Wednesday, October 24

Hussein

Saya gak gampang terkesan dengan pribadi orang-orang terkenal yang sering muncul di TV; aktor, politisi, penyanyi, seniman, presenter, pelawak, atlet, you name it. Karena apapun yang disuguhkan di TV, apalagi infotainment, untuk nyeritain karakter orang itu sehari-hari, tetap saja cerita-cerita yang muncul di TV maupun internet itu cuma seupil dari hidup mereka dan gak cukup untuk menjadikan kita sok kenal dan sok tau tentang mereka.

Jadi saya sungguh ogah menilai seorang seleb baik hati dan tidak sombong ataupun bandel lalu terkesan karenanya. Karakter ini itu yang dicapkan pada diri si tokoh, saya anggap sebagai pengetahuan umum saja, bukan karakter asli yang dikenal baik oleh orang-orang terdekatnya, yang mungkin lebih akurat daripada TV. Beberapa orang terkenal memang punya citra baik di masyarakat. Itu pun ada dua kemungkinan. Pertama, dia memang pintar menunjukkan kelakuannya yang baik-baik saja di depan umum. Kedua, yaa, mungkin memang baik sih, tapi bukan berarti gak ada sifat buruk kan? Ya sama saja seperti orang biasa.

Apapun kemungkinannya, itu bukan urusan saya. Kalo bukan sodara atau temen atau gak akan berurusan, buat apa mencari tau tabiat dan kehidupan aslinya. Apa yang saya idolai dan kagumi adalah hasil karya mereka sejauh yang bisa saya lihat saja; film, lagu, kinerja, prestasi. Kalau ditambah fisik yang ganteng/cantik, ya gak masalah, kan itu memang bisa diliat. Jadi meskipun saya pernah histeris jerit-jerit liat cowok ganteng di TV, tetep saja yang saya jejeritin itu prestasinya bagus. Seperti Iker Casillas dan Joseph Gordon-Levitt. Tuh, nggak gampang kan untuk jadi idola saya. (siapa juga yang mau)

Tapi ada satu cara yang hampir selalu manjur membuat khalayak terkesan. Rendah hati. Yaitu ngeliatin kalo mereka, dewa-dewi figur TV itu, hanyalah manusia biasa seperti kita semua. Terutama dalam politik. Lihat saja di kasus domestik, ada Dahlan Iskan dan Joko Widodo. Dahlan Iskan bahkan gak berkampanye untuk apapun, tau-tau sudah ada usul Dahlan Iskan for 2014! Hanya karena naik ojek dan pakai sepatu kets. Sekarang setelah Jokowi jadi gubernur, ada lagi kompor untuk Dahlan Iskan-Jokowi 2014. Jangan-jangan kalo Si Anak Singkong Chaerul Tanjung juga sering naik ojek, bakal dikomporin juga buat nyapres.

Hal inilah yang akhirnya membuat saya terpaksa mengakui kalau saya memang terkesan sama Obama.

Saya bukan orang Amerika, bukan anggota tim kampanye Obama, sehingga nulis begini dalam bahasa Indonesia gak akan pengaruh apa-apa toh toh toh? :D

Obama dalam setiap kampanye selalu mengutip kisah keluarga dan latar belakangnya. Bahwa ia dari keluarga biasa-biasa saja dan ibunya yang single parent harus berjuang membiayai pengobatan ketika sakit keras. Bahwa ia dulunya mahasiswa kere yang student loan-nya baru lunas pada saat ia menjadi senator. Maka lahirlah kebijakan jaminan sosial Obamacare dan bantuan untuk perguruan tinggi agar lebih terjangkau. Menurut saya sih, untuk orang Amerika, kebijakannya sosialis banget. Tapi tentu saja di Amerika yang menganut political correctness (mohon maaf saya belum nemu bahasa Indonesianya) itu kata S itu masih tabu. Obama pun sadar bahwa dia sangat pro kelas menengah, mengucurkan banyak uang untuk menopang perekonomian dan selalu menekankan kekuatan kelas menengah bagi kemajuan ekonomi nasional, walaupun sering disindir lawan politiknya bahwa kebijakannya sangat tidak Amerika di mana intervensi pemerintah harusnya diminimalkan. Di sini saya kagum terhadap idealismenya yang konsisten, walaupun sangat mungkin Obama memanfaatkan kekacauan yang diakibatkan pemerintahan sebelumnya akibat kebijakan pemerintah minimal demi pembenaran kebijakannya yang intervensionis.

