu menggalang dukungan pembebasan Ibu Prita. Tapi, di sisi kapitalisnya, fesbuk seperti supermarket serba ada yang mematikan usaha warung-warung sekitar. Chat, foto, share status, notes, kaukus, fan page, dll, yang tadinya disediakan oleh masing-masing "warung" website berbeda, sekarang ada di fesbuk.
Jadi bagaimana website-website itu mau survive? Dari warung-warung yang saya lihat, belum ada yang bisa survive kalau ada supermarket atau mart di sekitarnya. Biasanya pada ganti ke bisnis lain; laundry atau tempat makan. Di sini analogi warung gak bisa dipakai lagi buat blog, jadi saya juga gak tau solusinya. Cuma saya masih kepikiran, jangan-jangan perubahan yang dibawa internet bukan menuju kultur "we are all writers" seperti prediksinya Milan Kundera, yang dijadiin header blognya Gentole, tapi justru ke tradisi "we are all status updaters, or tweeters"?
Some friends asked me what indie music is. Maybe because I mentioned it once when I found out that they listen to Glenn Fredly and Bryan Mcknight. A friend confused of what “indie” is; it’s not a genre, it’s just a kind of paradigm, when the musicians choose not to sell their creation to major label with their huge capital, but prefer instead a less-known record company with less money and whatever modest promotion it does to introduce the album to public. So he can’t distinguish the sound of indie from mainstream music. The other friend thought that indie music means a band that plays indigestible songs with their leather jacket and untidy hair. *sigh
What's so special about karaokeing? To sing a song? Definitely. To ease stress? Might be.Socialization? Yeah it works. So karaoke is best for every one who likes to sing, needs entertainment, and looks for some fun.
Situasi saat ini; kabel tampak bertumpuk di sekitar colokan listrik. Kalau gak rajin dibersihkan, kabel-kabel ini jadi tempat ngumpulnya debu. Emang sih, di kantor (dan katanya di rumah-rumah di negara maju dan yang desainnya rapih... well, gak tau ya, saya gak pernah tinggal di luar negeri atau di rumah yang didisain arsitek), kabel listrik disembunyikan di lantai atau dinding. Tapi kalo kabelnya sudah fixed, jadi gak bisa menata ulang ruangan dengan gampang, yang cukup sering saya lakukan.
Lain lagi charger. Sekarang kalau mau traveling, charger-charger kunyuk itu tidak kalah penting dari celana dalam dan sikat gigi. Saya bahkan punya tas khusus buat para charger, berhubung harus bawa charger laptop yang cukup besar (ok there's this small thing called netbooks now, but what's the size of the charger? same as ever!).
Soal kabel rusak. Foto di samping adalah earphone ke-6 yang saya pakai sejak punya MP3 player tahun 2006. Dan yang ini juga rusak! !@#$%^ Dua kabel kecil itu harusnya menempel pada dua bulatan kecil di lempeng penutup itu (excuse my not-so-technical language). Tadinya yang copot cuma satu kabel, tapi dalam usaha saya masangin kembali si kabel yang copot ke tempatnya, kabel satunya juga copot! Jadi gak napsu lagi ngebenerin. 





