Tuesday, December 24

Ego Reproduksi

Apalah artinya mual, tidak selera makan, makan makanan yang tidak disuka, gagal merayakan ulang tahun perkawinan pertama, tidak bisa ikut shourt course ke luar negeri, menunda traveling selama lebih dari satu tahun, bahkan menunda rencana melanjutkan sekolah, demi untuk si buah hati?

Kenyataannya pengorbanan itu memang lebih berat dilakukan daripada dinyatakan. Setelah 8 bulan lebih mengandung, walaupun mampu (atau terpaksa) melakukan hal-hal berat di atas, saya masih tidak pasrah. Kadang-kadang masih terbayang-bayang indomie, menyimpan iri pada kolega yang tidak sedang hamil dan ikut shourt course di salah satu kota impian saya, dan berjengit setiap kali mendengar kata traveling, Tokyo, Montpellier, umrah, dan berbagai destinasi dalam daftar mimpi-mimpi saya.

Lebih buruk lagi, saya mulai bertanya-tanya, untuk apa manusia punya anak? Dan saya tidak bangga karenanya.

Kenapa pula saya bertanya-tanya seperti itu? Mungkin benar kata temannya Ika, bahwa manusia ingin punya anak hanya karena ego. Karena tidak mau terlantar di hari tua, tidak mau malu dan ditanya-tanya keluarga yang mulutnya usil di setiap acara keluarga, sebagai manifestasi pembuktian diri menjadi orang tua yang sukses mempunyai, membesarkan, dan mendidik anak, hingga alasan eksistensialis seperti untuk “meninggalkan jejak” di dunia yang kita hidupi sangat sebentar ini. Dan karena ego inilah pengorbanan itu rasanya sulit, karena ada hitung-hitungan untung-rugi dan alasan egoistis manusia di belakangnya.

Mungkin lebih enak jadi perempuan-perempuan jaman dulu, atau perempuan-perempuan di kampung yang katanya tidak berpendidikan, yang tidak pernah bertanya-tanya apa gunanya punya anak, atau bahkan mempertimbangkan apakah mau punya anak atau hidup tanpa anak. Mereka sepertinya legowo saja dan lebih matang dalam menerima bahwa salah satu tugas manusia di dunia adalah bereproduksi, tidak seperti manusia-manusia modern yang berfikir logis dan selalu menanyakan segala sesuatunya sehingga membuka pilihan bahwa manusia tidak harus bereproduksi, apalagi menikah, cukup hidup tenang memikirkan diri sendiri saja.

Mungkin ego dan ketidakpasrahan ini hanya masalah saya saja. Saya pun tidak bisa menyalahkan opsi tidak-perlu-bereproduksi-nya manusia modern sebagai penyebab ketidakpasrahan saya sebagai calon ibu, karena di alam bawah sadar, saya sudah sangat menerima konstruksi sosial bahwa manusia akan membentuk keluarga. Toh saya dibesarkan dalam lingkungan yang mempercayai hal itu. Tapi dalam perjalanan hidup, saya tidak bisa menghindari pertemuan dengan perdebatan reproduksi itu.

Yang pertama, dari sebuah serial cheesy tentang tiga saudara cewek penyihir cantik modern yang punya segalanya: kekuatan super di antara penyihir-penyihir, wajah cantik-cantik, dan pacar yang ganteng-ganteng. Suatu hari seseorang meletakkan bayi di pintu rumah mereka, sehingga mereka harus merawat bayi itu sementara. Salah satu dari tiga penyihir ini merawat dengan sangat telaten dan kasih sayang yang mengherankan dua saudaranya. Waktu ditanya kenapa begitu serius mengurus bayi, si penyihir menjawab; “why not? I plan to have one someday.” yang diikuti dengan pandangan melongo saudari-saudarinya.

Pandangan melongonya mereka itu tidak selebar melongonya saya. WTF? “Plan to have a child someday?” So we can choose not to? Ini mungkin salah satu bentuk culture shock saya dengan budaya Barat (atau budaya modern, atau dari manapun pemikiran ini berasal). Saat itu benar-benar mengherankan buat saya bahwa seseorang yang berencana menjadi orang tua bisa membuat heran orang lain.