Nilai plus Obama yang cukup penting adalah kemampuan orasi dan menulis yang baik. Sebenarnya sih, tipe orang seperti ini yang lebih mungkin untuk "menipu" khalayak dengan kata-katanya, tul gak sih? Yang ditulis yang baik-baik aja. Apalagi kalo kalian baca bukunya The Audacity of Hope yang berisi nilai-nilai dan harapannya terhadap kemajuan Amerika. Ditambah dengan pengamatan akan pidato-pidatonya dan berbagai talk show yang ia hadiri, bisa dilihat politisi satu ini memang pandai menyampaikan idenya. Dibungkus dalam kata-kata berbunga-bunga tentang harapan. Ditambah dengan cerita mengesankan (atau mengenaskan) ketika ia masih "rakyat biasa". Nah, siapa yang gak mau memilih pemimpin yang pernah dan tau rasanya jadi orang biasa?

Tapi itu kan kampanye.


Tambahan lagi, baru-baru ini saya makin terkesan dengan Michelle Obama. Sudah sering sih saya dengar, Michelle sesungguhnya lebih pintar dari Barack. Michelle for 2008! kata orang ketika kampanye Obama dulu. Obama sendiri mengakui, kalau lawannya Michelle, ia pasti kalah. Gara-gara wawancara terbaru Michelle di David Letterman, bagaimana ia menceritakan masa kecilnya yang biasa-biasa saja, kekagumannya terhadap ayahnya, bagaimana hanya dengan bermain pong berjam-jam dia bisa menghargai hidupnya, membuat kesinisan saya luntur juga. Waktu dia bercerita hal itu, saya melihatnya original dan apolitis. Bahkan ketika ia ditanya tentang kehidupan Gedung Putih, ia bisa menunjukkan bahwa keluarganya tetaplah keluarga biasa, menghadapi masalah-masalah umum dalam membesarkan anak belasan tahun, yang kebetulan saja dikelilingi penjaga keamanan Secret Service.

Tapi, sekali lagi, itu kan masa ketika Obama niat mencalonkan diri lagi.

Saya kembali mengkaji hasil karya atau prestasinya yang bisa saya jadikan dasar penilaian objektif. Tulisan-tulisan Obama waktu belum berniat jadi presidenlah yang membuat saya cukup percaya dengan pengamatan saya yang terbatas. Dari bukunya Dreams from My Father, saya jadi tau idealismenya datang dari kehidupan ekonomi menengah (saya gak bilang seperti orang kebanyakan karena saya gak percaya punya bapak asli dari Afrika dan menghabiskan masa kecil di negeri "eksotis" Indonesia adalah pengalaman biasa bagi orang Amerika). Sewaktu di Harvard, Obama muda menulis tentang pentingnya pengurangan senjata nuklir Amerika. Tulisan ini diunduh salah satu media yang ingin menunjukkan kalau Obama tidak begitu ignorant dalam hubungan internasional, dan menjelaskan tindakannya mengajak Presiden Medvedev untuk mengurangi sepertiga total senjata nuklir jarak jauh yang dipunyai kedua negara. Tapi setelah itu tidak ada lagi tindak lanjut pengurangan senjata nuklir ini karena Amerika sibuk berperang di Afghanistan.

Bagaimanapun, menurut pengamatan pribadi saya, seseorang memang lebih menyenangkan ketika enggak sedang kampanye atau sedang menjabat. Saya justru mengagumi Dahlan Iskan sekarang setelah dia agak kalem dan tidak marah-marah di pintu tol lagi, setelah dikomporin jadi presiden. Jokowi masih menyenangkan dengan logat medoknya itu, tapi saya rasa warga Jakarta masih berharap banyak darinya. Sedangkan Obama, saya tidak sabar menunggunya berhenti jadi presiden, apakah itu setelah term pertama atau kedua. Karena presiden negara adikuasa justru rentan untuk mengkompromi prinsip-prinsip pribadi, dengan banyaknya tekanan dan tuntutan memuaskan berbagai pihak yaitu publik dalam negeri, negara-negara sekutu Amerika, serta mengamankan negaranya dari ancaman. Makanya saya sebal sama para penggemar buta Obama di Indonesia yang menganggap Obama pastilah pro-Palestina karena bapaknya Islam. Yang benar saja.

Makanya, saya tidak peduli Obama terpilih lagi atau tidak. Kalau memang idealis dan tidak mengejar kekuasaan semata, ia akan tetap berusaha berbuat banyak demi idealismenya walau tidak lagi menjabat presiden. Ia bisa mengikuti jejak Bill Clinton saat ini, menjadi duta untuk dirinya sendiri, bukan (atau sedikiiit) representasi kepentingan politik partai atau negara adikuasa. Mungkin nanti setelah idealismenya terwujud, barulah Obama pantas dipertimbangkan jadi pemenang nobel perdamaian.

2 comments: