This article just struck me, as I had grown to realization (or cynicism) that Obama's childhood memory in Jakarta would do nothing to his foreign policy:
Of course! It's a brilliant touch of diplomacy! He could gain much from Indonesia's sentimentality of the country's mention in the world (if you don't believe in our easy euphoria on Indonesia's mention overseas, go watch any international badminton match; the audiences blast and rumble, showing much respect to the few athletes who could bring Indonesia internationally). Then who else would get much praise from the country for making it famous not as a source of terrorists and natural disasters, but as a nice friendly country for living? A President of the United States will do.
It's true that Obama's years in Jakarta would contribute nothing to his foreign policy. Had not Indonesia the largest Muslim population in the world, it would remain less important to the US. I was so cynic about Obama's policy toward Indonesia that I forgot our country now plays a more critical role in the Islamic world than the Middle East, thanks to the bombings and fundamentalist movements in our country.
However, if the visit comes true, cynicism remains. What would a POTUS do to overcome extremism here? Obama may be a charismatic leader and great orator, but some groups are less sentimental than others.
beberapa waktu lalu, ibu saya membahas seorang sepupu saya yang jadi sopir angkot.
"kasihan tuh uda xxx, angkotnya sudah jelek, gak ada penumpang yang mau naik, apalagi anak sekolah."
ingatan saya kembali ke masa lalu waktu masih sekolah di Padang. di kalangan anak sekolah, naik angkot jelek dan tidak dihias bisa kena sanksi sosial alias dicap tidak gaul. tidak dihias? yup. angkot-angkot di Padang merupakan seni. seni dekorasi dan seni marketing.
pertama, seni dekorasi. berdasarkan ingatan dan penglihatan saya saja, angkot yang pertama dihias hanya ditempel stiker superbesar di kaca belakangnya atau ditambah bumper di depannya yang dicat warna seronok. setelah itu merambah deh stiker-stiker itu ke kaca depan, kaca samping, bodi samping mobil, bahkan pelek. kalaupun tidak dipenuhi stiker, kacanya pun yang berwarna gelap, sehingga tampak lebih “mahal”. kadang gambar-gambar atau tulisan dekorasi itu bukan hanya stiker yang ditempel, tapi juga dicat!
angkot macam ini tidak lengkap tanpa sound system yg canggih. lagu-lagu di angkot hampir selalu bisa terdengar ke luar. bahkan dari jarak 50 meter. lagunya beragam dari dangdut, dangdut disko, lagu minang, minang disko, pop, rok, disko, alternatif, barat dan indonesia. anak sekolah umumnya cuma mau naik angkot dengan musik keren (maksudnya selain dangdut dan lagu minang). saya ingat seorang sopir angkot mengganti lagu minang yang sedang diputarnya agar anak sekolah mau naik. memang kalau ketahuan naik angkot yang lagi pasang lagu dangdut atau minang, rasanya malu. pernah juga seorang teman sok-sok berjoget mengikuti lagu dangdut di depan sebuah angkot yang ngetem. ternyata ia sedang meledek temannya yang ada dalam angkot itu. saya sendiri, terutama paling sebal kalau terjebak masuk angkot yang sedang memutar lagu Kutang Barendo. kayak gak ada lagu lain aja.
kedua, seni marketing. entah sadar atau tidak, sopir-sopir angkot ini telah mengamalkan integrated marketing system yang mungkin tidak pernah dipelajarinya di bangku kuliah (bukannya meremehkan, tapi kalau mereka punya ilmu manajemen pemasaran, gak bakal jadi sopir angkot). karena penasaran, saya bertanya pada teman yang bapaknya pernah punya armada 12 biskota dan bis antar kota (fyi, yang dihias bukan hanya angkot minivan, tapi biskota juga). katanya memang sopir-sopir itu berinisiatif menghias bis mereka, karena didorong persaingan. menyetir bis dengan hiasan keren, ternyata merupakan prestise bagi sopir-sopir itu. lagipula, hiasan di bis toh berhubungan dengan jumlah penumpang. kalau ada dua bis ngetem; yang satu dihias dan yang satu tidak, maka penumpang akan memilih yang dihias. maka tersingkirlah orang-orang seperti uda saya itu yang masih berpikir kalau menghias angkot cuma added-value. menghias angkot adalah investasi. titik.