Itu kejadiannya waktu saya SMA. Semakin dewasa, saya bertemu berbagai macam orang dan menemukan memang ada orang yang memilih untuk tidak berkeluarga. Bertukar pikiran dengan mereka, ditambah dengan sifat saya yang lebih senang menyendiri, introvert, dan bukan familyperson, saya melihat gagasan untuk tidak berkeluarga itu sangat menarik. Tapi tetap saja pikiran saya tidak bisa didekonstruksi. Saya tetap yakin suatu saat saya akan berkeluarga, walaupun itu cuma mengadopsi anak seperti Angelina Jolie sebelum ketemu Brad Pitt.

Sementara itu, film-film Hollywood dengan dialog-dialog pintarnya yang menarik tak henti menyebar doktrin.
A: Why do people get married and have children?
B: Because we don’t want to die alone.
A: Make no mistake. We all die alone.
Damn all those witty conversations! Ada kebenaran pahit di sana.

Tapi sekali lagi, kenyataan bahwa kita semua mati sendirian tidak menyurutkan saya untuk menginginkan keluarga, baik itu hanya pasangan hidup atau hanya anak. Lagipula, ngeliat hasil negatif di testpack itu pedih, jendral.

Kesimpulannya, mau punya anak atau tidak, harusnya tidak perlu ada alasan untuk itu. Seperti kalimat cheesy yang di film-film komedi romantis itu: “I don’t need reason to love you. I love you because I want to.” Harusnya berlaku juga untuk anak. Harusnya manusia gak perlu alasan untuk punya anak. We have kids because we want to. Saya tidak sabar ingin melihat bayi saya seperti saya tidak sabar menunggu hal-hal terbaik dalam hidup saya tanpa memikirkan alasan dan untung-rugi pengorbanan. Pun untuk orang-orang yang memilih hidup sendiri atau nggak punya anak, mereka harus dibebaskan dari kewajiban ngasih alasan!

Monday, May 13

Sirius' Serious Quote


warning: too serious content

“The world isn’t split into good people and Death Eaters.” says Sirius, on Harry’s suspicion on the foul Dolores Umbridge being a Death Eater. Sirius is so right. We might work well with a colleague who is a maniac and hateable. We can’t stop lending a cousin some money to be spent on cigarettes because he loves our children so much.

But I fail to see this in corruption in Indonesian politics. (That’s right I’m writing a blog post about politics). All types of politicians; socialist partisans, moderate intellectuals, preaching leaders, shining prodigies, beauty queens and family loving playboy gamblers seem to corrupt. The only non-corrupts are the social networkers with cool gadgets calling themselves “the people”. All right, maybe that’s the division; the corrupt elites and the clean people. *meh

All I can say is that some of us have fallen into extreme skepticism where no one can be trusted, as we can no longer distinguish the real corrupt politicians and the ones who are framed. Even the fight against corruption is politicized to bring down the rivals. Had it not the case, those lovely criminals work harmoniously together. Instead of checking and balancing, those various groups work side by side to outsmart the rules. It’s not easy to predict the future here. Oh forget the future. We’re still struggling to be insane here in present.

Well, nevermind. I only want to use the Sirius’ quote anyway. I love it so much :) 

*I'm sorry bloggers are not split into thoughtful political writers and careless funny ones ;)

Tuesday, March 12

To swing-type? To sway-type? Or to swipe?


Terserah deh. Terserah asal katanya. Yang jelas saya mau cerita tentang fitur swype-nya Samsung Galaxy. Itu fitur yang kalo ngetik teks jari tinggal diayunkan saja menyentuh huruf demi huruf tanpa harus diangkat jarinya dari satu huruf ke huruf lain, trus nanti si swype yang akan menebak kata yang kita inginkan.

Waktu beli seri Galaxy, swype bukanlah salah satu fitur yang saya pertimbangkan. Ibaratnya mubah, kalo ada tidak apa-apa, kalo tidak ada juga tidak berdosa (ustadz mode on). Setelah beberapa bulan pake, saya menemukan tips-tips penggunaan gadget yang menyarankan Galaxy-ers untuk memakai swype. Berhubung saya masih rada kagok dengan kepindahan dari keypad 123 ke qwerty, rasanya swype adalah jawaban yang tepat.

Setelah pakai swype, kecepatan mengetik saya memang jauh meningkat. Selain juga menguntungkan untuk Galaxy berukuran lebih kecil dari 4 inci. Tapi sayangnya, ada beberapa kelemahan swype yaitu:
  • Pengaturan bahasanya terbatas bahasa wilayah Asia Tenggara dan Timur; Inggris Amerika, Inggris Inggris, Indonesia, Malaysia, Jepang, Korea, Vietnam,Thai,  Tagalog. Yah namanya juga glokalisasi. Padahal ane kan mau pratiquer mon francais dengan bangmas. Terpaksa deh kalo hasrat berbahasa Perancisnya bangkit (yang sebenarnya cuma dua bulan sekali), ngetiknya manual, gak pake swype.
  • Trus, masalah bahasa. Seperti halnya mesin, swype terlalu kaku. Swype nggak tau kalau bahasa Indonesia banyak serapan dari bahasa asing seperti laptop, internet, hotspot. Bahkan kalo mau berbahasa Indonesia yang sudah disesuaikan seperti “unduh” dan “nirkabel”, nggak ada tuh. Mungkin karena penggunaannya kurang populer.
  • Masih masalah bahasa. Selain gak tau bahwa bahasa Indonesia banyak kata-kata serapan, swype juga gak tau kalo bahasa Indonesia banyak kata-kata gaul yang sangat melenceng ejaannya (dan itu belum termasuk bahasa alay ciyus miapah). Terpaksalah kata-kata seperti “emang”, “gue”, dan “pikirin” saya tambahkan ke dalam dictionary. Daripada saya ngirim teks “memangnya saya pikirkan” dan orang jadi gak tau kalo saya lagi sewot. Apalagi kata terpopuler seantero jejaring sosial juga gak ada. Kan malu aja kalo kepasang status: "Aku lagi halau nih."
  • Masalah yang juga parah: bahasa daerah. Jadi, nggak ada bahasa Minang. Apalagi bahasa Minang gaul. Apalagi bahasa Minang alay (ada nggak ya?).
  • Masalah paling akut; bukan bahasa sih. Kadang kalo nge-swype itu kepedean dan pengen cepat, maka hal ini berbahaya buat kata-kata yang mirip dan salah satu hurufnya berdekatan pula. Misalnya "baru" dengan "batu". “Sayang, aku batu mikirin kamu nih.” Kadang malah keketik “Sayang, aku bayi mikirin kamu nih.” Jauh banget kan :(
  • Oh iya, ada masalah bahasa lagi :D Swype gak tau kalo orang Indonesia, apalagi yang tinggal di kota besar, rata-rata suka pake English sekali-sekali. Jadi kadang saya ngetik bahasa Inggris padahal pengaturannya lagi bahasa Indonesia, dan dengan pedenya pencet send. Jadi saya ngirim teks ke teman saya Priska di pagi hari pernikahannya; “good luck for tisu ya!” (Yeah right. Orang merid emang butuh banget tisu. Buat lap keringat, buat lap air mata, buat lap-lapan yang lainnya) Tentu saja yang saya maksudkan adalah “good luck for today”, tapi sebelum ngetik “today”, tombol pengganti bahasa kepencet, dan berubahlah itu settingan dari English ke Indonesia sehingga swype membaca today sebagai tisu.
  • Di antara itu semua, yang lebih aneh lagi, swype ternyata menyimpan bahasa serapan yang saya gak nyangka bakal ada. Sedangkan bahasa Indonesia asli yang seharusnya ada malah nggak ada. Antara kata “demoralisasi” dan “antri”, menurut kamu mana yang lebih mungkin ada? Tentu saja antri bukan? Sayangnya, waktu meng-swype “antri”, yang muncul malah kata "antero", dan saya gak menemukan antri di daftar rekomendasi kata. Kenapa kata demoralisasi yang bakal jarang dipakai di teks malah ada? Ah mungkin kita memang harus lebih sering membahas moral di sms dan group chat. “Hai, gw baru ngelewatin rumah lo nih. Ada demoralisasi apa hari ini?"
Saya sempat nyari-nyari review swype di internet, tapi gak ketemu. Apa orang lain gak ada yang bermasalah seperti saya? Apa cuma saya aja yang pake swype? Sampai saat ini saya masih pake swype sih. Yaa sekali-sekali minta maaf untuk typo kan tak apa. Orang lain banyak yang typo juga kok :)


Saturday, February 2

Between the Mountains and the Sea

So we opted to leave.

My parents did, actually. My mother is so traumatic by the quake and the tsunami prediction frightens her more than all of us. My father built her a house far from the coastal area. From there, we can see Bukit Barisan mountains closer.

The location is within 1 km of a road called "Bypass", built approximately 5 km inland, once intended to be the outer road of the city, since Padang is densely populated along the coast. Although both ends of Bypass; the airport and seaport; are close to the sea, most part of the road is roughly equidistant from the sea and the mountains.

Unsurprisingly, the inland part of the city is becoming more crowded, for which population growth, economic stability, and fear of the tsunami is responsible. Now Bypass is becoming one of the main roads of the city. The bushes and plants that used to decorate the roadside are now gradually replaced by government offices, hospitals, universities, and ruko, most of which are labelled "quake-friendly construction", whatever that means. During busy hours, it is packed by cars and motorcycles. The east of Bypass, which used to be considered hillbilly by the coastal residents, now has many housing complex and residential area. I remember back in 1998, I mocked a friend who lived in a district called Kuranji for their funny accent and not having phone lines. Now my parents' new house is located in the very district.

In my defense, Kuranji now is not the Kuranji in 1998. Around the house, everything is within reach. Traditional market, construction material shops, pulsa sellers, food street vendors, bakery, schools, tailor, not to mention warung. My family, who knows very little about entrepreneurship, wonders how the traders survive. It seems that everyone is selling much more than buying. Or maybe we just don't know the actual numbers. Not that we mind, it's perfect. Or maybe it's only a matter of time until we have our own shop and sell something.

A friend asked me, is it so frightening to live near the sea?

Well, when the quake rarely greets us, or when only the small ones occurred, we forget about the tsunami. We live lively. However, when it rained heavily at night, sometimes the thought of quake and tsunami crossed my mind. I could barely sleep while praying the quake doesn't happen at the time.

Does it mean living far away from the coast is happier?

My mother is calmer. She looks happy. My father is a bit homesick. He keeps seeking reason to visit the old house. My parents don't mind if I live with them. I love the new house. However, my workplace is very close to our old house, only ten minute stroll. So for now, I like being close to work, as long as I forget the fear. Even if fear suddenly comes, we can't just quit doing things, right?

Padang aerial view from the north

Wednesday, October 24

Hussein

Saya gak gampang terkesan dengan pribadi orang-orang terkenal yang sering muncul di TV; aktor, politisi, penyanyi, seniman, presenter, pelawak, atlet, you name it. Karena apapun yang disuguhkan di TV, apalagi infotainment, untuk nyeritain karakter orang itu sehari-hari, tetap saja cerita-cerita yang muncul di TV maupun internet itu cuma seupil dari hidup mereka dan gak cukup untuk menjadikan kita sok kenal dan sok tau tentang mereka.

Jadi saya sungguh ogah menilai seorang seleb baik hati dan tidak sombong ataupun bandel lalu terkesan karenanya. Karakter ini itu yang dicapkan pada diri si tokoh, saya anggap sebagai pengetahuan umum saja, bukan karakter asli yang dikenal baik oleh orang-orang terdekatnya, yang mungkin lebih akurat daripada TV. Beberapa orang terkenal memang punya citra baik di masyarakat. Itu pun ada dua kemungkinan. Pertama, dia memang pintar menunjukkan kelakuannya yang baik-baik saja di depan umum. Kedua, yaa, mungkin memang baik sih, tapi bukan berarti gak ada sifat buruk kan? Ya sama saja seperti orang biasa.

Apapun kemungkinannya, itu bukan urusan saya. Kalo bukan sodara atau temen atau gak akan berurusan, buat apa mencari tau tabiat dan kehidupan aslinya. Apa yang saya idolai dan kagumi adalah hasil karya mereka sejauh yang bisa saya lihat saja; film, lagu, kinerja, prestasi. Kalau ditambah fisik yang ganteng/cantik, ya gak masalah, kan itu memang bisa diliat. Jadi meskipun saya pernah histeris jerit-jerit liat cowok ganteng di TV, tetep saja yang saya jejeritin itu prestasinya bagus. Seperti Iker Casillas dan Joseph Gordon-Levitt. Tuh, nggak gampang kan untuk jadi idola saya. (siapa juga yang mau)

Tapi ada satu cara yang hampir selalu manjur membuat khalayak terkesan. Rendah hati. Yaitu ngeliatin kalo mereka, dewa-dewi figur TV itu, hanyalah manusia biasa seperti kita semua. Terutama dalam politik. Lihat saja di kasus domestik, ada Dahlan Iskan dan Joko Widodo. Dahlan Iskan bahkan gak berkampanye untuk apapun, tau-tau sudah ada usul Dahlan Iskan for 2014! Hanya karena naik ojek dan pakai sepatu kets. Sekarang setelah Jokowi jadi gubernur, ada lagi kompor untuk Dahlan Iskan-Jokowi 2014. Jangan-jangan kalo Si Anak Singkong Chaerul Tanjung juga sering naik ojek, bakal dikomporin juga buat nyapres.

Hal inilah yang akhirnya membuat saya terpaksa mengakui kalau saya memang terkesan sama Obama.

Saya bukan orang Amerika, bukan anggota tim kampanye Obama, sehingga nulis begini dalam bahasa Indonesia gak akan pengaruh apa-apa toh toh toh? :D

Obama dalam setiap kampanye selalu mengutip kisah keluarga dan latar belakangnya. Bahwa ia dari keluarga biasa-biasa saja dan ibunya yang single parent harus berjuang membiayai pengobatan ketika sakit keras. Bahwa ia dulunya mahasiswa kere yang student loan-nya baru lunas pada saat ia menjadi senator. Maka lahirlah kebijakan jaminan sosial Obamacare dan bantuan untuk perguruan tinggi agar lebih terjangkau. Menurut saya sih, untuk orang Amerika, kebijakannya sosialis banget. Tapi tentu saja di Amerika yang menganut political correctness (mohon maaf saya belum nemu bahasa Indonesianya) itu kata S itu masih tabu. Obama pun sadar bahwa dia sangat pro kelas menengah, mengucurkan banyak uang untuk menopang perekonomian dan selalu menekankan kekuatan kelas menengah bagi kemajuan ekonomi nasional, walaupun sering disindir lawan politiknya bahwa kebijakannya sangat tidak Amerika di mana intervensi pemerintah harusnya diminimalkan. Di sini saya kagum terhadap idealismenya yang konsisten, walaupun sangat mungkin Obama memanfaatkan kekacauan yang diakibatkan pemerintahan sebelumnya akibat kebijakan pemerintah minimal demi pembenaran kebijakannya yang intervensionis.

Nilai plus Obama yang cukup penting adalah kemampuan orasi dan menulis yang baik. Sebenarnya sih, tipe orang seperti ini yang lebih mungkin untuk "menipu" khalayak dengan kata-katanya, tul gak sih? Yang ditulis yang baik-baik aja. Apalagi kalo kalian baca bukunya The Audacity of Hope yang berisi nilai-nilai dan harapannya terhadap kemajuan Amerika. Ditambah dengan pengamatan akan pidato-pidatonya dan berbagai talk show yang ia hadiri, bisa dilihat politisi satu ini memang pandai menyampaikan idenya. Dibungkus dalam kata-kata berbunga-bunga tentang harapan. Ditambah dengan cerita mengesankan (atau mengenaskan) ketika ia masih "rakyat biasa". Nah, siapa yang gak mau memilih pemimpin yang pernah dan tau rasanya jadi orang biasa?