oh, ya, soal dekorasi, jangan bayangkan stiker-stiker yang memenuhi badan mobil itu adalah tulisan-tulisan seperti “susah senang berdua” atau “kutunggu jandamu”. beuhhh…! stiker superbesar atau hasil cat yang dipasang di kaca depan atau belakang angkot adalah bentuk logo produk-produk tertentu, walaupun banyak juga yang memasang nama anak. makanya, angkot-angkot itu jadi punya nama. dulu sobat saya si Rika itu punya angkot favorit tiap kali ke rumah saya (jaman dulu memang angkot yang keren cuma yang jurusan rumah saya), namanya OP (dari logo merek baju Ocean Pacific), dan kami pernah menunggu 2 jam untuk angkotnya itu, hanya untuk menemukan bahwa si sopir OP sedang memutar lagu dangdut :D akhirnya Rika memilih menunggu angkot yang lain yang lebih “keren” lagunya. saya juga ingat ada angkot yang memasang logo sendal jepit OGAN di kaca depannya. sudah kayak mobil F1, penuh logo-logo sponsor di badannya. anyway, sopir OP itu tahu tidak ya, kalau brand-nya sudah nancep di kepala si Rika. sama seperti penggemar kopi yang hanya mau beli Starbucks.
dan seperti Starbucks yang diikuti oleh kafe-kafe semacamnya (itu tuh, kafe tempat ngopi atau ngedonat atau ngesandwich yang lebih menjual suasana; enak untuk dijadikan tempat ketemuan dan kongkow2), angkot keren yang dulunya cuma ada di jurusan rumah saya, sekarang sudah menular ke beberapa trayek lain. saudara sepupu yang saya sebut-sebut tadi, trayeknya jauh dari rumah saya, yang dulunya angkotnya memang standar seperti di Jakarta.
dari segi dekorasinya juga udah berkembang. dulu cuma stiker-stiker dan cat serta musik. angkot sekarang sudah ada tivi, video klip, dan tema seperti di foto. apalagi biskota. dulu jaman saya sekolah, biskota memang sudah dihias juga, dengan musik superberisik. terakhir waktu saya ke kampus UNAND (kira2 tahun 2004), biskotanya sudah pakai tivi dan lampu bulat warna warni seperti di klub. untung penumpangnya tidak sampai dugem hehehe...
saya hanya pernah melihat angkot macam ini di cilegon. di tivi juga saya pernah lihat, tapi itu di suatu kota di Sulawesi, saya lupa tepatnya. waktu saya cerita itu di rumah, kakak saya langsung nyeletuk, itu sopirnya pasti orang padang.” :p well well well, apa itu namanya? ekspansi? penciptaan trend? apa culture naik-angkot-harus-yang-keren sudah menular ke kota lain? sama seperti culture koran Kompas. tahu kan koran Kompas? teman saya yang pernah training di sebuah stasiun televisi cerita, waktu semua peserta training disuruh membawa koran, 2/3nya membawa Kompas. ck ck ck...
sayangnya belum ada penjelasan ilmiah mengenai angkot ini. siapa yang memulai? apa memang ada niat menciptakan trend? apa sopir dan saudagar angkot di padang sebegitu makmurnya (wong di jakarta aja sopir angkot masih fokus pada usaha mendapatkan ongkos yang “benar” dari penumpang)? gimana bisa di kota Padang yang orang-orangnya gak konsumtif itu sopir angkotnya mempertahankan "nilai lebih" yang sebenarnya gak perlu2 amat? setidaknya penjelasan ilmiah (sudut pandang bisnis kek, ekonomi kek, atau sosial budaya) akan lebih baik daripada coret-coretan saya yang tidak pernah belajar ekonomi dan marketing ini.
President-elect Barack Obama put the rancor and even some of the rhetoric of the presidential campaign behind him on Monday as he welcomed his chief Democratic adversary into his cabinet and signaled flexibility in his plans to withdraw troops from Iraq...
Kira-kira beberapa bulan yang lalu saya kena tagged oleh teman saya Ika. Tau kan, tagged? Itu tuh, posting 10 hal tentang si pemilik blog, lalu dia akan men-tag 10 teman blogger-nya untuk memposting 10 hal juga di blog masing-masing. Waktu baca posting Ika itu, saya tersanjung tapi bingung. Malas bikinnya euy. Gak kebayang orang se-introvert saya bikin posting kayak gitu. It won’t kill me, I know, tapi kan mallyyuu…:p
Akhirnya saya dapat ide setelah baca blog musik sontoloyo (yap, that’s how the owner define the blog) punya teman saya (actually, itu punya senior saya waktu kuliah, tapi kita tidak saling kenal, nah ada teman saya yang jadi guest blogger tetap di situ, makanya saya baca terus). Blog itu tentang album dari piringan hitam mereka koleksi. Tapi belakangan pemilik blog dan blogger-tamunya yang lagi kuliah master dan Phd di Amerika itu pada sibuk-sibuknya, jadilah mereka posting standar “10-piringan-hitam-yang-sering-saya-putar-saat-ini”.
Tapi saya bukannya mau posting tentang 10 album yang sering saya putar saat ini. Ini lebih spesifik, lagu-lagu yang saya dengar waktu commuting saat ini. Commuting saya sih biasa-biasa aja, jarak relatif dekat, gak makan waktu amat, dan gak lewat 3 propinsi seperti pekerja middle class Jakarta pada umumnya. Lagipula, lagunya tidak sampai 10. mungkin lain kali saya akan menemukan lagu lain yang enak juga didengar di jalan.
Karena waktu commuting saya terbagi sepertiganya jalan kaki dan sisanya dalam angkutan umum, lagu-lagu commuting ini saya bagi menurut jalan kaki atau dalam angkutan. Ohya, berhubung saya pendengar musik yang kurang ngeh sama lirik, penyusunan lagu berikut cuma berdasarkan tempo, mood, irama, dan lain-lain. Jadi bukan lagu-lagu tentang commuting atau travelling lho.
ANGKUTAN
Lagu apapun yang lagi saya sukai saat ini
Untuk pagi-pagi, saya suka memutar apa saja, tergantung lagu apa yang lagi saya suka. Rock, pop, classic, alternatif, punk, dll. Apalagi kalau harus berdiri dalam angkutan yang penuh sesak, mana sempat meraba-raba kantong buat ganti lagu. Let it flow aja lah.
Vrijeman – Sore
Setelah cari-cari info di internet, katanya Vrijeman bahasa Belandanya free man. Dan mungkin diterjemahkan jadi preman? Entahlah. Untuk mengerti lirik lagu ini memang perlu sedikit mikir. Yang jelas, lagu ini enak didengar pagi waktu berangkat kantor atau sore-sore pulang kantor.
La Mème Histoire – Feist
Lagu ini soundtrack-nya Paris Je T’Aime, kumpulan film pendek yang isinya tentang cinta. Cocok banget kalau lagi hujan, trus ngeliat keluar jendela, ngeliat pantulan cahaya di genangan air, atau ngeliat tetesan hujan yang kena sinar lampu kota. Kalau kamu lagi kencan sama pasangan atau gebetan dan terjebak hujan, dengerin lagu ini deh. Dijamin… hm… dijamin apa ya hehehe…
JALAN KAKI
Marquee Moon - Television
Tidak banyak yang kenal band ini, yang jelas band ini salah satu inspirasi The Strokes. Saya pun tidak akan tau kalau tidak diperkenalkan oleh teman saya penulis blog musik tadi. Dia juga yang menyarankan lagu ini didengar sambil jalan kaki. “The rhythm suits your steps,” katanya. Memang benar, saya rasa temponya pas sekali dengan kecepatan langkah saya. Apa temponya sesuai juga dengan kecepatan langkah orang lain? Wah, kurang tahu. Yang jelas, lagu ini saya dengar tidak hanya waktu jalan kaki ke kantor, tapi jalan kaki ke manapun. So, if you ask how fast do I walk, I will say; “I walk as fast as Marquee Moon!”
Neighborhood – Vonda Shepard
dan lagu slow lain dari soundtrack Ally Macbeal. Penonton Ally Macbeal pasti tahu, hampir setiap akhir seri, Ally terlihat berjalan pulang dari kantor ke apartemennya, di jalan yang cuma dilewati satu dua orang, dan selalu diiringi lagu, mostly lagu slow, lalu muncul credit title. Kadang diliatin juga teman-teman Ally yang lain, tapi biasanya mereka jalan sendiri-sendiri, setelah seharian bekerja dan ketemu banyak orang. Adegan ini menurut saya dalem banget. Apalagi kalau scene-nya pas salju mulai turun. Makanya, lagu ini saya sarankan didengerin waktu berjalan di tengah hujan. Serasa kaya adegan di Ally Macbeal, hehehe
Live at Hollywood Bowl – Morrissey
Di konser ini Morrissey nyanyiin beberapa lagu, tapi yang saya punya 1 track untuk semua lagu di konser. Jadi durationnya cukup lama, yang anehnya hampir pas dengan waktu saya commuting. Anyway, saya rasa 2 lagu pertama yaitu The Last of the International Playboy dan satu lagu lagi saya lupa, sangat cocok untuk pagi hari karena iramanya yang cepat dan suara Bang Morri yang masih powerful itu benar-benar memberi semangat. Walaupun gara-gara Marquee Moon saya tidak pernah menemukan lagu lain yang seirama dengan langkah saya, yang penting saya tetap semangat jalan kaki mendengar lagu ini.
Baba O’ Riley – The WHO
Lagu ini merupakan lagu rock yang revolusioner pada jamannya, karena ditambah bunyi-bunyian dari instrumen selain tiga instrumen dalam musik rock yaitu drum, bas, dan gitar. Di Baba O’ Riley ada suara keyboard, biola, dan harmonika. Bunyi-bunyi ini terutama ada di intro dan ending, dengan tempo yang makin lama makin cepat. Benar-benar membuat saya pengen jingkrak-jingkrak. Again, temponya terlalu cepat untuk langkah kaki saya, coz kalo maksa nyamain, saya pasti harus berlari. Yang jelas, jangan dengerin waktu lagi duduk diam. Gak seru…
So, what about you? Siapapun yang baca ini, silakan men-tag diri sendiri...:)