Tapi itu kan kampanye.


Tambahan lagi, baru-baru ini saya makin terkesan dengan Michelle Obama. Sudah sering sih saya dengar, Michelle sesungguhnya lebih pintar dari Barack. Michelle for 2008! kata orang ketika kampanye Obama dulu. Obama sendiri mengakui, kalau lawannya Michelle, ia pasti kalah. Gara-gara wawancara terbaru Michelle di David Letterman, bagaimana ia menceritakan masa kecilnya yang biasa-biasa saja, kekagumannya terhadap ayahnya, bagaimana hanya dengan bermain pong berjam-jam dia bisa menghargai hidupnya, membuat kesinisan saya luntur juga. Waktu dia bercerita hal itu, saya melihatnya original dan apolitis. Bahkan ketika ia ditanya tentang kehidupan Gedung Putih, ia bisa menunjukkan bahwa keluarganya tetaplah keluarga biasa, menghadapi masalah-masalah umum dalam membesarkan anak belasan tahun, yang kebetulan saja dikelilingi penjaga keamanan Secret Service.

Tapi, sekali lagi, itu kan masa ketika Obama niat mencalonkan diri lagi.

Saya kembali mengkaji hasil karya atau prestasinya yang bisa saya jadikan dasar penilaian objektif. Tulisan-tulisan Obama waktu belum berniat jadi presidenlah yang membuat saya cukup percaya dengan pengamatan saya yang terbatas. Dari bukunya Dreams from My Father, saya jadi tau idealismenya datang dari kehidupan ekonomi menengah (saya gak bilang seperti orang kebanyakan karena saya gak percaya punya bapak asli dari Afrika dan menghabiskan masa kecil di negeri "eksotis" Indonesia adalah pengalaman biasa bagi orang Amerika). Sewaktu di Harvard, Obama muda menulis tentang pentingnya pengurangan senjata nuklir Amerika. Tulisan ini diunduh salah satu media yang ingin menunjukkan kalau Obama tidak begitu ignorant dalam hubungan internasional, dan menjelaskan tindakannya mengajak Presiden Medvedev untuk mengurangi sepertiga total senjata nuklir jarak jauh yang dipunyai kedua negara. Tapi setelah itu tidak ada lagi tindak lanjut pengurangan senjata nuklir ini karena Amerika sibuk berperang di Afghanistan.

Bagaimanapun, menurut pengamatan pribadi saya, seseorang memang lebih menyenangkan ketika enggak sedang kampanye atau sedang menjabat. Saya justru mengagumi Dahlan Iskan sekarang setelah dia agak kalem dan tidak marah-marah di pintu tol lagi, setelah dikomporin jadi presiden. Jokowi masih menyenangkan dengan logat medoknya itu, tapi saya rasa warga Jakarta masih berharap banyak darinya. Sedangkan Obama, saya tidak sabar menunggunya berhenti jadi presiden, apakah itu setelah term pertama atau kedua. Karena presiden negara adikuasa justru rentan untuk mengkompromi prinsip-prinsip pribadi, dengan banyaknya tekanan dan tuntutan memuaskan berbagai pihak yaitu publik dalam negeri, negara-negara sekutu Amerika, serta mengamankan negaranya dari ancaman. Makanya saya sebal sama para penggemar buta Obama di Indonesia yang menganggap Obama pastilah pro-Palestina karena bapaknya Islam. Yang benar saja.

Makanya, saya tidak peduli Obama terpilih lagi atau tidak. Kalau memang idealis dan tidak mengejar kekuasaan semata, ia akan tetap berusaha berbuat banyak demi idealismenya walau tidak lagi menjabat presiden. Ia bisa mengikuti jejak Bill Clinton saat ini, menjadi duta untuk dirinya sendiri, bukan (atau sedikiiit) representasi kepentingan politik partai atau negara adikuasa. Mungkin nanti setelah idealismenya terwujud, barulah Obama pantas dipertimbangkan jadi pemenang nobel perdamaian.